BERITA

Bidang Urusan Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali melaksanakan Kegiatan Dialog Kerukunan Bendesa Adat Zona Timur di Sanggar Kegiatan Belajar, Kabupaten Klungkung, pada tanggal 24 Mei 2019. Zona Timur ini meliputi Kabupaten Klungkung, Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Bangli.

Manajemen Desa Pakraman yang Baik untuk Menjaga Eksistensi Desa Pakraman dan Agama Hindu di Bali

(Ura Hindu) Denpasar, 27 Mei 2019
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali (I Nyoman Lastra, S.Pd, M.Ag) didampingi oleh Kepala Bidang Urusan Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali (Drs. I Dewa Made Nida Udyana, M.Pd.H) dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung (Drs. Ida Bagus Nyoman Gde Suastika, M.Si) selaku tuan rumah, membuka secara resmi Kegiatan Dialog Kerukunan Bendesa Adat Zona Timur yang dilaksanakan di Sanggar Kegiatan Belajar, Kabupaten Klungkung, pada tanggal 24 Mei 2019. Zona Timur ini meliputi Kabupaten Klungkung, Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Bangli.

Sebelum Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali menyampaikan kata sambutan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung menyampaikan perihal keberadaan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung serta adanya Penyuluh Agama Hindu Non PNS yang ditugaskan di desa pakraman, hubungan yang selama ini sudah terjalin dengan baik antara Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung dengan desa pakraman, serta sekilas profil mengenai Kabupaten Klungkung beserta Program Gema Santi.

Selanjutnya, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Bali di awal kata sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh Bendesa Adat karena di tengah-tengah kesibukannya mengelola desa pakraman sudah mau meluangkan waktu untuk dapat menghadiri kegiatan ini. Beliau juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Kepala Bidang Urusan Agama Hindu karena telah memprakarsai kegiatan dialog sebagai salah satu upaya untuk menyatukan pemikiran dan langkah dalam membangun desa pakraman terutama dalam memelihara kerukunan di seluruh wilayah desa pakraman.
 
Dalam pemaparan materi, Beliau mengawalinya dengan menjelaskan perjalanan beberapa tokoh spiritual yang selama kedatangannya di pulau Bali telah memberikan pengaruh yang baik terhadap perkembangan ajaran Agama Hindu serta tatanan kehidupan umat Hindu yang ada di desa pakraman di Bali.  Beberapa tokoh spiritual yang dimaksud adalah Rsi Markandeya, Mpu Kuturan dan Dang Hyang Dwijendra. Selanjutnya, Beliau menyampaikan beberapa hal terkait permasalahan-permasalahan umat Hindu di desa pakraman yang pernah Beliau lihat dan dengar dalam kehidupan sehari-hari. Dari unsur Parahyangan, Beliau melihat sebuah fenomena dimana saat ini semangat beragama umat Hindu di Bali sudah sangat tinggi yang dapat dilihat dari semaraknya pelaksanaan upacara keagamaan di Bali namun sayangnya belum diimbangi dengan pemahaman akan ajaran Agama Hindu yang lebih mendalam. Kondisi tersebut tentu harus segera diperbaiki oleh kita bersama. Beliau juga mengingatkan bahwa agama dan budaya merupakan dua hal yang berbeda namun kedua hal tersebut saling melengkapi. Salah satu contoh yang dijelaskan oleh Beliau adalah terkait ogoh-ogoh. Beliau menegaskan bahwa kita semua harus menghargai pembuatan ogoh-ogoh sebagai bentuk kreativitas, upaya pelestarian budaya Bali dan pembentukan kerukunan pemuda Hindu di Bali. Namun di sisi lain Beliau berharap kesemarakan ogoh-ogoh tidak boleh mengalahkan kekhusukan pelaksanaan ritual upacara keagamaan itu sendiri.

Dari unsur Pawongan, Beliau melihat perbedaan yang begitu besar antara permasalahan yang dihadapi oleh Prajuru Desa Pakraman zaman dulu dan sekarang. Pada zaman dulu, yang dihadapi oleh Prajuru Desa Pakraman terbatas hanya penduduk desa yang beragama Hindu, sebagian besar pekerjaannya bertani, berbudaya Bali yang kental dan rata-rata kurang berpendidikan bahkan  lebih banyak yang buta huruf. Pada zaman sekarang, permasalahan yang dihadapi oleh Prajuru Desa Pakraman lebih kompleks akibat penduduk yang lebih heterogen dengan bahasa, agama, budaya dan pendidikan yang sangat beragam ditambah masuknya unsur politik, ekonomi, sosial dan budaya luar. Namun Beliau berterima kasih karena berkat manajemen Desa Pakraman yang baik, Desa Pakraman dan ajaran Agama Hindu sampai saat ini tetap ajeg. Umat Hindu tetap hidup rukun. Situasi rukun, damai dan aman harus terus dibangun dan menjadi tanggung jawab seluruh komponen masyarakat. Kerukunan yang selama ini dijiwai filosofi ajaran Tat Twam Asi, serta konsep hidup segilik-seguluk sabayantaka dan paras paros sarpanaya, perlu dipertebal kembali dalam penerapannya. 

Dari unsur Palemahan, Beliau berharap dan berusaha mengarahkan agar sebisa mungkin tanah pelaba pura yang ada tetap dipertahankan. Tanah pelaba pura sebaiknya dikembangkan atau dimanfaatkan dengan baik untuk kesejahteraan umat. Beliau juga mengajak seluruh Bendesa Adat untuk bersama-sama memikirkan ide mengenai tanah pelaba pura yang produktif serta upaya membangun inovasi dan potensi ekonomi kreatif Umat Hindu di Desa Pakraman.

Bendesa Adat dalam sesi diskusi dari kegiatan dialog ini diberi kesempatan untuk mengungkapkan permasalahan yang ada di desa pakraman masing-masing. Beberapa hal yang disampaikan oleh Bendesa Adat dalam sesi diskusi kali ini adalah terkait himbauan agar Bendesa Adat tidak terlibat dalam politik praktis; langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menyikapi praktek upacara keagamaan praktis yang mulai dilakukan oleh umat Hindu; langkah-langkah awal untuk membangun ekonomi yang berbasiskan Agama Hindu serta ekonomi kreatif di desa pakraman; upaya mengatasi gangguan internal dan eksternal untuk menjaga eksistensi Agama Hindu di Bali; upaya memantapkan kerukunan umat beragama di desa pakraman melalui kegiatan-kegiatan berbasiskan Agama Hindu dan lain-lain. Semoga keberadaan desa pakraman sebagai kearifan lokal dapat tetap terjaga dengan baik. (ts)
.