Magelang (BIMAS HINDU) – Sebagai upaya mendekatkan generasi muda dengan akar sejarah dan spiritualitas Hindu, Pembimbing Masyarakat Hindu D.I. Yogyakarta menggelar kegiatan "EcoCandi" di Candi Selogriyo, Magelang, Kamis (9/7/2026). Kegiatan ini menjadi media edukasi bagi siswa Pasraman Saraswati dan Pasraman Sri Gading untuk memahami nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur di tengah harmoni alam pegunungan.
Para peserta menempuh perjalanan sejauh dua kilometer dengan menyusuri kawasan persawahan terasering di lereng Gunung Sumbing sebelum mencapai lokasi candi. Sebelum memulai prosesi persembahyangan yang dipimpin oleh Putu Sari, para siswa terlebih dahulu mengikuti prosesi melukat di mata air pegunungan sebagai simbol pembersihan diri.
Program "EcoCandi" dirancang sebagai wadah edukasi untuk mengenalkan situs sejarah peninggalan Hindu kepada generasi penerus sejak dini. Pembimas Hindu D.I. Yogyakarta, Didik Widya Putra, menegaskan bahwa pendidikan sejarah dan penguatan karakter sejak dini merupakan langkah krusial dalam membangun generasi yang berakar kuat pada nilai-nilai Dharma.
"Kegiatan EcoCandi sangat penting sebagai sarana mengenalkan candi-candi Hindu kepada anak-anak sejak dini. Melalui pemahaman terhadap nilai-nilai luhur dan jejak sejarah leluhur, kita berharap Sradha dan Bhakti generasi muda semakin kuat," ujar Didik.
Didik menambahkan, generasi muda adalah pemegang amanah untuk menjaga dan meneruskan sejarah peradaban Hindu. Oleh karena itu, mengenalkan sejarah harus terus digalakkan agar anak-anak memiliki rasa bangga terhadap identitas budayanya.
Usai persembahyangan, para peserta diajak berkeliling kawasan candi untuk mendengarkan edukasi sejarah secara langsung. Putu Sari menjelaskan bahwa Candi Selogriyo merupakan peninggalan Hindu dari abad ke-9 pada masa Kerajaan Mataram Kuno yang berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa. Para siswa tampak antusias menyimak penjelasan mengenai bagaimana peradaban Hindu tumbuh subur di tanah Jawa pada masa silam.
Dengan berlatar belakang panorama pegunungan yang memukau, Candi Selogriyo kini menjadi ruang pembelajaran yang hidup. Melalui program ini, diharapkan para peserta memahami bahwa candi bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan simbol peradaban dan pusat spiritualitas yang harus terus dijaga kelestariannya.