Harkitnas dan Refleksi Diri: Sudahkah Kita Bangkit dari Kemiskinan Mental?

Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas)

Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap tanggal 20 Mei bukan sekadar momentum historis untuk mengenang berdirinya Boedi Oetomo pada tahun 1908. Lebih dari itu, Harkitnas adalah sebuah alarm kesadaran kolektif bagi bangsa Indonesia untuk refleksi diri dan terus bangkit dari keterpurukan, kebodohan, dan perpecahan. Jika ditarik ke dalam ranah spiritual, esensi dari kebangkitan nasional ini memiliki benang merah yang sangat kuat dengan ajaran suci agama Hindu, terutama dalam konsep transformasi kesadaran diri menuju kemaslahatan bersama.

Dalam perspektif Hindu, kebangkitan sebuah bangsa tidak bisa dipisahkan dari kebangkitan kualitas diri manusia-manusianya. Landasan filosofis ini sejalan dengan beberapa pilar ajaran suci yang mampu menjadi motor penggerak nasionalisme dan persatuan.

1. Jatidiri dan Kesadaran Tat Twam Asi sebagai Fondasi Persatuan

Salah satu tantangan terbesar dalam mempertahankan kebangkitan nasional adalah menjaga persatuan di tengah heterogenitas. Di sinilah ajaran Tat Twam Asi (Aku adalah kamu, kamu adalah aku) menemukan relevansinya.

Ketika masyarakat memahami bahwa pada hakikatnya setiap jiwa (Atman) bersumber dari asal yang sama Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) maka sekat-sekat perbedaan suku, ras, dan golongan akan melebur. Kebangkitan nasional dalam konteks modern adalah ketika kita mampu merasakan penderitaan sesama anak bangsa sebagai penderitaan kita sendiri, dan kesuksesan bangsa sebagai kebanggaan bersama. Nilai ini melahirkan empati nasionalisme yang tulus, bukan sekadar slogan.

2. Lepas dari Belenggu Awidya (Kebodohan)

Awal mula penjajahan dan keterpurukan suatu bangsa sering kali disebabkan oleh Awidya, yaitu kegelapan atau kebodohan. Boedi Oetomo dahulu memelopori kebangkitan lewat jalur pendidikan, sebuah gerakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam ajaran Hindu, Awidya adalah musuh utama yang harus diperangi untuk mencapai Jnana (pengetahuan suci dan kebijaksanaan). Kitab suci Bhagawadgita menyebutkan bahwa tidak ada penyuci yang menyamai ilmu pengetahuan. Bangkit secara nasional berarti berkomitmen untuk memberantas Awidya modern: kebodohan aksara, kemiskinan mental, serta penyebaran berita bohong (hoax) yang memecah belah. Masyarakat yang cerdas dan bijaksana (Jnanin) adalah pilar utama bangsa yang berdaulat.

3. Yajna Modern: Pengorbanan Tanpa Pamrih untuk Negara

Para pahlawan pergerakan nasional telah mencontohkan bentuk nyata dari Konsep Niskama Karma berbuat atau berjuang tanpa memikirkan pamrih pribadi, melainkan demi kesejahteraan orang banyak (Lokasamgraha).

Di era mengisi kemerdekaan ini, konsep ini bertransformasi menjadi Yajna (pengorbanan suci). Menjadi pahlawan masa kini tidak harus mengangkat senjata, melainkan dengan menjalankan Swadharma (kewajiban hidup) masing-masing secara profesional dan bertanggung jawab. Seorang aparatur sipil yang berintegritas, pengusaha yang jujur, serta pemuda yang kreatif dan berprestasi, semuanya sedang melakukan Yajna untuk kejayaan negara.

Pada akhirnya, Hari Kebangkitan Nasional adalah momentum untuk merefleksikan kembali cita-cita luhur bangsa. Ajaran Hindu mengajarkan visi global yang melampaui batas ego, yaitu Vasudhaiva Kutumbakam bahwa kita semua bersaudara di bawah kolong langit ini. Namun, untuk bisa berkontribusi pada persaudaraan dunia, kita harus kuat dan bangkit terlebih dahulu sebagai satu kesatuan bangsa.

Memaknai Hari Kebangkitan Nasional melalui ajaran suci Hindu mengajarkan kita bahwa kebangkitan lahiriah (ekonomi, infrastruktur, teknologi) harus ditopang oleh kebangkitan batiniah (karakter, moral, dan spiritual). Ketika Sradha (keyakinan) dan Bhakti (pengabdian) masyarakatnya telah kokoh, maka cita-cita menuju Indonesia Raya yang adil, makmur, dan harmonis bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.

Mari bangkit bersama, menyalakan pelita pengetahuan dalam diri, dan melangkah selaras demi kejayaan Ibu Pertiwi. Moksartham Jagadhita ca iti Dharma.


Opini LAINNYA