Bimbingan Masyarakat Hindu

Meski Hanya 30 Jiwa, Umat Hindu Teluk Bintuni Mantapkan Tekad Laksanakan Ngenteg Linggih

Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Provinsi Papua Barat melaksanakan Program SAMA (Sahaya Prema) dan BISMA (Bincang Santai Permasalahan Umat) di Kabupaten Teluk Bintuni

Teluk Bintuni (Bimas Hindu) – Jumlah umat Hindu di Kabupaten Teluk Bintuni mungkin hanya sekitar 30 jiwa. Jaraknya pun tidak dekat, sekitar 190 kilometer dari Kota Manokwari, ibu kota Provinsi Papua Barat, dengan waktu tempuh darat kurang lebih tujuh jam. Namun, keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangat umat dalam menjaga sraddha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Semangat itu tercermin dari tekad bersama umat untuk melaksanakan Upacara Ngenteg Linggih di Pura Santih Bhuana Bintuni, sebuah upacara penyucian dan penyempurnaan pura yang memerlukan kesiapan spiritual, kebersamaan umat, serta dukungan berbagai pihak.

Tekad tersebut mengemuka saat Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Provinsi Papua Barat melaksanakan Program SAMA (Sahaya Prema) dan BISMA (Bincang Santai Permasalahan Umat) di Kabupaten Teluk Bintuni, Kamis (9/7/2026). Selain menyerahkan bantuan kepada satu orang pinandita, dua orang janda/duda, dan dua orang penjaga pura, kegiatan ini juga menjadi ruang dialog untuk mendengarkan aspirasi dan kebutuhan umat Hindu secara langsung.

Sebagian besar umat Hindu di Teluk Bintuni merupakan personel TNI/Polri, para perantau yang berprofesi sebagai petani, serta pegawai pemerintah daerah maupun instansi vertikal. Dengan semangat gotong royong, mereka telah membangun Pura Santih Bhuana Bintuni sebagai pusat persembahyangan dan pembinaan umat Hindu di wilayah tersebut.

Dalam dialog bersama Pembimas Hindu, umat menyampaikan sejumlah aspirasi, di antaranya kebutuhan guru agama Hindu, ketersediaan buku-buku pendidikan agama Hindu, dukungan terhadap legalitas pasraman, hingga harapan agar Pura Santih Bhuana dapat segera melaksanakan Upacara Ngenteg Linggih.

Ketua PHDI Kabupaten Teluk Bintuni, I.B. Putu Suratna, mengatakan bahwa pelaksanaan Ngenteg Linggih merupakan cita-cita bersama seluruh umat Hindu di Teluk Bintuni.

"Jumlah umat kami memang sedikit, tetapi semangat kami besar. Kami memiliki tekad agar Pura Santih Bhuana dapat melaksanakan Ngenteg Linggih. Saat ini kami sedang menyusun proposal sebagai bentuk ikhtiar untuk mendapatkan dukungan dari Pemerintah Daerah dan Kementerian Agama sehingga cita-cita umat ini dapat terwujud," ujarnya.

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Pembimas Hindu Papua Barat memberikan penjelasan mengenai langkah-langkah yang dapat ditempuh. Terkait kebutuhan guru agama Hindu, dijelaskan bahwa pengangkatan guru di sekolah merupakan kewenangan pemerintah daerah, sedangkan pembinaan pendidikan agama tetap dapat diperkuat melalui guru-guru pasraman. Mengenai bantuan pasraman dan lembaga keagamaan, pengurus didorong membangun sinergi dengan pemerintah daerah melalui pengajuan proposal sesuai ketentuan yang berlaku. Bimas Hindu juga menyatakan kesiapan memberikan pendampingan dalam penyusunan rencana pelaksanaan Ngenteg Linggih, mulai dari koordinasi dengan sulinggih, penyusunan rangkaian upakara, Rencana Anggaran Biaya (RAB), hingga penyempurnaan proposal.

Pembimas Hindu Provinsi Papua Barat, I Gusti Ketut Suardana, mengatakan bahwa semangat umat Hindu Teluk Bintuni menjadi inspirasi sekaligus pengingat bahwa kekuatan sebuah komunitas tidak diukur dari jumlah pemeluknya.

"Saya melihat semangat yang luar biasa dari umat Hindu di Teluk Bintuni. Dengan jumlah umat yang hanya sekitar tiga puluh jiwa, mereka telah memiliki tekad untuk menyempurnakan Pura Santih Bhuana melalui Upacara Ngenteg Linggih. Semangat seperti inilah yang harus kita dukung bersama. Bimas Hindu akan terus hadir memberikan pendampingan sesuai kewenangan, baik dalam penyusunan perencanaan upacara, koordinasi dengan sulinggih, maupun penguatan proposal kepada pemerintah daerah. Kehadiran negara harus dapat dirasakan oleh seluruh umat, tanpa memandang besar atau kecilnya jumlah mereka," tegasnya.

Program SAMA dan BISMA di Teluk Bintuni tidak hanya menjadi sarana penyaluran bantuan sosial dan penyerapan aspirasi umat. Lebih dari itu, program ini memperlihatkan bahwa semangat menjaga dharma terus tumbuh di tengah keterbatasan. Dari sebuah komunitas kecil di ujung Papua Barat, lahir tekad besar untuk menyempurnakan tempat suci sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus memperkuat kehidupan keagamaan umat Hindu bagi generasi yang akan datang.


Berita Daerah LAINNYA