Menag Gagas Ekoteologi: Jaga Bumi Jadi Tanggung Jawab Spiritual

Menag Nasaruddin Umar saat memberikan keynote speech

Tangerang Selatan (Kemenag) -Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menawarkan ide pelestarian lingkungan melalui penguatan konsep ekoteologi. Gagasan ini mengedepankan penyelamatan lingkungan bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi formal, melainkan sebuah panggilan iman dan tanggung jawab spiritual setiap individu untuk menjaga bumi.

Gagasan tersebut disampaikan kembali oleh Menag saat menjadi keynote speech sekaligus membedah tiga buku seri pemikirannya di Auditorium Harun Nasution, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (16/7/2026). Ketiga buku yang diluncurkan tersebut adalah Pikiran yang Memurnikan, Simpul Pemikiran, serta Artikel dan Opini Pilihan.

Menurut Menag, Kementerian Agama berkomitmen kuat untuk menghadirkan visi khas yang mengintegrasikan ajaran agama dengan aksi nyata mitigasi perubahan iklim. Ia menilai kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini telah berdampak serius pada kelangsungan hidup manusia sebagai khalifah di muka bumi.

“Sudah waktunya kita menggunakan bahasa agama untuk menyadarkan orang terhadap betapa pentingnya merawat lingkungan,” ujar Menag.

Menag menjelaskan bahwa keberadaan hukum formal memang krusial. Namun, sentuhan bahasa agama juga menjadi elemen penting dalam membangun sistem kendali moral (moral control system) yang tumbuh dari dalam diri manusia sendiri.

Melalui penguatan kesadaran keagamaan, tindakan merusak alam tidak lagi hanya dipandang sebagai bentuk pelanggaran hukum sosial, melainkan juga sebagai bentuk pertanggungjawaban moral yang besar kepada Sang Pencipta.

Dalam memanfaatkan kekayaan bumi, Menag mengingatkan agar manusia tidak melampaui batas yang telah ditetapkan. Ia membedakan secara tegas antara eksplorasi yang berorientasi pada keberlanjutan masa depan, dengan eksploitasi rakus yang merusak ekosistem secara masif.

Bagi Menag, ekoteologi menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari upaya suci untuk melindungi kehidupan generasi hari ini dan generasi mendatang. Karena isu lingkungan melampaui sekat-sekat batas negara dan kelompok, bahasa keagamaan diyakini mampu menjadi jembatan universal untuk memperkuat tanggung jawab kolektif global.

Di akhir penyampaiannya, Menag berharap gagasan ekoteologi ini dapat terus didiseminasikan dan dikembangkan secara kontekstual, khususnya di ruang-ruang akademik dan perguruan tinggi keagamaan. Melalui penguatan literasi dan pendidikan, sumbangsih pemikiran ini diharapkan mampu melahirkan generasi baru yang memperlakukan alam secara terhormat demi keberlangsungan peradaban umat manusia.


Berita Pusat LAINNYA