Jakarta (BIMAS HINDU) — Kementerian Agama RI melalui Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu menggelar Dialog Islam–Konghucu dengan tema “Membangun Keharmonisan Dunia Berpokok pada Keharmonisan Keluarga” dalam rangka memperingati Hari Lahir Dacheng Zhi Sheng Xian Shi Kongzi Zhi Sheng ke-2576, Jumat (17/10/2025).
Kegiatan yang digelar di Jakarta ini dihadiri oleh Menteri Agama RI, pejabat Eselon I Kementerian Agama, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), tokoh lintas agama, serta narasumber dari Malaysia dan Korea. Tak kurang dari 200 peserta, yang sebagian besar merupakan umat Khonghucu dan tokoh lintas iman, turut mengikuti dialog ini.
Kegiatan dialog ini juga dihadiri oleh Dirjen Bimas Hindu, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan harmoni antarumat beragama di Indonesia. Kehadiran Dirjen Bimas Hindu menunjukkan komitmen nyata Kementerian Agama dalam memperkokoh nilai moderasi beragama melalui dialog lintas iman yang menekankan pentingnya keluarga sebagai pondasi kehidupan berbangsa.

Dalam laporannya, Kepala Pusat Bimbingan dan Pendidikan Khonghucu, Dr. H. Nurudin menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki makna sakral bagi umat Khonghucu. Ia menegaskan, dialog lintas iman tersebut sejalan dengan program prioritas Kementerian Agama dalam memperkuat harmoni antarumat beragama.
“Dialog ini bertujuan untuk saling memahami nilai-nilai Islam dan Khonghucu demi kemaslahatan umat manusia, memperkuat persaudaraan, serta mewujudkan Indonesia yang damai. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan diharapkan menjadi titik temu dalam memahami nilai kemanusiaan dan keharmonisan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Matakin, Xs. Budi Santoso Tanuwibowo dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Menteri Agama atas perhatian yang konsisten terhadap umat Khonghucu.

“Bapak Menteri tidak hanya memperhatikan umat Khonghucu sekarang, tapi sudah sejak lebih dari 30 tahun lalu ketika beliau menjadi dosen. Saat banyak orang belum mengenal agama Khonghucu, beliau sudah membela kami,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa dari berbagai dialog lintas agama yang telah dilakukan, ternyata Islam dan Khonghucu memiliki lebih banyak persamaan dibandingkan perbedaan. “Seperti yang sering disampaikan Bapak Menteri, agama pada hakikatnya adalah cinta,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama mengapresiasi pelaksanaan dialog yang mengangkat tema keluarga sebagai pusat keharmonisan kehidupan.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena berbicara tentang keluarga berarti berbicara tentang dasar berdirinya sebuah negara. Tidak mungkin ada negara yang kuat jika rumah tangganya berantakan,” ujar Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar.
Beliau menekankan pentingnya membangun keluarga yang sakinah dan harmonis melalui keseimbangan nilai dan energi yang ada dalam diri setiap individu.
“Dalam Islam, rumus keluarga sakinah adalah keseimbangan antara cinta rahmah dan cinta mawaddah. Cinta rahmah bersifat lembut, seperti kasih seorang ibu. Sementara cinta mawaddah bersifat tegas, seperti cinta seorang ayah yang mendidik anaknya dengan penuh tanggung jawab. Dalam Khonghucu, konsep ini dikenal sebagai keseimbangan energi yin dan yang. Kedua nilai inilah yang membentuk keluarga yang ideal,” jelasnya.
Menteri Agama menegaskan bahwa keluarga yang kokoh akan melahirkan masyarakat dan negara yang kuat. “Rumah tangga yang harmonis akan melahirkan bangsa yang harmonis. Mari kita perkuat solidaritas, pererat ikatan keluarga, karena keluarga yang kuat adalah fondasi utama bagi kokohnya negara,” pesannya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat dialog lintas agama dapat terus dijaga dan dikembangkan untuk memperkuat harmoni sosial serta memperkaya pemahaman antarumat beragama di Indonesia.
