Menenun Kasih di Atas Perbedaan

Menenun Kasih di Atas Perbedaan

Om Swastyastu

Puja Astuti Angayubagya kita panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena atas asung kerta wara nugraha-Nya kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan penuh makna.

Hari ini, kita akan berbincang tentang sesuatu yang sangat dekat dengan denyut nadi bangsa kita, namun sering kali menjadi tantangan dalam praktiknya. Sebuah tema berjudul "Menenun Kasih di Atas Perbedaan". Mengapa menenun? Karena kasih dalam perbedaan tidak terjadi begitu saja. Ia perlu dijalin helai demi helai dengan kesabaran, ketelitian, dan tentu saja ketulusan.

Umat Sedharma, dalam Hindu kita mengenal konsep adiluhung Tat Twam Asi. Sederhana, namun sangat dalam maknanya: Ia adalah kamu, kamu adalah aku. Di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, perbedaan fisik, suku, golongan, bahkan pilihan keyakinan hanyalah "pakaian" luar.

Bayangkan sebuah taman. Jika hanya ada satu jenis bunga dengan satu warna, tentu akan terasa hambar. Keindahan taman tercipta karena ada mawar yang berduri, melati yang putih bersih, dan kamboja yang harum. Begitu pula kita. Perbedaan bukanlah alasan untuk berjarak, melainkan alasan untuk saling melengkapi.

Kita hidup di negeri yang warna-warni, laksana pelangi. Namun, apakah kita sudah benar-benar menghargai warna di sebelah kita, ataukah kita masih sibuk menganggap warna kita yang paling benar?

Kita tidak menutup mata bahwa di era informasi ini, perbedaan sering kali dijadikan alat untuk memisahkan. Gesekan kecil di media sosial bisa menjadi api yang besar. Mengapa hal ini terjadi? Sering kali karena kita lupa pada ajaran Vasudhaiva Kutumbakam, bahwa seluruh dunia ini adalah satu keluarga besar.

Ketika kita melihat orang lain sebagai "asing" hanya karena mereka berbeda, di situlah bibit kebencian tumbuh. Padahal, Atman yang bersemayam dalam diri saya juga bersemayam dalam diri mereka yang berbeda dari saya. Menyakiti orang lain karena perbedaan sama saja dengan menyakiti percikan Tuhan yang ada di dalam diri kita sendiri.

Sering kali, perbedaan memicu kemarahan. Namun, dalam kitab Sarasamuccaya 121, kita diingatkan untuk tidak membalas api dengan api.

Sila kshama damas tyagah satyamasitathaiwa ca ahimsa’ krodhanam caiva pacyaswa subha laksana

Artinya:

"Karakter orang baik adalah memiliki perilaku yang luhur, pengampun (Kshama), mampu mengendalikan diri, suka berderma, jujur, tidak menyakiti (Ahimsa), dan tidak dikuasai kemarahan."

Menenun kasih membutuhkan benang kesabaran. Tanpa Kshama (pengampunan) dan Akrodha (tidak marah), tenunan kasih kita akan putus oleh ego. Saat seseorang berbeda pendapat dengan kita, di situlah ujian Dharma kita. Apakah kita akan menjadi orang yang Subha Laksana (berkarakter baik) atau justru sebaliknya?

Lalu, bagaimana kita menenun kasih itu dalam keseharian? Mari kita gunakan konsep Tri Hita Karana, khususnya Pawongan.

Mendengar untuk Mengerti. Jangan hanya mendengar untuk membalas argumen. Dengarlah orang lain untuk memahami rasa takut dan harapan mereka.

Berbagi Tanpa Label. Saat kita berdana punia atau menolong sesama, jangan pernah bertanya apa agamanya atau dari mana asalnya. Tuluslah seperti matahari yang menyinari bumi tanpa memilih mana yang harus diterangi.

Menjaga Ucapan (Wacika). Di atas perbedaan, kata-kata yang lembut adalah jembatan terbaik. Hindari kata-kata yang memecah belah.

Jika terjadi perbedaan pendapat, gunakanlah prinsip musyawarah (Mawicara). Hindu mengajarkan kita untuk mengutamakan kedamaian atau Shanti. Menang dalam debat namun kehilangan sahabat bukanlah kemenangan sejati. Kemenangan sejati adalah saat kita mampu menundukkan ego diri sendiri demi keharmonisan bersama.

Menenun kasih di atas perbedaan memang membutuhkan waktu. Kadang jemari kita letih, kadang benangnya kusut. Namun, percayalah, kain yang dihasilkan, yaitu kedamaian hidup, akan jauh lebih indah dan kokoh daripada hidup dalam keseragaman yang dipaksakan.

Mari kita jadikan keberagaman di Indonesia ini sebagai modal utama untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin, Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma.

Menenun kasih di atas perbedaan adalah tugas suci. Jangan tunggu orang lain memulai. Mulailah dari pikiran kita sendiri dengan melihat Atman pada setiap makhluk.

Jadilah seperti air. Air tidak pernah bertengkar dengan wadahnya. Jika diletakkan di gelas, ia berbentuk gelas. Jika di sungai, ia mengalir mengikuti lekuk bumi. Namun, esensinya tetap satu, yaitu memberikan kehidupan.

Mari kita tutup mimbar ini dengan memanjatkan doa bersama.

Om Sarvesam Svastir Bhavatu
Sarvesam Shantir Bhavatu
Sarvesam Purnam Bhavatu
Sarvesam Mangalam Bhavatu

(Semoga semua makhluk berada dalam kesejahteraan, semoga semua mendapatkan kedamaian, semoga semua mendapatkan kesempurnaan, dan semoga semua mendapatkan keberuntungan).

Om Dyauh Shantir Antariksham Shantih
Prithivi Shantir Apah Shantir
Oshadhayah Shantih
Vanaspatayah Shantih
Vishvedevah Shantir
Brahma Shantih
Sarvam Shantih
Shantireva Shantih
Sa Ma Shantir Edhi

Artinya:

"Semoga ada damai di langit, damai di angkasa, damai di bumi, damai di air, damai pada tanaman dan pepohonan. Semoga ada damai pada para Dewa, damai dalam Brahman. Semoga ada damai dalam segala hal. Semoga kedamaian itu senantiasa menyertai kita."

Demikian pesan Dharma yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas kebersamaannya. Apabila ada tutur kata yang kurang berkenan, mohon maaf yang sebesar-besarnya. Mari bersama tetaplah menjadi pribadi yang menebar kasih bagi sesama.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om.

Oleh: Budi Santoso, S.Pd.H.


Dharma Wacana LAINNYA