Saat Langkah Menuju Pura, Hati Menemukan Kedamaian

Ada ketenangan yang hadir ketika hati mendekat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa

Jakarta (Dharma Wacana) - Om Swastyastu. Om Awighnam Astu Namo Siddham, Om Anobhadrah Kratavo Yantu Viswatah. Semoga pikiran yang baik datang segala arah penjuru.

Puji syukur marilah senantiasa kita panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, karena atas anugerah, kasih sayang, dan tuntunan-Nya kita masih diberikan kesehatan, kekuatan, serta kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan penuh makna. Semoga pada kesempatan yang baik ini, pikiran kita menjadi jernih, hati kita dipenuhi ketulusan, dan setiap kata yang kita dengarkan menjadi tuntunan dalam menjalankan Dharma.

Umat sedharma yang saya hormati, dimanapun berada. Dalam kehidupan yang semakin sibuk seperti sekarang, manusia sering kali disibukkan oleh pekerjaan, urusan keluarga, tuntutan ekonomi, bahkan hiruk-pikuk media sosial. Akibatnya, hati menjadi lelah, pikiran dipenuhi kegelisahan, dan jiwa kehilangan ketenangan.

Di tengah kondisi seperti itu, agama Hindu mengajarkan bahwa salah satu jalan untuk mengembalikan keseimbangan lahir dan batin adalah dengan melangkahkan kaki menuju pura. Pura bukan sekadar bangunan suci, tetapi merupakan tempat umat mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tempat membersihkan pikiran, memperkuat keyakinan, dan memperoleh kedamaian sejati.

Pada kesempatan kali ini saya Sri Warini, Penyuluh Agama Hindu pada Kantor Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah akan menyampaikan renungan dharma dengan judul “Saat Langkah Menuju Pura, Hati Menemukan Kedamaian.”

Saudara umat sedharma, mengapa hati menjadi damai ketika berada di pura? Karena ketika memasuki halaman pura, sesungguhnya kita sedang meninggalkan berbagai beban duniawi. Kita belajar merendahkan ego, mengendalikan amarah, menenangkan pikiran, dan menyerahkan segala hasil usaha kepada kehendak Tuhan.

Dalam suasana hening, harum dupa, serta doa-doa yang dipanjatkan menghadirkan energi spiritual yang menenangkan batin. Namun sesungguhnya, ketenangan itu bukan muncul karena bangunan puranya semata, melainkan karena hati kita mulai menyadari kehadiran Tuhan.

Kitab suci mengingatkan pentingnya menjalankan kehidupan berlandaskan Dharma. Manawa Dharmasastra VI.92 menyebutkan, “Kesabaran, pengampunan, pengendalian diri, tidak mencuri, kesucian, pengendalian indria, kebijaksanaan, pengetahuan, kejujuran, dan tidak mudah marah merupakan sepuluh ciri utama Dharma.”

Umat sedharma yang berbahagia, perhatikan bahwa salah satu ciri Dharma adalah pengendalian diri. Ketika kita datang ke pura, kita sedang melatih pengendalian diri itu. Kita belajar berbicara dengan lembut, berpakaian sopan, menjaga pikiran tetap suci, serta menghormati sesama umat yang sedang bersembahyang.

Itulah sebabnya perjalanan menuju pura bukan hanya perjalanan kaki, tetapi perjalanan hati. Sering kali seseorang datang ke pura dengan membawa berbagai persoalan. Ada yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, sakit, konflik keluarga, pekerjaan yang belum berhasil, bahkan kehilangan orang yang dicintai.

Namun setelah duduk bersila, memejamkan mata, mengucapkan mantra, dan menghaturkan sembah bhakti, perlahan hatinya menjadi lebih ringan. Mengapa demikian? Karena doa bukan sekadar meminta, melainkan juga belajar menerima. Di pura kita belajar berserah diri kepada kehendak Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kedamaian sejati tidak selalu berarti semua masalah selesai. Kedamaian adalah ketika hati mampu menerima keadaan sambil tetap berusaha menjalankan Dharma.

Umat sedharma yang berbahagia, datang ke pura juga menjadi sarana introspeksi. Kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah saya berkata jujur? Sudahkah saya menghormati orang tua? Sudahkah saya bekerja dengan tulus? Sudahkah saya memaafkan orang lain? Sudahkah saya bersyukur atas apa yang saya miliki?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadikan hati semakin dewasa. Bila seseorang rajin datang ke pura tetapi masih mudah marah, gemar menyakiti orang lain, suka menyebarkan kebencian, berarti nilai-nilai persembahyangan belum sepenuhnya meresap dalam kehidupan.

Persembahyangan yang sejati harus tampak dalam perilaku sehari-hari. Di rumah menjadi anggota keluarga yang penuh kasih, di tempat kerja menjadi pribadi yang jujur, di masyarakat menjadi warga yang suka menolong, dan di media sosial menjadi pribadi yang bijaksana. Itulah makna Dharma yang sesungguhnya.

Para pendengar yang saya hormati, dalam tradisi Hindu dikenal istilah Tri Kaya Parisudha, yaitu menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Saat menuju pura, sesungguhnya ketiga hal itu sedang kita latih. Pikiran diarahkan kepada Tuhan, ucapan dipenuhi doa dan mantra, dan perbuatan diwujudkan melalui sembah bhakti yang tulus.

Semakin sering seseorang melatih Tri Kaya Parisudha, semakin damai pula kehidupannya. Kedamaian bukan dicari di luar diri, tetapi tumbuh dari hati yang bersih.

Umat sedharma yang berbahagia, pura juga mengajarkan persaudaraan. Di pura tidak ada perbedaan kaya dan miskin, tidak ada perbedaan jabatan, dan tidak ada perbedaan kedudukan. Semua duduk bersimpuh dengan kerendahan hati di hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Hal ini mengajarkan bahwa di hadapan Tuhan semua manusia adalah sama. Oleh sebab itu marilah kita menjadikan pura bukan hanya tempat memohon berkah, tetapi juga tempat membangun karakter, mempererat persaudaraan, dan memperkuat semangat gotong royong.

Mari ajak anak-anak kita sejak dini mencintai pura. Biarkan mereka mengenal nilai-nilai Dharma melalui pengalaman nyata. Karena anak yang tumbuh dekat dengan pura akan lebih mudah memahami rasa hormat, disiplin, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Saudara-saudara umat sedharma, ketika langkah kaki menuju pura dilakukan dengan hati yang tulus, sesungguhnya setiap langkah itu menjadi yadnya. Setiap doa menjadi kekuatan. Setiap persembahan menjadi ungkapan syukur. Dan setiap kepulangan dari pura hendaknya membawa tekad untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelumnya.

Marilah kita tidak hanya datang ke pura ketika mengalami kesulitan, tetapi juga ketika memperoleh kebahagiaan. Bersyukur adalah bentuk bhakti yang paling indah.

Semoga setiap langkah kita menuju pura benar-benar menjadi perjalanan spiritual yang menghadirkan ketenangan, kebijaksanaan, dan kebahagiaan dalam kehidupan.

Pantun Penutup

Ke sawah pagi membawa cangkul, burung berkicau di atas dahan. Rajin sembahyang ke pura yang luhur, hati damai penuh ketenteraman.

Bunga melati harum mewangi, mekar indah di halaman pura. Mari berbuat baik setiap hari, agar hidup penuh berkah dan bahagia.

Demikian Renungan Dharma yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini. Apabila dalam penyampaian terdapat tutur kata yang kurang berkenan, kekeliruan dalam pengucapan maupun penyampaian, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya.

Akhir kata, marilah kita senantiasa memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa semoga kita semua diberikan kesehatan, kerukunan, kebijaksanaan, serta kekuatan untuk selalu berjalan di jalan Dharma.

Lokah Samastah Sukhino Bhavantu.

Semoga semua makhluk di seluruh alam semesta berbahagia.

Om Santih, Santih, Santih Om.

Semoga damai di hati, damai di dunia dan damai selamanya

 

Penulis : Sri Warini, S.Sos.

Penyuluh Agama Hindu Jawa Tengah


Dharma Wacana LAINNYA