Simakrama dan Ngelawar di Pura Giri Kusuma, Tradisi yang Menyatukan Umat dan Menjaga Warisan Hindu

Ngelawar bukan sekadar mengolah makanan, tetapi menjaga tradisi, mempererat kebersamaan, dan membangun kemandirian umat.

Bogor (Bimas Hindu) - Dirjen Bimas Hindh Kemenag, Prof. I Nengah Duija, mengajak umat Hindu untuk menjaga tradisi ngelawar sebagai bagian dari warisan budaya dan praktik keagamaan yang memiliki nilai historis. Pesan tersebut disampaikan saat menghadiri Simakrama dan Ngelawar Bersama di Pura Giri Kusuma, Kota Bogor, Minggu (20/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Dirjen Bimas Hindu tidak sekadar hadir dan menyampaikan pesan, tetapi terjun langsung mengolah lawar bersama umat. Momen itu berlangsung dalam suasana akrab dan penuh kebersamaan, mempertemukan jajaran Ditjen Bimas Hindu dengan umat Hindu Kota Bogor melalui tradisi yang telah lama hidup dalam masyarakat Hindu.

“Mengapa orang Hindu harus ngelawar? Karena ngelawar itu bukan tradisi baru. Dalam kisah Mahabharata, Bima ketika menyamar di Wirata menjadi tukang masak. Dari sana kita mengenal Bima sebagai salah satu tokoh yang dikaitkan dengan tradisi mengolah makanan, termasuk lawar,” ujar Prof. Duija.

Menurutnya, lawar tidak semata-mata dipahami sebagai makanan, tetapi memiliki keterkaitan dengan tradisi, upacara, dan kehidupan sosial keagamaan umat Hindu. Beragam jenis olahan dalam tradisi Hindu menunjukkan bahwa pengetahuan tentang bahan, proses pengolahan, hingga penggunaannya dalam upacara merupakan bagian dari kebudayaan yang perlu terus diwariskan.

Prof. I Nengah Duija juga menyoroti tantangan keberlanjutan tradisi di tengah berkembangnya industri budaya dan semakin luasnya produksi kebutuhan upacara secara komersial. Menurutnya, umat perlu membangun kembali kemandirian dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Dalam Bhagawad Gita 9.26 dijelaskan bahwa  Hindu harus memiliki empat hal yaitu Patram = Sehelai Daun  , Puspam = Sekuntum Bunga, Phalam = Buah , dan Toyam = Air. Nilai dari sebuah persembahan bukanlah pada bentuk atau harganya, melainkan pada tingkat ketulusan, cinta, dan kemurnian pikiran orang yang mempersembahkannya. Karena itu, pura maupun lingkungan tempat tinggal umat sebaiknya memiliki tanaman yang dapat mendukung kebutuhan kehidupan dan upacara, sehingga kita tidak selalu bergantung pada pasar," Katanya.

Ia menilai kemandirian tersebut bukan berarti menutup diri dari aktivitas ekonomi, melainkan mendorong umat agar mampu menjadi bagian dari rantai produksi kebutuhan keagamaan. Dengan demikian, tradisi tidak hanya dipertahankan secara simbolis, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Hindu.

“Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen dari kebutuhan budaya kita sendiri. Kalau bahan-bahan yang kita perlukan bisa ditanam dan diproduksi sendiri, kita bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga membangun kemandirian umat,” tutur Prof. Duija.

Sementara itu, Ketua Banjar Pura Giri Kusuma menyampaikan bahwa kegiatan ngelawar bersama menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarmasyarakat Hindu di Kota Bogor. Ada sekitar 300 warga yang hadir. Ini sangat baik untuk menjaga simakrama dan kebersamaan warga Hindu se-Kota Bogor,” ujarnya.

Simakrama dan Ngelawar Bersama di Pura Giri Kusuma turut diikuti Direktur Pendidikan Hindu, Sekretaris Ditjen Bimas Hindu, Kasubdit Kelembagaan, jajaran pegawai Ditjen Bimas Hindu, serta umat Hindu Kota Bogor.

Keterlibatan langsung jajaran Ditjen Bimas Hindu dalam proses ngelawar menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan dengan umat sekaligus menghidupkan kembali nilai gotong royong dalam praktik kebudayaan Hindu. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas memasak bersama, tetapi juga ruang untuk berbagi pengetahuan, memperkuat hubungan sosial, dan menjaga kesinambungan warisan budaya Hindu di tengah perubahan zaman.


Berita Pusat LAINNYA