Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang jatuh setiap tanggal 1 Mei sering kali identik dengan aksi massa, tuntutan kesejahteraan, dan evaluasi kebijakan ketenagakerjaan. Namun, jika kita menyelami lebih dalam ke dalam kearifan ajaran agama Hindu, bekerja bukan sekadar upaya mencari materi (Artha), melainkan sebuah bentuk pengabdian suci yang disebut dengan Karma Yoga.
Dalam perspektif Hindu, buruh atau pekerja bukanlah sekadar roda penggerak ekonomi, melainkan manifestasi dari semangat pelayanan kepada alam semesta. Setiap individu memiliki Swadharma / kewajiban spesifik yang melekat pada peran sosial dan profesionalnya masing-masing. Seorang pekerja yang menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab sejatinya sedang melakukan pemujaan kepada Tuhan.
Dalam Kitab Bhagavad Gita (III.8) menegaskan pentingnya tindakan atau kerja:
niyataṁ kuru karma tvaṁ karma jyāyo hy akarmaṇaḥ śarīra-yātrāpi ca te na prasidhyed akarmaṇaḥ
Artinya: "Laksanakanlah tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan, karena melakukan aktivitas lebih baik daripada tidak bekerja. Bahkan demi mempertahankan jenjang kehidupan pun, seseorang tidak akan berhasil tanpa bekerja."
Sloka ini mengingatkan kita bahwa martabat seorang manusia terletak pada kerjanya. Hari Buruh seharusnya menjadi momentum bagi para pemberi kerja (majikan) untuk menghormati martabat tersebut, dan bagi para pekerja untuk menyadari bahwa keringat mereka adalah persembahan (Yadnya).
Hindu sangat menekankan konsep Tat Twam Asi (Aku adalah kamu, kamu adalah aku). Dalam konteks ketenagakerjaan, prinsip ini menuntut adanya empati yang mendalam antara pengusaha dan pekerja. Jika pengusaha menyakiti atau mengeksploitasi pekerjanya, ia sejatinya sedang menyakiti dirinya sendiri dan mengabaikan Atman yang ada dalam diri sesama.
Pemberian upah yang layak dan perlakuan yang manusiawi adalah implementasi dari Dharma. Kitab Niti Sastra memberikan peringatan halus mengenai pentingnya memperhatikan kesejahteraan mereka yang membantu kita:
"Seseorang yang ingin mencapai kemajuan harus menjaga perasaan dan kesejahteraan bawahannya, karena tanpa dukungan mereka, sebuah pohon besar sekalipun akan tumbang saat badai menerjang."
Salah satu tantangan terbesar dalam dunia kerja modern adalah stres dan persaingan yang tidak sehat. Di sinilah ajaran Karma Yoga menjadi relevan. Hindu mengajarkan agar kita bekerja dengan sungguh-sungguh namun tidak diperbudak oleh hasil (Phala).
Dalam Kitab Bhagavad Gita (II.47) disebutkan:
karmaṇy-evādhikāras te mā phaleṣu kadācana mā karma-phala-hetur bhūr mā te saṅgo ’stv akarmaṇi
Artinya: "Engkau berhak melakukan tugas kewajibanmu, tetapi engkau tidak berhak atas hasil kerja itu. Janganlah sekali-kali pahala itu menjadi motifmu dalam bekerja, dan jangan pula terikat pada ketidak-kerjaan (berdiam diri)."
Pesan ini bukan berarti pekerja tidak boleh menuntut upah, melainkan sebuah ajakan moral agar dalam menuntut hak, kita tidak kehilangan kendali diri dan tetap mengedepankan etika. Sebaliknya, bagi pemberi kerja, ayat ini adalah teguran agar tidak menahan hak pekerja, karena hasil yang diperoleh adalah milik bersama secara karmis.
Peringatan May Day dalam kacamata Hindu harus bermuara pada Tri Hita Karana, khususnya Pawongan (hubungan harmonis sesama manusia). Hubungan industrial yang ideal bukanlah hubungan atasan-bawahan yang bersifat transaksional eksploitatif, melainkan hubungan kemitraan yang saling menghidupi.
Mari jadikan kerja sebagai jalan pendakian spiritual, di mana hak dihormati, kewajiban dijalankan, dan kesejahteraan menjadi milik bersama demi tegaknya Dharma di muka bumi