Kupang (Bimas Hindu) - Menjelang perayaan Hari Raya Galungan, umat Hindu diajak untuk memaknai hari suci tersebut tidak hanya sebagai rangkaian upacara keagamaan, tetapi juga sebagai momentum memperkuat spiritualitas, menebarkan nilai-nilai dharma, dan membangun harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Pesan tersebut disampaikan Pembimas Hindu Provinsi NTT, I Ketut Suji, saat menjadi narasumber dalam program televisi Mimbar Agama Hindu yang disiarkan TVRI Kupang, Kamis (4/6/2026).
Mengangkat tema “Galungan Menebar Dharma untuk Harmoni”, dialog tersebut membahas makna filosofis Hari Raya Galungan, rangkaian upacara yang menyertainya, hingga relevansinya dalam kehidupan umat Hindu di tengah dinamika sosial saat ini.
Dalam pemaparannya, I Ketut Suji menjelaskan bahwa Galungan merupakan salah satu hari suci yang memiliki kedudukan penting dalam ajaran Hindu karena menjadi simbol kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (ketidakbenaran). Momentum ini menjadi pengingat bagi umat untuk terus memperkuat keyakinan dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, menghormati leluhur, menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama, serta merawat keseimbangan alam semesta.
“Galungan bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi momentum untuk melakukan refleksi diri sekaligus memperkuat komitmen dalam menjalankan nilai-nilai Dharma di tengah kehidupan sehari-hari. Kemenangan Dharma atas Adharma harus tercermin dalam sikap, perilaku, dan tindakan nyata,” ujar I Ketut Suji.
Ia menjelaskan bahwa perayaan Galungan tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari rangkaian panjang upacara yang dimulai sejak Tumpek Wariga hingga Pegat Wakan. Setiap tahapan memiliki makna spiritual yang mendalam sebagai proses penyucian diri dan lingkungan.
Rangkaian tersebut meliputi Sugian Jawa, Sugian Bali, Penyekeban, Penyajaan, Penampahan Galungan, Hari Raya Galungan, Kuningan, hingga Pegat Wakan yang menandai berakhirnya seluruh prosesi. Menurutnya, seluruh tahapan itu mengajarkan umat untuk senantiasa menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan sebagai fondasi kehidupan yang harmonis.
“Setiap rangkaian upacara memiliki tujuan untuk menyucikan diri, meningkatkan kesadaran spiritual, serta mempererat hubungan manusia dengan Tuhan, leluhur, sesama manusia, dan alam lingkungan,” jelasnya.
Dalam dialog tersebut, I Ketut Suji juga meluruskan pemahaman masyarakat terkait waktu persembahyangan pada Hari Raya Galungan dan Kuningan. Berdasarkan Lontar Sundarigama, kata dia, tidak terdapat ketentuan khusus yang membatasi waktu persembahyangan saat Galungan. Namun, pada Hari Raya Kuningan, persembahyangan dianjurkan dilaksanakan sebelum tengah hari karena diyakini para leluhur dan para bhatara telah kembali ke kahyangan setelah waktu tersebut.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kemenangan Dharma atas Adharma harus dimulai dari kemampuan manusia mengendalikan Sad Ripu, yakni enam musuh dalam diri yang terdiri atas kama (nafsu), loba (keserakahan), krodha (kemarahan), moha (kebingungan), mada (keangkuhan), dan matsarya (iri hati). Menurutnya, berbagai sifat tersebut dapat menjadi penghalang bagi seseorang dalam menjalankan ajaran Dharma secara konsisten.
Karena itu, umat Hindu didorong untuk terus memperdalam pemahaman agama, belajar kepada guru yang kompeten, serta membiasakan diri menanamkan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Perjuangan melawan Adharma sesungguhnya dimulai dari dalam diri sendiri. Ketika mampu mengendalikan Sad Ripu, maka nilai-nilai Dharma akan tumbuh dan menjadi pedoman dalam setiap tindakan,” katanya.
Selain aspek spiritual, I Ketut Suji menekankan bahwa nilai harmoni yang terkandung dalam Hari Raya Galungan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sosial. Harmoni tersebut mencakup hubungan yang baik antarumat beragama, kepedulian terhadap lingkungan, serta penguatan solidaritas dan persaudaraan di tengah masyarakat.
Ia mengapresiasi kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur yang selama ini dikenal memiliki tingkat toleransi yang tinggi. Menurutnya, suasana kerukunan yang terjaga menjadi modal penting dalam membangun kehidupan berbangsa yang damai dan saling menghormati.
Pada kesempatan itu, ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah terhadap pelaksanaan hari-hari suci keagamaan Hindu melalui kebijakan hari libur nasional, cuti bersama, dan libur fakultatif yang memungkinkan umat menjalankan kewajiban keagamaannya dengan lebih baik.
Menutup dialog, I Ketut Suji mengajak umat Hindu, khususnya generasi muda, untuk memanfaatkan momentum Galungan sebagai sarana memperkuat spiritualitas, memperdalam pemahaman ajaran agama, dan memperkokoh keharmonisan sosial.
Ia menegaskan bahwa pelaksanaan upacara keagamaan hendaknya dilandasi oleh Sradha (keyakinan), Lascarya (ketulusan), dan Sastra (berpedoman pada ajaran suci), sehingga tidak hanya menjadi tradisi seremonial, tetapi juga mampu membentuk karakter dan kualitas kehidupan umat.
#Bimas Hindu #Pembimas Hindu NTT