Makassar (Bimas Hindu) — Dalam upaya mencetak generasi penerus yang berkarakter luhur, memiliki kedalaman spiritual, serta berjiwa nasionalis, jajaran Bimas Hindu Sulawesi Selatan mengintensifkan supervisi mutu pendidikan keagamaan anak usia dini. Langkah strategis ini diwujudkan melalui peninjauan langsung standar layanan dan kurikulum di Pratama Widyalaya Dharma Widya Makassar, Senin (12/10/2026).
Peninjauan ini dirancang untuk memastikan pelaksanaan proses belajar mengajar pada satuan pendidikan Widyalaya berjalan secara kondusif, menyenangkan, serta berlandaskan pada prinsip pendidikan inklusif. Selain memantau kedisiplinan dan pembentukan karakter peserta didik melalui kegiatan apel pagi, langkah ini menjadi bagian dari komitmen kelembagaan dalam menjamin ketersediaan fasilitas belajar yang aman dan ramah anak.
Perwakilan Bimas Hindu Sulawesi Selatan menegaskan bahwa satuan pendidikan keagamaan harus mampu menjadi ruang tumbuh yang adil dan terbuka bagi seluruh anak tanpa membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi.
“Pendidikan Widyalaya harus menjadi rumah kedua yang inklusif dan ramah anak. Setiap peserta didik memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan agama yang bermutu. Pembentukan karakter nasionalisme, toleransi, dan empati harus ditanamkan sejak usia dini agar lahir generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mencintai tanah air dan menghargai keberagaman,” tegas perwakilan Bimas Hindu di lokasi kegiatan.
Pihak pengelola Pratama Widyalaya Dharma Widya menyambut baik pendampingan berkala tersebut. Sinergi antara pemangku kebijakan keagamaan dan pengelola sekolah dinilai memberikan dorongan motivasi bagi para pendidik untuk terus mengintegrasikan nilai-nilai Dharma dengan semangat kebangsaan dalam kurikulum harian.
Melalui pengawasan dan pendampingan yang berkesinambungan pada lembaga pendidikan keagamaan di seluruh daerah, Bimas Hindu berkomitmen untuk terus meningkatkan mutu Widyalaya sebagai fondasi utama dalam melahirkan tunas-tunas bangsa yang suputra dan berintegritas tinggi.
Kontributor: I Ketut Artana Muliadi