Depok (Bimas Hindu) — Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu terus memperkuat kualitas sumber daya manusia keagamaan Hindu melalui peningkatan kompetensi Sarathi Banten. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Peningkatan Kompetensi SDM Sarathi Banten Indonesia Tahun 2026 bertema “Makna dan Filosofi Banten Pulogembal dalam Pelaksanaan Upakara Yadnya” yang berlangsung di Wantilan Pura Amerta Jati, Cinere, Depok, Sabtu (4/7).
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Direktur Urusan Agama Hindu Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, Ida Bagus Ketut Drana Arimbawa, mewakili Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, didampingi Kepala Subdirektorat Kelembagaan Direktorat Urusan Agama Hindu, Wayan Budiantara.
Dalam sambutannya, Drana Arimbawa menegaskan bahwa peningkatan kompetensi Sarathi Banten merupakan bagian dari strategi Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dalam membangun sumber daya manusia keagamaan yang tidak hanya memiliki keterampilan membuat banten, tetapi juga memahami tattwa, susila, dan filosofi yang terkandung dalam setiap sarana upakara.
Menurutnya, Sarathi Banten memiliki posisi strategis dalam menjaga kualitas pelaksanaan yadnya karena banten bukan sekadar perlengkapan ritual, melainkan simbol bhakti yang mengandung nilai spiritual, etika, dan pendidikan keagamaan bagi umat Hindu. Penguatan kapasitas Sarathi Banten juga sejalan dengan arah kebijakan Ditjen Bimas Hindu Tahun 2025–2029, khususnya dalam mendukung implementasi Asta Program Prioritas Kementerian Agama melalui penguatan Ekoteologi, Cinta Kemanusiaan, dan Pemberdayaan Ekonomi Umat.
“Sarathi Banten tidak cukup hanya mampu membuat banten. Yang jauh lebih penting adalah memahami makna filosofisnya. Banten bukan sekadar perlengkapan ritual, melainkan wujud bhakti yang tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ketika filosofi dipahami, maka setiap upacara akan memiliki kualitas spiritual yang lebih bermakna,” tegas Drana Arimbawa.
Mengangkat tema “Makna dan Filosofi Banten Pulogembal dalam Upakara Yadnya”, kegiatan ini menghadirkan Ida Pandita Empu Agre Dwijananda sebagai narasumber utama. Banten Pulogembal merupakan salah satu sarana upacara penting dalam tradisi Hindu yang digunakan pada tingkatan upacara tertentu dan dimaknai sebagai simbol kecerdasan, kesejahteraan, kedamaian, serta keseimbangan alam semesta.
Ketua Sarathi Banten Indonesia, Ni Wayan Wartiniasih Sugita, mengatakan bahwa penyelenggaraan sosialisasi ini terlaksana atas dukungan Kementerian Agama RI sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas para Sarathi Banten di Indonesia.
“Melalui sosialisasi ini kami ingin seluruh Sarathi Banten tidak hanya mampu membuat Banten Pulogembal, tetapi juga memahami makna, filosofi, serta fungsi setiap unsur yang terkandung di dalamnya. Pengetahuan inilah yang menjadi dasar agar tradisi tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Wartiniasih.
Ia menambahkan bahwa pembinaan Sarathi Banten ke depan akan terus dikembangkan dengan tetap menghormati keragaman tradisi dan kearifan lokal di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, materi yang diberikan akan disesuaikan dengan karakteristik upacara dan tradisi masyarakat Hindu setempat sehingga pembinaan semakin relevan bagi kebutuhan umat.
Kegiatan yang diikuti 65 peserta dari DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat ini tidak hanya membahas filosofi Banten Pulogembal, tetapi juga mengulas kelengkapan upakara, jenis-jenis jejahitan dan jajanan banten, serta implementasinya dalam pelaksanaan yadnya. Melalui peningkatan kompetensi tersebut, diharapkan lahir Sarathi Banten yang memiliki kompetensi teknis sekaligus pemahaman spiritual yang kuat sehingga mampu menjaga kualitas pelaksanaan upacara keagamaan Hindu secara berkelanjutan.