Ribuan Umat Buddha Rayakan Waisak di Borobudur, Langit Diterangi Lampion Harapan dan Doa​​​​​​​​​​​​​​

Ribuan Umat Buddha Rayakan Waisak di Borobudur, Langit Diterangi Lampion Harapan dan Doa​​​​​​​​​​​​​​

Magelang (BIMAS HINDU) - Candi Borobudur kembali menjadi saksi kebesaran spiritual umat Buddha dalam perayaan Tri Suci Waisak 2569 BE. Ribuan umat dari berbagai penjuru Indonesia dan mancanegara berkumpul di pelataran candi Buddha terbesar di dunia itu, membawa doa dan harapan di bawah sinar rembulan yang lembut.

Menjelang tengah malam, puncak perayaan berlangsung khidmat. Langit Borobudur yang semula gelap perlahan berubah menjadi lautan cahaya, diterangi ribuan lampion yang terbang ke angkasa. Setiap lampion yang dilepaskan bukan sekadar simbol, melainkan cerminan harapan, doa, dan refleksi batin umat Buddha untuk dunia yang lebih damai.

Dalam suasana hening penuh kekhusyukan, Bhante memimpin doa dan meditasi bersama. Suaranya yang tenang menggema di tengah ribuan umat yang duduk bersila, mengajak semua untuk memancarkan kedamaian dan cinta kasih dari dalam diri ke seluruh penjuru dunia.

“Pancarkanlah kepada seluruh Indonesia. Pancarkanlah terus menerus pada seluruh manusia di dunia ini... semoga cahaya terang ini dari dalam dan luar diri kita menerangi dunia lebih terang lagi,” ucap Bhante dalam doanya.

Doa itu mengalir pelan namun menggetarkan, tak hanya dipanjatkan untuk keluarga dan orang-orang terkasih, tapi juga untuk semua makhluk di lima benua Asia, Eropa, Afrika, Oseania, dan Amerika. Semua bersatu dalam satu niat yang tulus: kedamaian batin dan kebebasan dari penderitaan.

Lampion-lampion yang perlahan naik ke langit menciptakan pemandangan magis. Terlihat bagai kunang-kunang berkelip di angkasa, semakin tinggi, semakin kecil, namun semakin kuat membawa harapan yang terselip di dalamnya.

“Saat ini setelah batin kita suci dan terang, mari berdoa agar kita dan seluruh orang yang kita kasihi bebas dari penderitaan,” lanjut Bhante, menutup rangkaian doa.

Perayaan Waisak di Borobudur tahun ini tak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga simbol persatuan dalam damai. Di tengah dunia yang dilanda berbagai tantangan, momen ini menjadi pengingat bahwa dari ketenangan dan kesadaran diri, manusia mampu menyebarkan energi baik.

Dari jantung budaya Indonesia, cahaya dari Borobudur kembali dikirimkan ke dunia seterang harapan, setinggi cita-cita umat manusia akan dunia yang penuh welas asih.


Berita Pusat LAINNYA