JAKARTA, (BIMAS HINDU) - Sistem Manajemen Konflik Ramah Umat (SIMAKRAMA) yang digagas oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu (Ditjen Bimas Hindu) melalui Sub Direktorat Penyuluhan menjadi solusi strategis untuk merespons pengaduan terkait perbedaan praktik beragama.
Hal itu disampaikan oleh Kasubdit Penyuluhan Ni Wayan Pujiastuti dalam pemaparan Hasil Proyek Perubahan di depan para penguji yaitu dari Lembaga Administrasi Negara (LAN) Dr Caca Syahroni, dan Achmad Nidjam.
"SIMAKRAMA sebagai upaya untuk merespon isu strategis pengaduan terkait perbedaan praktik beragama dengan strategi sistem manajemen konflik yang transparan, akuntabel dan responsif," kata Puji, sapaan akrabnya, Jumat (8/11/2024).
SIMAKRAMA sendiri, jelas Puji, adalah falsafah dalam agama Hindu yang dapat diartikan sebagai dialog, musyawarah, diskusi untuk mencapai hasil yang mufakat.
Dipaparkan oleh Puji bahwa dalam jangka pendek, strategi pencapaian sesuai tujuan SIMAKRAMA ini bisa menjadi kebijakan Inklusi yang terpadu dalam hal penanganan konflik intern umat Hindu.
"Setelah itu, di jangka menengah, SIMAKRAMA bisa diimplementasikan secara kolaboratif untuk penguatan sistem penanganan konflik. Dan jangka panjangnya, SIMAKRAMA bisa sebagai sarana penguatan tata kelola dan pengawasan dengan kesadaran kolektif dari stakeholder," jelas Puji.
Dengan begitu, lanjut Puji, manfaat SIMAKRAMA bagi stakeholder dan masyarakat bisa menjadi sarana mengurangi ketegangan dan memperkuat kohesi sosial.
Sementara untuk internal Kementerian Agama, SIMAKRAMA bisa menjembatani tersedianya kebijakan terpadu inklusi yang dapat dijadikan acuan dalam hal pencegahan sampai pemulihan konflik, termasuk membangun citra Ditjen Bimas Hindu karena responsif dalam penangan konflik.
Sementara itu, penguji dari Lembaga Administrasi Negara (LAN) Dr Caca Syahroni, dan Achmad Nidjam menyampaikan bahwa buku yang sudah terbentuk sudah cukup bagus.
Namun demikian, ada usulan bahwa pedoman ini bisa digunakan untuk semua agama dan keseluruhan. "Bisakah pedoman ini dipergunakan untuk semua agama dan keseluruhan? Semoga jangka menengah dan panjang nya bisa dilanjutkan," katanya
Terkait usulan oleh penguji itu, Puji menyatakan bahwa pihaknya akan membuat pedoman lebih baik lagi dan akan menambah alur-alurnya.
"Kemanfataan semua agama, sudah mendapatkan dukungan dari Direktur Buddha begitupun dengan katolik. Pak itjen sangat respon dengan sistem deteksi dininya dan banyak memerikan masukan dan pengayaan dari buku pedoman ini dan kalau bisa naik menjadi KMA," pungkas Puji.