Flexing: Pamer Harta atau Pamer Karma?

Harta boleh dimiliki, tetapi jangan sampai menjadi sumber kesombongan. Mari bukan hanya pamer harta, tetapi memperbanyak karma baik dan manfaat bagi sesama.

Om Awighnam Astu Namo Siddham, Om Sidhirastu Tat Astu Ya Namah Svaha, Om Swastyastu, Om Ano Bhadrah Kratavo Yantu Visvatah.

Jakarta (Dharma Wacana) - Semoga pikiran-pikiran yang baik datang dari segala arah. Saudara-saudari umat sedharma yang berbahagia, pendengar setia di mana pun berada, berjumpa kembali dengan saya, Rta Wahyu Sri Pamungkas, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Boyolali, dalam acara Mimbar Agama Hindu. Para pendengar radio yang kami hormati, di mana pun Anda berada, semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa melimpahkan kesehatan, keselamatan, kedamaian, dan kebahagiaan kepada kita semua.

Belakangan ini media sosial kembali diramaikan oleh berbagai konten yang menampilkan kemewahan dan gaya hidup serba berlebihan. Salah satu fenomena yang kerap menjadi perhatian adalah ketika seseorang memperlihatkan kendaraan mewah, pakaian bermerek, perhiasan mahal, rumah megah, hingga berbagai aktivitas yang menunjukkan keberhasilan secara materi. Tidak jarang, unggahan semacam itu disertai pesan bahwa keberhasilan hidup dapat diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki.

Konten seperti itu dapat menimbulkan beragam respons. Ada yang menganggapnya sebagai motivasi untuk bekerja lebih keras, tetapi ada pula yang justru merasa minder dan membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Tidak sedikit orang yang kemudian terdorong mengikuti gaya hidup yang sebenarnya berada di luar kemampuan ekonominya, bahkan rela berutang hanya demi mendapatkan pengakuan di media sosial.

Belakangan, tidak sedikit pula kisah yang memperlihatkan bahwa kemewahan yang ditampilkan di media sosial tidak selalu menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Kendaraan mewah dapat saja merupakan kendaraan sewaan, barang bermerek bisa diperoleh dengan meminjam, sementara gaya hidup yang terlihat serba berkecukupan dibangun sebagai bagian dari pencitraan untuk memperoleh perhatian, meningkatkan jumlah pengikut, atau mendapatkan keuntungan dari popularitas.

Fenomena semacam inilah yang dikenal dengan istilah flexing. Flexing bukan sekadar memperlihatkan sesuatu yang dimiliki, tetapi dapat berkembang menjadi perilaku menonjolkan kekayaan atau keberhasilan secara berlebihan demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Di tengah budaya digital, kita juga mengenal istilah FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal dari apa yang dilakukan orang lain. Ketika melihat teman membeli rumah, muncul keinginan untuk segera memiliki rumah. Ketika melihat orang lain berlibur ke luar negeri, kita merasa harus melakukan hal yang sama. Ketika seseorang menggunakan telepon genggam terbaru, kita pun tergoda mengganti perangkat yang sebenarnya masih berfungsi dengan baik.

Karena itu, ada ungkapan yang relevan untuk kita renungkan, “Don’t chase clout, chase value.” Jangan sibuk mengejar popularitas, tetapi kejarlah nilai dan manfaat dalam kehidupan.

Lalu, bagaimana ajaran Hindu memandang fenomena tersebut? Sesungguhnya, jauh sebelum media sosial hadir, ajaran Hindu telah memberikan panduan mengenai bagaimana manusia seharusnya menempatkan harta, keinginan, ego, dan tujuan hidup.

Artha Boleh Dicari, tetapi Harus Berjalan Bersama Dharma

Saudara-saudara yang berbahagia, Hindu tidak mengajarkan bahwa kekayaan merupakan sesuatu yang buruk. Dalam ajaran Catur Puruṣārtha, kehidupan manusia diarahkan pada empat tujuan, yaitu Dharma, Artha, Kāma, dan Mokṣa. Dharma berkaitan dengan kehidupan berdasarkan kebenaran dan kebajikan. Artha merupakan upaya memperoleh kesejahteraan dan kebutuhan hidup. Kāma berkaitan dengan pemenuhan keinginan secara benar, sedangkan Mokṣa merupakan pencapaian kebebasan rohani.

Urutan tersebut mengandung pesan penting. Artha tidak berdiri sendiri, tetapi harus berada dalam tuntunan Dharma. Kekayaan boleh dicari, tetapi harus diperoleh dengan cara yang benar, digunakan secara bijaksana, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.

Persoalan muncul ketika orientasi kehidupan bergeser dari Dharma menuju citra. Yang dikejar bukan lagi kebaikan, melainkan pengakuan. Yang dicari bukan lagi manfaat, melainkan perhatian. Seseorang merasa harus terlihat berhasil meskipun keadaan yang sesungguhnya belum tentu demikian.

Ketika Artha dilepaskan dari Dharma, harta yang semestinya menjadi sarana kesejahteraan dapat berubah menjadi sumber keterikatan, kesombongan, bahkan penderitaan. Karena itu, persoalan utamanya bukan terletak pada seberapa banyak harta yang kita miliki, tetapi bagaimana harta tersebut diperoleh, digunakan, dan dimaknai.

Bhagavad Gītā XIV.12: Ketika Rajas Menguasai Pikiran

Bhagavad Gītā Bab XIV Sloka 12 menyatakan:

Lobhaḥ pravṛttir ārambhaḥ, karmaṇām aśamaḥ spṛhā;
Rajasy etāni jāyante, vivṛddhe Bharatarṣabha.

Sloka tersebut menjelaskan bahwa ketika sifat Rajas berkembang dalam diri manusia, dapat muncul lobha, yaitu keserakahan, dorongan untuk terus memperoleh sesuatu, aktivitas yang tidak pernah berhenti, serta keinginan yang sulit dikendalikan.

Jika direnungkan, kondisi tersebut memiliki keterkaitan dengan budaya flexing. Hari ini membeli telepon genggam baru, kemudian merasa masih kurang. Setelah itu ingin kendaraan yang lebih mahal, rumah yang lebih besar, pakaian yang lebih bermerek, dan gaya hidup yang lebih tinggi. Keinginan terus bertambah, sementara rasa syukur justru dapat semakin berkurang.

Rajas membuat manusia mudah terjebak dalam perasaan bahwa apa yang dimiliki belum cukup. Padahal, kebahagiaan tidak selalu lahir dari semakin banyaknya sesuatu yang kita miliki. Kebahagiaan juga tumbuh dari kemampuan mensyukuri, mengendalikan keinginan, dan menggunakan apa yang dimiliki untuk tujuan yang baik.

Bhagavad Gītā III.27: Ahaṅkāra dan Keinginan untuk Diakui

Bhagavad Gītā Bab III Sloka 27 menyatakan:

Prakṛteḥ kriyamāṇāni guṇaiḥ karmāṇi sarvaśaḥ;
Ahaṅkāra-vimūḍhātmā kartāham iti manyate.

Artinya, segala tindakan pada hakikatnya berlangsung karena pengaruh sifat-sifat alam, tetapi orang yang dibingungkan oleh keakuan menganggap dirinya sebagai pelaku utama.

Dari sini kita dapat memahami bahwa persoalan flexing sesungguhnya bukan semata-mata tentang mobil, rumah, pakaian, jam tangan, atau barang-barang mahal. Persoalan yang lebih dalam adalah ahaṅkāra, yaitu keakuan atau ego.

Ego ingin dipuji. Ego ingin dianggap berhasil. Ego ingin mendapatkan perhatian. Ego ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul dibandingkan orang lain. Ketika ego menjadi pusat kehidupan, harta tidak lagi sekadar sarana memenuhi kebutuhan, tetapi berubah menjadi alat untuk membangun identitas dan mendapatkan pengakuan.

Padahal, segala sesuatu yang kita miliki pada hakikatnya bersifat sementara. Hari ini kita sehat, tetapi kondisi dapat berubah. Hari ini kita berkecukupan, tetapi keadaan ekonomi dapat berubah. Hari ini kita dikenal, tetapi popularitas juga dapat berlalu.

Karena itu, orang bijaksana tidak menjadikan harta sebagai ukuran utama harga dirinya. Kekayaan boleh menjadi bagian dari kehidupan, tetapi karakter dan Dharma semestinya menjadi dasar dalam menjalani kehidupan.

Bhagavad Gītā Bab XVI: Daivi Sampad dan Asuri Sampad

Bhagavad Gītā Bab XVI menjelaskan mengenai Daivi Sampad dan Asuri Sampad, yaitu sifat-sifat yang terdapat dalam diri manusia. Daivi Sampad antara lain tercermin melalui kerendahan hati, kejujuran, pengendalian diri, kasih sayang, kesederhanaan, dan sikap tidak sombong.

Sebaliknya, Asuri Sampad antara lain ditandai oleh dambha atau kecenderungan untuk berpura-pura dan membanggakan diri, darpa atau kesombongan, abhimāna atau keangkuhan, serta sifat-sifat lain yang mendorong manusia menjauh dari kebajikan.

Dalam konteks kehidupan modern, kita dapat menjadikan ajaran tersebut sebagai bahan refleksi. Apakah apa yang kita tampilkan di media sosial benar-benar menjadi sarana berbagi dan menginspirasi, atau justru menjadi cara untuk mendapatkan pengakuan?

Penghormatan yang hanya dibangun berdasarkan harta dapat berubah ketika harta itu tidak lagi ada. Sebaliknya, penghormatan yang tumbuh dari karakter, kejujuran, kepedulian, dan perbuatan baik memiliki nilai yang jauh lebih mendalam.

Sapta Timira: Ketika Anugerah Berubah Menjadi Kegelapan

Dalam etika Hindu dikenal ajaran Sapta Timira, yaitu tujuh kegelapan atau kondisi yang dapat membutakan manusia ketika tidak mampu mengendalikannya. Salah satunya berkaitan dengan Dhana, yaitu kemabukan karena kekayaan. Selain itu terdapat pula Guna yang berkaitan dengan kemabukan karena kelebihan atau kepandaian, Surūpa karena kecantikan atau ketampanan, serta Yauwana karena usia muda.

Menarik untuk direnungkan bahwa kekayaan, kepandaian, kecantikan, dan masa muda pada dasarnya merupakan anugerah. Namun, ketika anugerah tersebut melahirkan kesombongan, merasa lebih tinggi daripada orang lain, atau kehilangan kendali diri, anugerah dapat berubah menjadi sumber kegelapan.

Maka pertanyaan yang lebih penting bukanlah, “Berapa banyak harta yang saya miliki?” Melainkan, “Apakah harta yang saya miliki membuat saya semakin rendah hati atau justru semakin tinggi hati?”

Tri Guṇa: Memilih Jalan Sattva

Hindu juga mengajarkan tentang Tri Guṇa, yaitu tiga sifat dasar yang memengaruhi kehidupan manusia: Sattva, Rajas, dan Tamas. Sattva berkaitan dengan kejernihan, kebijaksanaan, dan keseimbangan. Rajas berkaitan dengan aktivitas, ambisi, dan dorongan keinginan. Sementara Tamas berkaitan dengan kegelapan, kemalasan, dan ketidaktahuan.

Budaya flexing dapat menjadi semakin kuat ketika dorongan Rajas dan keinginan untuk memperoleh pengakuan tidak dikendalikan. Sebaliknya, pengembangan Sattva mendorong manusia untuk lebih bijaksana dalam menggunakan apa yang dimiliki.

Orang yang mengembangkan Sattva tidak harus menolak kekayaan. Ia hanya menempatkan kekayaan secara proporsional. Ia lebih senang berbagi daripada memamerkan, lebih memilih menginspirasi daripada mencari validasi, dan lebih mengutamakan manfaat daripada sekadar penampilan.

Mahābhārata: Apa yang Membuat Manusia Dikenang?

Mahābhārata menghadirkan banyak pelajaran mengenai hubungan manusia dengan kekuasaan, harta, ambisi, dan Dharma. Dua tokoh yang dapat menjadi bahan refleksi adalah Duryodhana dan Yudhiṣṭhira.

Duryodhana memiliki kekuasaan dan kekayaan, tetapi ambisinya tidak pernah benar-benar berhenti. Ia sulit menerima keberhasilan Pāṇḍawa dan membiarkan iri hati serta keakuan memengaruhi tindakannya.

Sementara itu, Yudhiṣṭhira lebih dikenal karena komitmennya terhadap Dharma, kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab. Dari kedua tokoh tersebut, kita dapat melihat bahwa ukuran kebermaknaan hidup tidak semata-mata terletak pada kekayaan atau kekuasaan.

Pada akhirnya, yang membuat seseorang dikenang bukan hanya apa yang pernah dimilikinya, tetapi nilai apa yang diperjuangkannya dan manfaat apa yang ditinggalkannya bagi kehidupan.

Seva dan Lokasaṅgraha: Mengubah Media Sosial Menjadi Ladang Dharma

Saudara-saudara yang berbahagia, media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Ia dapat digunakan untuk menunjukkan kesombongan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menyebarkan kebaikan.

Dalam Bhagavad Gītā terdapat konsep Lokasaṅgraha, yaitu tindakan yang diarahkan untuk menjaga keteraturan dan memberikan manfaat bagi kehidupan bersama. Semangat tersebut dapat diwujudkan melalui Seva, yaitu pelayanan dan pengabdian yang dilakukan dengan ketulusan.

Bayangkan apabila media sosial kita dipenuhi dengan kisah orang yang membantu korban bencana, berbagi ilmu pengetahuan, mengajarkan nilai-nilai Dharma, menggalang bantuan kemanusiaan, mengajak menjaga lingkungan, atau memberikan penguatan kepada mereka yang sedang menghadapi kesulitan.

Ruang digital pun dapat menjadi tempat yang lebih bermanfaat. Karena itu, sebelum mengunggah sesuatu, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah unggahan ini membawa manfaat? Apakah dapat menginspirasi orang lain? Apakah memberikan nilai positif? Ataukah saya hanya sedang mencari pujian dan pengakuan?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi latihan untuk mengendalikan diri di tengah derasnya budaya pencitraan.

Refleksi: Bukan Sekadar Pamer Harta, tetapi Menunjukkan Karma

Saudara-saudaraku yang berbahagia, kehidupan bukan perlombaan untuk terlihat paling hebat. Kehidupan adalah kesempatan untuk menjadi manusia yang memberikan manfaat.

Mobil tidak ikut bersama kita ketika meninggalkan dunia. Rumah tidak ikut. Pakaian, jabatan, popularitas, dan saldo rekening juga tidak ikut. Yang menjadi bagian dari perjalanan kehidupan adalah perbuatan dan akibat dari perbuatan tersebut.

Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mengubah cara memaknai keberhasilan. Bukan sekadar flexing for attention, tetapi serving with compassion. Bukan mengejar clout, tetapi mengejar value. Bukan mengejar viral, tetapi mengutamakan Dharma.

Pada akhirnya, manusia tidak semestinya hanya diukur dari seberapa banyak yang dapat dipamerkan, tetapi dari seberapa besar kasih, kebaikan, dan manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri: Jika harta dapat hilang, popularitas dapat berlalu, dan penampilan dapat berubah, lalu apa yang akan tetap tinggal dari diri kita?

Jawabannya adalah jejak perbuatan. Karena itu, daripada sibuk memamerkan harta, marilah kita memperbanyak karma baik. Sebab harta dapat membuat seseorang terlihat berhasil, tetapi karma baiklah yang membuat kehidupan memiliki makna.

Doa Penutup

Om Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, anugerahkanlah kepada kami hati yang selalu bersyukur, pikiran yang jernih, serta kebijaksanaan untuk menggunakan setiap anugerah-Mu sesuai dengan Dharma.

Jauhkanlah kami dari sifat lobha, ahaṅkāra, dambha, darpa, dan segala bentuk kesombongan yang dapat menyesatkan kehidupan. Bimbinglah kami agar kekayaan menjadi sarana berbagi, jabatan menjadi sarana melayani, ilmu menjadi sarana mencerdaskan, dan media sosial menjadi sarana menyebarkan kasih serta kebajikan.

Jadikanlah kami pribadi yang sederhana dalam kehidupan, mulia dalam perilaku, dan bermanfaat bagi sesama. Semoga seluruh makhluk hidup berbahagia, damai, dan sejahtera.

Om Sarve Bhavantu Sukhinah,
Sarve Santu Niramayah,
Sarve Bhadrani Pasyantu,
Ma Kascid Duhkha Bhag Bhavet.

Om Santih, Santih, Santih, Om.

Semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai selama-lamanya.

 

Penulis : Rta Wahyu Sri Pamungkas, S.Pd.
Penyuluh Agama Hindu
​​​​​​


Dharma Wacana LAINNYA