Paradoks Kama: Antara Tujuan Hidup (Catur Purusa Artha) dan Musuh Spiritual (Sad Ripu)

Kama dapat menjadi kekuatan yang membangun atau justru menjadi sumber kehancuran. Kuncinya bukan menghilangkan keinginan, melainkan mengendalikan dan mengarahkannya dengan Dharma.

(Mimbar Hindu) - Kehidupan manusia menurut ajaran Hindu bukanlah perjalanan yang berlangsung tanpa arah dan tujuan. Weda mengajarkan bahwa kelahiran sebagai manusia merupakan kesempatan yang sangat mulia untuk menyempurnakan diri. Oleh karena itu, kehidupan hendaknya dijalani dengan berpedoman pada tujuan yang benar agar setiap langkah membawa manusia semakin dekat pada kebahagiaan lahir maupun batin.

Tujuan hidup tersebut dirumuskan dalam konsep Catur Purusa Artha, yaitu empat tujuan utama kehidupan yang terdiri atas Dharma (kebajikan dan kebenaran), Artha (kekayaan atau sarana kehidupan), Kama (keinginan dan kenikmatan), dan Moksa (pembebasan). Keempatnya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dharma menjadi dasar dalam setiap tindakan, Artha menjadi sarana untuk menopang kehidupan, Kama menjadi dorongan dalam memenuhi kebutuhan hidup, sedangkan Moksa merupakan tujuan tertinggi berupa kebebasan rohani.

Sebagai salah satu bagian dari Catur Purusa Artha, Kama dapat diartikan sebagai segala bentuk keinginan, kesenangan, rasa cinta, keindahan, dan kepuasan dalam kehidupan manusia. Dalam pengertian yang luas, Kama merupakan dorongan yang membuat manusia bergerak untuk mencapai sesuatu yang dianggap bernilai atau menyenangkan.

Kama merupakan energi yang menggerakkan manusia untuk terus berkarya. Tanpa adanya keinginan, manusia dapat kehilangan motivasi untuk belajar, bekerja, dan mengembangkan dirinya. Kama sebagai tujuan hidup adalah Kama yang diarahkan oleh Dharma, sehingga keinginan tersebut menjadi kekuatan yang membangun kehidupan.

Terkait dengan hal tersebut, Bhagavadgita VII.11 menyatakan:

balaṁ balavatāṁ cāhaṁ kāmarāgavivarjitam
dharmāviruddho bhūteṣu kāmo ’smi bharatarṣabha

“Akulah kekuatan dari mereka yang kuat, terlepas dari keinginan dan nafsu. Dalam semua makhluk, Akulah keinginan yang tidak bertentangan dengan Dharma, wahai Arjuna.”

Sloka tersebut memberikan pemahaman bahwa keinginan yang tidak bertentangan dengan Dharma merupakan bagian dari manifestasi kekuatan Tuhan. Dengan kata lain, yang menjadi persoalan bukanlah keberadaan keinginan itu sendiri, melainkan bagaimana keinginan tersebut diarahkan dan apakah selaras dengan Dharma.

Namun, apabila ajaran Hindu dipelajari lebih dalam, kita menemukan sesuatu yang sekilas tampak bertolak belakang. Selain menjadi bagian dari Catur Purusa Artha, Kama juga muncul dalam ajaran Sad Ripu, yaitu enam musuh utama yang berada dalam diri manusia. Keenamnya adalah Kama (nafsu yang tidak terkendali), Krodha (kemarahan), Lobha (ketamakan), Moha (kebingungan atau delusi), Mada (kemabukan atau kesombongan), dan Matsarya (iri hati).

Lalu muncul pertanyaan: apakah ajaran Hindu bertentangan? Mengapa Kama di satu sisi menjadi tujuan hidup, tetapi di sisi lain menjadi musuh spiritual?

Sesungguhnya, tidak ada pertentangan. Yang berbeda bukanlah kata Kama, melainkan makna dan cara pengelolaannya.

Dalam Catur Purusa Artha, Kama merupakan keinginan yang dikendalikan dan diarahkan oleh Dharma. Sebaliknya, dalam Sad Ripu, Kama adalah keinginan atau nafsu yang tidak lagi berada di bawah kendali Dharma. Ketika keinginan berubah menjadi ambisi tanpa batas, ketika manusia hanya mengejar kepuasan indria tanpa mempertimbangkan nilai moral dan akibatnya bagi diri sendiri maupun orang lain, pada saat itulah Kama berubah menjadi musuh yang menghambat perkembangan spiritual.

Bhagavadgita III.37 menyatakan:

kāma eṣa krodha eṣa rajoguṇasamudbhavaḥ
mahāśano mahāpāpmā viddhy enam iha vairiṇam

“Itulah Kama, itulah Krodha, yang lahir dari guna Rajas. Ia merupakan pemakan yang tidak pernah kenyang dan sangat merusak. Ketahuilah bahwa ia adalah musuh di dunia ini.”

Kata mahāśana mengandung makna “tidak pernah kenyang”. Nafsu selalu menuntut lebih. Ketika seseorang memperoleh kekayaan, ia menginginkan lebih banyak lagi. Ketika memperoleh jabatan, ia menginginkan kekuasaan yang lebih tinggi. Ketika memperoleh kenikmatan, ia terus mengejar kenikmatan berikutnya. Nafsu yang tidak terkendali tidak pernah mengenal kata cukup.

Bhagavadgita II.62–63 selanjutnya menjelaskan bagaimana keinginan yang tidak terkendali dapat berkembang menjadi kehancuran:

dhyāyato viṣayān puṁsaḥ saṅgas teṣūpajāyate
saṅgāt sañjāyate kāmaḥ kāmāt krodho ’bhijāyate

“Bila seseorang terus-menerus memikirkan objek-objek indria, timbullah keterikatan terhadapnya. Dari keterikatan lahirlah keinginan, dan dari keinginan timbullah kemarahan.”

Selanjutnya:

krodhād bhavati sammohaḥ sammohāt smṛtivibhramaḥ
smṛtibhraṁśād buddhināśo buddhināśāt praṇaśyati

“Dari kemarahan timbullah kebingungan, dari kebingungan hilangnya ingatan, dari hilangnya ingatan kehancuran kebijaksanaan, dan dari kehancuran kebijaksanaan seseorang akan mengalami kehancuran.”

Kedua sloka tersebut menunjukkan bahwa Kama yang tidak dikendalikan dapat menjadi pintu masuk bagi munculnya unsur-unsur Sad Ripu lainnya. Ketika keinginan tidak terpenuhi, muncullah Krodha. Demi memenuhi keinginan tersebut, seseorang dapat terjerumus ke dalam Lobha atau ketamakan. Setelah memperoleh apa yang diinginkan, dapat muncul Mada, yaitu kesombongan. Pikiran kemudian tertutup oleh Moha, sehingga seseorang semakin sulit membedakan antara yang benar dan yang salah. Ketika melihat keberhasilan orang lain, dapat muncul Matsarya, yaitu iri hati.

Dengan demikian, Kama yang tidak terkendali dapat menjadi akar berkembangnya lima musuh batin lainnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, keadaan tersebut dapat dilihat melalui contoh yang sangat sederhana, yaitu makan.

Memiliki nafsu makan merupakan Kama yang positif. Seseorang membutuhkan makanan untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatan tubuh. Apabila keinginan tersebut dikendalikan dengan memilih makanan yang sehat dan mengonsumsinya secara secukupnya, maka kebutuhan jasmani dapat terpenuhi dengan baik.

Sebaliknya, apabila nafsu makan tidak terkendali dan seseorang mengonsumsi makanan secara berlebihan hanya demi memuaskan lidah tanpa mempertimbangkan manfaat maupun dampaknya bagi kesehatan, keinginan tersebut dapat berubah menjadi hawa nafsu yang membawa penderitaan. Berbagai gangguan kesehatan dapat muncul sebagai konsekuensi dari pola konsumsi yang tidak terkendali.

Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata terletak pada makanan, melainkan pada kemampuan manusia mengendalikan keinginannya.

Contoh lainnya dapat ditemukan dalam kehidupan sosial. Keinginan memiliki rumah yang layak, memperoleh pendidikan yang tinggi, memiliki kendaraan, atau mendapatkan pekerjaan yang baik bukanlah suatu kesalahan. Semua itu dapat menjadi bagian dari Kama yang mendukung kehidupan.

Akan tetapi, apabila keinginan tersebut mendorong seseorang melakukan korupsi, manipulasi, penipuan, atau mengambil hak orang lain, Kama telah berubah menjadi musuh spiritual. Keinginan yang semula menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan justru menjadi sumber penderitaan bagi diri sendiri dan orang lain.

Karena itu, ajaran Hindu tidak pernah mengajarkan manusia untuk mematikan seluruh keinginannya. Yang diajarkan adalah mengendalikan, menyucikan, dan mengarahkan keinginan melalui Dharma.

Dharma berfungsi sebagai pengarah agar setiap keinginan membawa manfaat, bukan penderitaan; menghadirkan kesejahteraan, bukan kerusakan; serta membawa manusia semakin dekat kepada tujuan kehidupan yang lebih tinggi.

Gambaran mengenai pengendalian diri tersebut dapat ditemukan dalam Katha Upanisad I.3.3–4:

ātmānaṁ rathinaṁ viddhi, śarīraṁ ratham eva tu;
buddhiṁ tu sārathiṁ viddhi, manaḥ pragraham eva ca.

“Ketahuilah bahwa Ātman adalah penumpang kereta, tubuh adalah keretanya, buddhi adalah kusirnya, dan manas adalah kendalinya.”

Selanjutnya:

indriyāṇi hayān āhur viṣayāṁs teṣu gocarān
ātmendriya-mano-yuktaṁ bhoktety āhur manīṣiṇaḥ.

“Indra-indra disebut sebagai kuda-kuda, objek-objek indria adalah jalan yang dilaluinya. Ātman yang bersatu dengan tubuh, pikiran, dan indria disebut sebagai penikmat, demikian dikatakan oleh para bijaksana.”

Perumpamaan tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas tentang kehidupan manusia. Tubuh ibarat kereta, indria adalah kuda-kudanya, pikiran merupakan tali kekang, sedangkan buddhi adalah kusir yang mengarahkan perjalanan.

Apabila kusir mampu mengendalikan tali kekang dengan baik, kereta akan berjalan menuju tujuan. Demikian pula kehidupan manusia. Apabila buddhi diterangi oleh Dharma sehingga mampu mengendalikan pikiran, indria, dan keinginan, kehidupan akan berjalan menuju Jagadhita dan pada akhirnya mengarah kepada Moksa.

Inilah makna paradoks Kama dalam ajaran Hindu. Kama bukan sesuatu yang harus dimusuhi, tetapi juga bukan sesuatu yang boleh dibiarkan tanpa kendali.

Kama dapat diibaratkan seperti api. Api yang kecil dan terkendali memberikan manfaat bagi kehidupan. Api dapat digunakan untuk memasak, menghangatkan tubuh, dan menerangi kegelapan. Namun, api yang besar dan tidak terkendali dapat membakar serta menghancurkan segala sesuatu.

Demikian pula dengan keinginan. Keinginan yang dikendalikan oleh Dharma menjadi kekuatan yang membangun, sedangkan keinginan yang dikuasai hawa nafsu dapat berubah menjadi kekuatan yang merusak.

Oleh karena itu, setiap kali muncul keinginan dalam diri, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah keinginan ini selaras dengan Dharma?

Apakah keinginan ini membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain?

Apakah keinginan ini mendekatkan saya kepada Hyang Widhi Wasa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi sarana introspeksi agar Kama tetap berada pada jalur yang benar. Dengan demikian, manusia tidak perlu menjadi pribadi yang anti terhadap keinginan, tetapi menjadi pribadi yang mampu menguasai keinginan.

Pada akhirnya, ajaran Hindu mengajarkan bahwa Jagadhita, atau kesejahteraan kehidupan, dapat diwujudkan ketika Dharma, Artha, dan Kama berjalan secara harmonis. Dari kehidupan yang harmonis tersebut, manusia melanjutkan perjalanan spiritual menuju Moksa.

Kama tidak perlu dihapuskan, melainkan disucikan, dikendalikan, dan diarahkan oleh Dharma sehingga menjadi kekuatan yang membawa manusia menuju kebahagiaan sejati.

Semoga melalui pemahaman ini, kita mampu menjadikan setiap keinginan sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas diri, mengabdi kepada sesama, membangun kesejahteraan, serta semakin mendekatkan diri kepada Hyang Widhi Wasa.

Om Śāntiḥ, Śāntiḥ, Śāntiḥ Om.

Penulis : I Ketut Sumerta, S.Pd.H, M.I.Kom


Dharma Wacana LAINNYA