Hari Raya Pagerwesi: Mengingatkan Kita untuk Membentengi Pikiran dan Jiwa dari Pengaruh Negatif

Hari Raya Pagerwesi: Mengingatkan Kita untuk Membentengi Pikiran dan Jiwa dari Pengaruh Negatif

Jakarta (BIMAS HINDU) - Kita sering mendengar bahwa Hari Raya Pagerwesi adalah “hari untuk memperkuat benteng diri.” Tapi apa arti benteng itu di zaman sekarang? Apakah hanya soal kekuatan doa dan persembahyangan, atau ada sesuatu yang lebih dalam yang sering kita lewatkan?

Dalam ajaran agama Hindu, Pagerwesi dirayakan setiap 210 hari menurut kalender Bali, tepatnya pada Budha Kliwon Wuku Sinta. Secara harfiah, “Pagerwesi” berarti pagar besi simbol kekuatan dan perlindungan spiritual. Tapi yang menarik, dalam konteks kekinian, makna Pagerwesi justru semakin relevan bukan sebagai hari "ritual" semata, tapi sebagai refleksi penting tentang kekuatan batin dan perlindungan diri dari krisis mental dan moral yang makin merajalela.

Di era media sosial, hoaks, tekanan hidup, dan kelelahan mental, kita semua sedang berperang bukan melawan musuh yang kasat mata, tapi melawan diri sendiri: kecemasan, iri hati, amarah, keserakahan, dan ketidakpuasan yang terus membayangi pikiran.

Di sinilah makna Pagerwesi jadi sangat relevan. Ia mengingatkan kita untuk membangun benteng spiritual, agar tidak mudah goyah oleh pengaruh negatif, baik dari luar maupun dalam diri sendiri.

Menurut ajaran tattwa Hindu, manusia terdiri dari tubuh (sarira), pikiran (manah), dan jiwa (atman). Sayangnya, kita sering terlalu fokus merawat tubuh makan sehat, olahraga, skincare tetapi lupa bahwa pikiran dan jiwa juga butuh perlindungan dan perawatan.

Pagerwesi adalah reminder sakral untuk menjaga kualitas pikiran. Di hari ini, kita diajak untuk merenung:

•    Sudahkah aku menjaga pikiranku tetap bersih?
•    Sudahkah aku membentengi diriku dari niat buruk?
•    Sudahkah aku menjadi manusia yang kuat secara batin?

Karena sejatinya, musuh terbesar bukan orang lain tapi diri kita sendiri yang belum selesai berdamai.

Banyak orang berpikir Pagerwesi hanya untuk sulinggih, pemangku, atau orang tua. Tapi generasi muda justru paling butuh Pagerwesi sebagai bekal menghadapi hidup yang serba cepat dan penuh tekanan.

Menjaga diri dalam ajaran Hindu bukan berarti menjauh dari dunia. Justru sebaliknya: hadir sepenuhnya di dunia, tapi tetap berakar pada nilai dharma.

Pagerwesi bukan tentang menjauhi dunia, tapi agar kita tidak dikuasai oleh dunia.


Opini LAINNYA