Jakarta (Bimas Hindu) - Menjelang Hari Suci Saraswati, suasana batin umat Hindu perlahan berubah. Buku-buku mulai dibersihkan, tempat suci ditata, dan pikiran diarahkan pada satu hal: penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Namun di balik segala persiapan itu, ada satu pertanyaan mendasar yang sering terlewatkan. Untuk apa sebenarnya ilmu yang kita miliki?
Momentum menjelang Hari Suci Saraswati seharusnya bukan sekadar persiapan ritual, tetapi juga ruang kontemplasi. Kita hidup di zaman dimana ilmu berkembang tanpa batas, tetapi arah penggunaannya sering kali kabur. Banyak yang cerdas, tetapi tidak bijaksana. Banyak yang berpengetahuan, tetapi kehilangan kepekaan.
Ilmu hari ini kerap diperlakukan sebagai alat untuk menang dalam kompetisi, menang dalam perdebatan, bahkan menang dalam citra diri. Padahal dalam ajaran Hindu, ilmu bukan sekadar alat, melainkan jalan menuju kesadaran. Ia tidak hanya mengasah pikiran, tetapi juga membentuk karakter dan memperhalus rasa.
Menjelang Hari Suci Saraswati, kita diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia yang penuh ambisi. Ini adalah waktu untuk melihat kembali perjalanan pengetahuan kita. Apakah ilmu yang kita pelajari telah membuat kita lebih sabar? Lebih jujur? Lebih peduli? Atau justru sebaliknya menjadikan kita lebih mudah menghakimi dan merasa paling benar?
Dewi Saraswati tidak hanya bersemayam dalam buku atau aksara, tetapi juga dalam kejernihan berpikir dan ketulusan hati. Ia hadir ketika ilmu digunakan untuk menuntun, bukan menyesatkan. Ia hidup ketika pengetahuan melahirkan kebijaksanaan, bukan kesombongan.
Menjelang Hari Suci Saraswati, makna terdalam yang perlu kita renungkan adalah bahwa ilmu bukanlah tujuan akhir. Ia adalah sarana untuk memahami kehidupan, memperbaiki diri, dan mendekatkan kita pada dharma. Tanpa itu, ilmu hanya akan menjadi beban berat di kepala, tetapi kosong di jiwa.
Akhirnya, Saraswati bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah pengingat abadi bahwa belajar tidak pernah selesai, dan menjadi manusia yang bijak adalah proses yang terus berjalan.
Maka sebelum kita menghaturkan sembah, barangkali yang paling penting adalah menata niat: agar ilmu yang kita miliki tidak hanya membuat kita pintar, tetapi juga benar.