Bimas Hindu - Setiap menjelang Hari Suci Galungan dan Kuningan, Umat Hindu memasuki rangkaian hari-hari sakral yang penuh makna. Salah satu yang paling penting adalah Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Namun sayangnya, di tengah kesibukan membuat banten, memasang penjor, membersihkan pura, dan mempersiapkan berbagai sarana upacara, makna filosofis Sugihan sering kali hanya dipahami sebagai kegiatan "bersih-bersih" menjelang hari raya.
Padahal, jika menelusuri berbagai lontar dan pemaknaan para rohaniawan Hindu, Sugihan sesungguhnya merupakan ajaran yang sangat dalam tentang hubungan manusia dengan alam semesta, Tuhan, dan dirinya sendiri. Sugihan bukan sekadar membersihkan yang terlihat oleh mata, melainkan menyucikan kesadaran yang selama ini tertutup oleh ego, kemarahan, keserakahan, dan berbagai bentuk adharma.
Kata "Sugihan" berasal dari kata sugi yang berarti membersihkan atau menyucikan. Dalam tradisi Hindu Bali, Sugihan Jawa jatuh pada Wraspati Wage Sungsang, sedangkan Sugihan Bali dilaksanakan sehari setelahnya, yakni Sukra Kliwon Sungsang. Keduanya merupakan rangkaian awal menuju Galungan, hari kemenangan Dharma melawan Adharma.
Menariknya, Sugihan Jawa dan Sugihan Bali tidak berdiri sendiri. Keduanya membentuk sebuah filosofi keseimbangan yang sangat relevan dengan kehidupan modern.
Menurut Lontar Sundarigama, Sugihan Jawa dimaknai sebagai penyucian Bhuwana Agung atau alam semesta (makrokosmos), sedangkan Sugihan Bali merupakan penyucian Bhuwana Alit atau diri manusia (mikrokosmos).
Namun dari sudut pandang, makna terdalam Sugihan bukanlah memilih mana yang lebih dahulu dibersihkan antara alam atau manusia. Yang ingin diajarkan leluhur Hindu adalah bahwa kerusakan alam dan kerusakan manusia sesungguhnya berakar pada sumber yang sama, yaitu hilangnya kesadaran spiritual.
Ketika manusia menjadi serakah, alam menjadi korban.
Ketika manusia kehilangan kendali diri, lingkungan ikut rusak.
Ketika manusia menjauh dari Dharma, keseimbangan semesta pun terganggu.
Karena itu Sugihan Jawa mengajak manusia melihat keluar dirinya. Membersihkan pura, merajan, lingkungan, dan berbagai sarana upacara bukan sekadar ritual fisik, melainkan simbol bahwa manusia harus kembali menghormati alam sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam konsep Hindu, alam bukan benda mati yang boleh dieksploitasi sesuka hati, tetapi bagian dari kehidupan suci yang menopang keberlangsungan seluruh makhluk.
Sementara Sugihan Bali mengajak manusia menoleh ke dalam dirinya sendiri. Sebab sesungguhnya sumber segala konflik bukanlah dunia luar, melainkan pikiran yang tidak terkendali. Dalam berbagai ajaran Hindu disebutkan bahwa pikiran adalah akar dari tindakan manusia. Jika pikiran dipenuhi kebajikan, maka perkataan dan perbuatan akan mengikuti. Sebaliknya, jika pikiran dikuasai oleh kebencian dan keserakahan, maka kehidupan akan menjauh dari Dharma.
Manawa Dharmasastra bahkan mengajarkan bahwa badan disucikan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa disucikan dengan pengetahuan dan tapa, sedangkan buddhi disucikan dengan kebijaksanaan. Ajaran ini menunjukkan bahwa kesucian dalam Hindu tidak berhenti pada aspek fisik, tetapi mencakup keseluruhan dimensi kehidupan manusia.
Di sinilah letak keagungan filosofi Sugihan yang mungkin jarang dibahas.
Sugihan sesungguhnya adalah proses "kembali pulang" kepada jati diri manusia.
Selama enam bulan perjalanan hidup sejak Galungan sebelumnya, manusia mungkin pernah marah, kecewa, menyakiti orang lain, lalai menjaga alam, atau terlalu sibuk mengejar urusan duniawi. Sugihan hadir sebagai ruang evaluasi spiritual. Sebuah jeda yang diberikan oleh ajaran Hindu agar manusia tidak kehilangan arah dalam perjalanan hidupnya.
Ironisnya, masyarakat modern justru hidup dalam situasi yang sangat membutuhkan nilai-nilai Sugihan. Kita hidup di zaman ketika manusia semakin mudah membersihkan layar telepon genggam dibanding membersihkan pikirannya sendiri. Kita rajin memperbarui perangkat teknologi, tetapi jarang memperbarui kualitas moral dan spiritual. Kita cepat menghapus file yang tidak diperlukan, tetapi menyimpan dendam dan kebencian bertahun-tahun di dalam hati.
Karena itu, Sugihan tidak hanya relevan bagi umat Hindu Bali atau Hindu Nusantara, tetapi juga menjadi refleksi secara menyeluruh tentang pentingnya penyucian diri sebelum merayakan sebuah kemenangan.
Galungan mengajarkan kemenangan Dharma atas Adharma. Namun kemenangan itu tidak akan pernah terjadi jika manusia masih memberi ruang bagi Adharma dalam dirinya sendiri.
Bagaimana mungkin merayakan kemenangan Dharma jika kebohongan masih dianggap biasa?
Bagaimana mungkin memuliakan Tuhan jika alam yang merupakan ciptaan-Nya justru dirusak?
Bagaimana mungkin berharap kedamaian jika hati masih dipenuhi kebencian?
Maka sebelum penjor berdiri megah di depan rumah, sebelum suara kidung dan genta memenuhi pura-pura, Sugihan mengajarkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: bersihkan dahulu kesadaranmu.
Pada akhirnya, Galungan bukan hanya tentang kemenangan para dewa atas kekuatan kegelapan. Galungan adalah kemenangan manusia atas dirinya sendiri dan kemenangan itu dimulai sejak Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, ketika manusia berani membersihkan alam yang ada di sekitarnya dan sekaligus membersihkan alam yang ada di dalam dirinya.
Itulah sebabnya Sugihan menjadi salah satu warisan spiritual paling luhur dalam ajaran Hindu. Ia mengingatkan bahwa Dharma tidak tumbuh dari kemegahan upacara semata, tetapi dari kesucian hati, kejernihan pikiran, dan keharmonisan hubungan antara manusia, alam semesta, serta Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ketika ketiganya menyatu, maka Galungan dan Kuningan tidak lagi sekadar hari raya, melainkan momentum kebangkitan kesadaran spiritual menuju kehidupan yang lebih bermakna.
#Bimas Hindu #Hindu #Sugihan Bali #Sugihan Jawa