Jakarta (BIMAS HINDU) - Indonesia adalah bangsa besar yang dibangun atas dasar keberagaman. Di dalam perbedaan agama, budaya, dan tradisi, terdapat satu nilai yang menyatukan: Pancasila. Ia bukan hanya dasar negara, tetapi juga roh yang menjiwai seluruh aspek kehidupan berbangsa. Materi “Diskursus Ideologi Seri 7” yang disampaikan oleh Prof. I Nengah Duija menekankan bahwa Pancasila merupakan energi kedamaian untuk membangun keunggulan bangsa sekaligus memperkokoh kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.
Bahwa Pancasila adalah jalan hidup bangsa, jembatan emas untuk mengelola kebinekaan, sekaligus fondasi spiritual dan moral dalam membangun peradaban yang unggul.
Bung Karno, dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, menegaskan bahwa Indonesia adalah bangsa yang ber-Tuhan. Namun, bukan sekadar pernyataan normatif, melainkan pengakuan bahwa setiap orang Indonesia dapat beribadah menurut keyakinannya masing-masing.
Agama Kristen, Islam, Hindu, Buddha, Khonghucu dan aliran kepercayaan lainnya diakui sebagai jalan spiritual yang sah. Prinsip ini menegaskan kebebasan beragama yang berkeadaban yakni hidup dengan saling menghormati tanpa egoisme sektarian.
Disinilah letak sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai jiwa yang melandasi sila-sila lainnya. Tanpa fondasi ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial tidak akan memiliki ruh yang kuat.
Sejarah Nusantara telah lama menanamkan nilai-nilai spiritualitas dan kearifan lokal. Dari Kakawin Negarakertagama hingga semboyan Bhinneka Tunggal Ika, kita diajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berpecah, tetapi energi untuk bersatu.
Prof. I Nengah Duija menjelaskan bahwa Pancasila adalah benih yang tumbuh di tanah Nusantara. Benih itu menyerap nilai budaya, agama, dan filsafat, lalu tumbuh menjadi pohon ke Indonesiaan. Dalam istilah beliau, ini adalah SPSP Spirit “Tubuh” Keindonesiaan: strategi pembangunan yang berbasis pada keunggulan nilai-nilai Nusantara.
Pancasila memiliki resonansi mendalam dengan filsafat Hindu yang telah lama hidup di bumi Nusantara.
1. Tat Twam Asi : aku adalah engkau. Nilai ini mengajarkan kasih sayang universal dan solidaritas sosial. Dalam kehidupan berbangsa, ia berarti menempatkan kepentingan bersama di atas ego pribadi.
2. Tri Kaya Parisudha : kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Konsep ini relevan dengan etos kerja bangsa: jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.
3. Tri Hita Karana : harmoni antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam (Palemahan). Pancasila menghidupkan konsep ini dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.
Dengan demikian, Pancasila bukan sekadar doktrin politik, tetapi filsafat hidup yang membumi dalam kebudayaan Indonesia.
Meski Pancasila telah diwariskan para pendiri bangsa, tantangan zaman membuat spirit nasionalisme kian melemah. Prof. I Nengah Duija mengingatkan bahwa gotong royong semakin pudar, digantikan oleh ego sektoral dan tradisi saling menyalahkan.
Di sisi lain, generasi muda sering kali lebih mengenal budaya populer global daripada nilai-nilai luhur bangsanya sendiri. Padahal, nasionalisme hanya akan kokoh bila ditanamkan sejak dini. Anak-anak harus dikenalkan dengan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan nilai kasih sayang.
Seperti ajaran Hindu Manava Sewa Madhava Sewa melayani sesama manusia sama dengan melayani Tuhan. Jika anak-anak dibiasakan hidup dengan kasih, maka saat dewasa mereka akan menjadi generasi yang cinta damai dan bertanggung jawab.
Filsafat Pancasila bukanlah teori kosong, melainkan harus diwujudkan dalam praksis kehidupan. Dalam Bhagavadgita III.21, disebutkan bahwa teladan pemimpin akan diikuti rakyatnya. Karena itu, pejabat negara, tokoh masyarakat, dan kaum terpelajar wajib menjadikan Pancasila sebagai laku hidup, bukan hanya slogan.
Teladan ini akan membentuk etos kerja bangsa melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan yang bersih. Pancasila menjadi energi kolektif untuk membangun SDM unggul yang mampu bersaing di tingkat global, namun tetap berakar pada kearifan lokal.
Kekuatan Indonesia bukan terletak pada jumlah penduduk atau sumber daya alam semata, melainkan pada kemampuan bangsa ini menjaga spirit Pancasila.
Pancasila adalah fondasi spiritual dan moral, jalan tengah yang menyatukan keberagaman dalam bingkai persatuan. Ia adalah roh keindonesiaan yang membuat bangsa ini unik, damai, dan berdaya saing.
Maka, setiap warga negara, dari anak-anak hingga pemimpin bangsa, memiliki tanggung jawab untuk menghidupkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan cara itu, Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh sebagai bangsa besar yang unggul, sejahtera, dan bermartabat di mata dunia.
Penulis : Prof. I Nengah Duija