Singaraja (Bimas Hindu) – Senja selalu memiliki cara sendiri untuk membuat sebuah kota terlihat berbeda. Di bawah cahaya matahari yang perlahan luruh di ufuk barat, kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja mulai dipenuhi langkah-langkah kecil. Ada yang datang untuk sekadar duduk menikmati udara sore. Ada yang mengabadikan wajahnya di depan bangunan dengan nuansa kolonial. Sebagian lainnya membawa kamera, mencari sudut terbaik untuk menyimpan sepotong cahaya.
Kawasan yang dahulu lebih dikenal sebagai Titik Nol Kota Singaraja itu kini perlahan menemukan kehidupan barunya. Tempat itu bukan lagi sekadar persimpangan atau penanda pusat kota. Praja Mandala mulai menjadi ruang tempat masyarakat bertemu, bercengkerama, berkarya, berfoto, menikmati pertunjukan, hingga sekadar menghabiskan waktu tanpa harus membeli apa pun.
Tetapi, apakah sebuah ruang publik cukup hanya dengan menjadi indah? Pertanyaan itu menjadi bagian dari pembacaan akademisi Institut Mpu Kuturan, Dr. I Putu Mardika,
terhadap wajah baru pusat Kota Singaraja. Dalam wawancara di Kampus Institut Mpu Kuturan, Jalan Pulau Menjangan, Banyuning, Selasa, 1 September 2026, Mardika melihat Praja Mandala memiliki potensi jauh lebih besar dari sekadar menjadi landmark baru kota.
Baginya, ada sejarah yang bisa dihidupkan, identitas yang perlu ditegaskan, kreativitas yang dapat diberi ruang, serta denyut ekonomi masyarakat yang dapat tumbuh dari keramaian yang mulai tercipta.
“Jadi titik-titik heritage itu ketika dihubungkan dia akan membentuk citra bahwasannya Singaraja ini di-rebranding sebagai kota yang lekat dengan kesejarahan,” ujar Mardika.
Menurutnya, Singaraja sesungguhnya tidak pernah kehilangan sejarah. Jejaknya masih tersimpan di berbagai sudut kota. Bangunan-bangunan tua, kawasan pemerintahan, Bale Agung dan sejumlah titik bersejarah lainnya merupakan kepingan-kepingan cerita yang pernah membentuk wajah Singaraja.
Persoalannya, kepingan itu masih berdiri sendiri-sendiri. Mardika melihat Praja Mandala dapat menjadi salah satu simpul untuk menghubungkan kepingan tersebut. Ketika satu titik dihubungkan dengan titik lainnya, sejarah tidak lagi sekadar menjadi bangunan yang dilihat dari kejauhan. Ia berubah menjadi pengalaman yang dapat dijalani.
Masyarakat dapat datang ke Praja Mandala, kemudian berjalan menyusuri jejak sejarah kota.
Wisatawan dapat mengenali Singaraja bukan hanya melalui sebuah bangunan, tetapi melalui cerita yang dirangkai dari satu tempat ke tempat lainnya. Di sanalah, menurut Mardika, heritage dapat menemukan kehidupan barunya. Namun ada satu hal yang menurutnya tidak boleh luput. Yakni identitas Buleleng sendiri.
Nuansa kolonial yang kuat memang menjadi daya tarik Praja Mandala. Tetapi, di balik bangunan dan tata ruangnya, ada karakter lokal yang juga perlu berbicara. Ukiran Buleleng, ornamen tradisional, serta elemen budaya lokal memiliki peluang menjadi identitas visual yang memperkuat karakter kawasan.
“Jadi yang terbenak di hati masyarakat itu, terlintas di masyarakat, itulah kita seolah-olah meniru Jogja,” katanya. Dekan Fakultas Dharma Duta IMK ini menyebut jika membangun wajah baru kota bukan berarti menghapus masa lalu. Justru sebaliknya, masa lalu harus dirawat sambil memberikan ruang bagi masa depan. Praja Mandala dapat menjadi tempat di mana keduanya bertemu.
Dari Kerumunan Menjadi Perputaran Ekonomi Setiap sore, orang-orang datang. Kerumunan tumbuh. Kamera mulai mengarah ke bangunan. Anak muda membuat konten. Komunitas mulai menemukan ruang. Masyarakat duduk menikmati suasana. Namun, bagi Mardika, keramaian hanyalah permulaan. Sebuah ruang publik akan memiliki daya hidup
yang lebih panjang ketika keramaian tersebut mampu menciptakan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
“Karena selama ini bangunan ada tetapi dampak ekonomi belum dirasakan. Karena memang belum ada spot-spot ekonomi yang menjadi trigger untuk terjadinya pertukaran uang. Jadi ini sudah memancing kerumunan, cuma potensi keuangan, pemancing ekonominya itu belum ada,” ucapnya. Karena itu, ia melihat perlunya titik-titik ekonomi yang dirancang dengan hati-hati. Bukan untuk mengubah Praja Mandala menjadi pusat perdagangan, melainkan memberikan alasan baru bagi orang untuk datang, tinggal lebih lama, lalu kembali lagi.
Kedai kopi. Ruang kuliner. Tenant kreatif. Ruang usaha yang tertata.
Bagi generasi muda, khususnya Gen Z, ruang semacam itu bukan sekadar tempat membeli makanan atau minuman. Ia dapat menjadi tempat bertemu, berdiskusi, bekerja, membuat konten, atau sekadar menikmati senja dengan latar sebuah ikon kota. “Kemudian menambah tenant-tenant kuliner yang itu masih belum ada, seperti coffee shop, yang
memang digandrungi Gen Z. Bukan berarti menyarankan agar ruang itu ada orang berdagang, tetapi disiapkan titik spot seperti di Jogja misalnya orang ngopi dengan landmark Tugu Yogyakarta itu akan memberikan sensasi tersendiri,” jelasnya.
Dari sana, sebuah foto dapat membawa seseorang datang. Sebuah pertunjukan dapat membuatnya tinggal. Secangkir kopi dapat membuatnya duduk lebih lama. Dan dari aktivitas sederhana itulah perputaran ekonomi dapat dimulai. Mungkin ada sesuatu yang lebih menarik ketika sejarah tidak hanya dipandang, tetapi diajak berjalan. Misalnya, dengan mengaktifkan kembali salah satu transportasi tradisional yang pernah dimiliki Singaraja, namun kini jarang ditemukan, yakni dokar.
Bagi Mardika, dokar dapat memainkan peran tersebut. Transportasi tradisional yang mulai jarang ditemui itu dapat dikemas menjadi bagian dari pengalaman wisata heritage. Bukan semata-mata kendaraan, tetapi menjadi penghubung antara Praja Mandala dan titik-titik sejarah di Kota Singaraja. Ia membayangkan sebuah waktu ketika kendaraan bermotor diberi ruang yang lebih terbatas, sementara pejalan kaki dan dokar mendapatkan ruang yang lebih luas untuk menikmati kota.
“Misalnya seminggu sekali kendaraan dialihkan tetapi itu dimaksimalkan. Karena kalau kita melihat misalnya kawasan Malioboro setiap sore begitu menginjak pukul 18.00 kendaraan dialihkan sehingga tidak terlalu ramai, orang bisa bebas jalan kaki, andong boleh wara-wiri dan itu menemukan trigger ekonomi,” sambungnya. Konsep itu, menurutnya, tidak harus langsung besar. Bisa dimulai dengan jumlah dokar yang terbatas. Ditentukan dari mana berangkat, ke mana berakhir, berapa tarifnya, dan kapan waktunya beroperasi. “Misalnya dari jam berapa sampai jam berapa boleh dokar beroperasi, minimal mulai dulu dari 10 dokar,
start-nya dari mana, finish-nya di mana, bayarnya berapa dan mereka bisa berkeliling Kota Singaraja. Ini akan menambah ruang ekonomi,” katanya. Jika gagasan itu suatu hari terwujud, mungkin Singaraja akan memiliki pengalaman wisata yang sederhana tetapi berkesan: duduk di atas dokar, mendengar derap langkah kuda, menyusuri jalan-jalan tua, dan perlahan mengenali kota melalui cerita yang melekat pada bangunan-bangunannya. Sejarah pun tidak lagi diam. Ia bergerak bersama masyarakat. Ketika Anak Muda Menemukan Ruangnya Praja Mandala juga sedang menemukan wajah lain. Wajah anak muda.
Kawasan itu mulai digunakan sebagai ruang fotografi, pembuatan konten media sosial, pertunjukan musik, peragaan busana dan berbagai aktivitas kreatif lainnya. Warga datang membawa kamera. Komunitas membawa gagasan. Anak muda membawa energi. Bagi Mardika, spontanitas masyarakat tersebut justru merupakan modal yang berharga.
“Jadi pemerintah sudah mendapatkan free publicity lewat pemberitaan dari media massa karena memang nuansa itu begitu dicari,” ujarnya.
Foto yang diunggah ke media sosial, video yang dibuat anak muda, atau pertunjukan yang direkam pengunjung, pada akhirnya menjadi cerita-cerita kecil yang menyebar dari satu gawai ke gawai lainnya. Praja Mandala dipromosikan bukan hanya melalui baliho atau iklan. Masyarakat sendiri yang ikut menceritakannya. Karena itu, Mardika mendorong agar ruang tersebut tidak hanya hidup ketika ada acara besar. Pemerintah dapat membangun agenda rutin yang melibatkan berbagai komunitas.
Pertunjukan seni, diskusi, seminar, pameran, kegiatan anak muda hingga fesyen dapat menjadi bagian dari kalender kegiatan kawasan. Dengan begitu, Praja Mandala tidak menjadi ruang yang ramai sesekali lalu kembali sunyi. Ia memiliki denyut. Ia memiliki jadwal. Ia memiliki cerita yang terus berganti. Menjaga Keindahan, Merawat Rasa Aman Namun, semakin banyak orang datang, semakin besar pula tanggung jawab untuk merawat ruang
tersebut. Kebersihan harus dijaga. Aktivitas perlu diatur. Arus lalu lintas harus diperhitungkan. Keamanan masyarakat tidak boleh menjadi bagian yang terlupakan.
Mardika melihat teknologi dapat menjadi bagian dari pengelolaan kawasan. CCTV, sistem pengawasan, serta informasi mengenai aturan pemanfaatan ruang publik diperlukan agar masyarakat mengetahui bagaimana seharusnya menggunakan kawasan tersebut. “Harapannya adalah membangun visualisasi kota yang tetap tidak lupa dengan heritage tetapi dikelola
dengan smart city. Jadi perbanyak titik-titik untuk spot keamanan, mulai dari CCTV agar masyarakat merasa aman,” tutupnya. Praja Mandala dan Masa Depan Singaraja. Pada akhirnya, Praja Mandala Singa Ambara Raja mungkin tidak hanya sedang membangun sebuah kawasan. Ia sedang membuka kemungkinan. Kemungkinan bagi sejarah untuk kembali diceritakan. Kemungkinan bagi anak muda untuk menemukan panggung. Kemungkinan bagi komunitas untuk berkarya. Kemungkinan bagi pelaku usaha untuk menemukan pasar baru. Dan kemungkinan bagi Singaraja untuk memperkenalkan kembali dirinya sebagai kota yang tumbuh dari sejarah.
Kontributor: Putu Rika Mahardika