Sorong (Bimas Hindu)– Di tengah semakin besarnya harapan masyarakat terhadap hadirnya sosok anggota Polri yang profesional, humanis, dan berintegritas, penguatan mental dan spiritual menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik. Berangkat dari semangat tersebut, Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sorong, Goto Wahyono, memberikan Pembinaan Rohani dan Mental (Binrohtal) kepada personel Hindu di Polda Papua Barat Daya, Kamis (2/7/2026). Mengangkat tema "Implementasi Panca Satya dalam Membangun Integritas dan Profesionalisme Anggota Polri", pembinaan ini mengajak peserta membangun integritas dari dalam diri sebelum diwujudkan dalam pelayanan kepada masyarakat.
Dalam materinya, Goto Wahyono menekankan bahwa tantangan anggota Polri saat ini tidak hanya terletak pada kemampuan menegakkan hukum, tetapi juga pada kemampuan menjaga kepercayaan masyarakat melalui sikap dan perilaku yang berlandaskan nilai moral. Menurutnya, nilai-nilai Panca Satya menjadi pedoman yang relevan bagi setiap personel Polri untuk menjalankan tugas dengan jujur, bertanggung jawab, dan berorientasi pada pelayanan.
"Integritas anggota Polri tidak cukup dibangun melalui regulasi dan pengawasan, tetapi juga melalui pembinaan karakter yang bersumber dari nilai-nilai agama. Ketika hati nurani menjadi landasan dalam setiap keputusan, maka profesionalisme akan tumbuh secara alami dan kepercayaan masyarakat pun akan semakin kuat," ujar Goto Wahyono dalam pembinaan tersebut.
Wahyono menegaskan bahwa integritas sejati harus tercermin dalam keselarasan antara hati, ucapan, dan tindakan.
"Integritas seseorang terlihat dari kesesuaian antara pikiran, perkataan, dan perbuatannya. Nilai ini sangat penting bagi anggota Polri agar setiap tindakan selalu sesuai dengan hukum, etika profesi, dan nilai-nilai kemanusiaan," tegas Goto Wahyono.
Goto Wahyono menjelaskan bahwa Panca Satya mengajarkan lima komitmen moral yang menjadi fondasi kehidupan, yakni setia pada hati nurani (Satya Hredaya), jujur dalam perkataan (Satya Wacana), menepati janji dan sumpah (Satya Semaya), membangun hubungan kerja yang harmonis (Satya Mitra), serta membuktikan nilai-nilai tersebut melalui tindakan nyata (Satya Laksana). Apabila kelima nilai ini diimplementasikan secara konsisten, anggota Polri tidak hanya mampu menjalankan tugas secara profesional, tetapi juga menjadi teladan di tengah masyarakat.
Sebagai penguat materi, Goto Wahyono mengutip ajaran Bhagawad Gita Bab III Sloka 21 yang mengingatkan bahwa setiap pemimpin dan pribadi yang menjadi teladan akan diikuti oleh masyarakat. Karena itu, setiap anggota Polri dituntut menghadirkan keteladanan melalui perilaku yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, serta selaras dengan nilai-nilai dharma dalam setiap pengabdian kepada bangsa dan negara.
Kegiatan Binrohtal diawali dengan persembahyangan bersama melalui Trisandya dan Panca Sembah, kemudian dilanjutkan dengan dharmawacana dan diskusi interaktif mengenai implementasi nilai-nilai Panca Satya dalam pelaksanaan tugas kepolisian. Melalui pembinaan yang berkesinambungan, diharapkan nilai-nilai spiritual tidak berhenti sebagai materi pembelajaran, tetapi menjadi budaya kerja yang memperkokoh integritas, meningkatkan kualitas pelayanan, serta memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri.