Tulang Bawang, Lampung (Bimas Hindu) Rahina Tilem menjadi momentum bagi umat Hindu di Desa Adat Fajar Dewata, Kecamatan Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, untuk memperkuat pemahaman terhadap ajaran agama. Momentum tersebut diisi dengan Dharma Wacana yang mengangkat tema Catur Warna dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan berlangsung di Pura Kahyangan Dalem, Desa Adat Fajar Dewata, Rabu (12/8/2026), mulai pukul 17.30 hingga 18.30 WIB. Umat Hindu setempat mengikuti rangkaian kegiatan dengan diawali mekidung bersama, kemudian persembahyangan Tilem, dan dilanjutkan Dharma Wacana.
Dharma Wacana disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Tulang Bawang, Putu Bambang Juli Hermanto. Materi diarahkan untuk memberikan pemahaman yang lebih tepat mengenai Catur Warna, khususnya dalam kaitannya dengan guna dan karma serta pelaksanaan swadharma.
Putu Bambang menjelaskan, Catur Warna merupakan ajaran yang berkaitan dengan pembagian peran dan tanggung jawab berdasarkan guna dan karma, yakni sifat, kemampuan, serta pekerjaan atau perbuatan yang dilakukan seseorang. Pemahaman tersebut penting agar setiap umat mampu menjalankan kewajibannya secara bertanggung jawab sesuai dengan swadharma masing-masing.
Landasan mengenai Catur Warna terdapat dalam Bhagavad Gita IV.13:
“Cātur-varṇyaṁ mayā sṛṣṭaṁ guṇa-karma-vibhāgaśaḥ.”
Sloka tersebut menegaskan bahwa Catur Warna berkaitan dengan pembagian berdasarkan guna dan karma. Karena itu, perbedaan peran dalam kehidupan hendaknya tidak dipandang sebagai alasan untuk membangun sekat sosial, melainkan sebagai bagian dari pembagian tanggung jawab yang dapat saling melengkapi.
“Catur Warna hendaknya dipahami sebagai tuntunan untuk melaksanakan swadharma berdasarkan guna dan karma, sehingga setiap umat dapat memberikan kontribusi terbaik bagi keluarga, masyarakat, dan kehidupan beragama,” ujar Putu Bambang.
Menurutnya, pemahaman terhadap Catur Warna tidak cukup berhenti pada aspek teoritis. Ajaran tersebut perlu diwujudkan melalui perilaku sehari-hari, seperti menghormati orang lain, melaksanakan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan tulus, serta menjaga keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Momentum Dharma Wacana pada Rahinan Tilem juga menjadi ruang bagi umat untuk melakukan introspeksi diri. Melalui perenungan dan persembahyangan, umat diajak meningkatkan sraddha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus mengevaluasi pelaksanaan swadharma dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan berlangsung tertib dan khidmat hingga selesai. Melalui pembinaan keagamaan yang dilakukan secara berkelanjutan, umat Hindu diharapkan semakin memahami ajaran Catur Warna secara proporsional dan mampu mengimplementasikan nilai guna dan karma dalam kehidupan nyata.
Dengan demikian, Catur Warna tidak sekadar dipahami sebagai konsep ajaran, tetapi menjadi pedoman bagi umat dalam menjalankan peran, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing untuk membangun kehidupan yang harmonis, saling menghargai, dan berlandaskan Dharma.
Kontributor : Ni Nyoman Novikasari