Palangka Raya (Bimas Hindu ) Kepedulian terhadap kebersihan lingkungan perlu ditanamkan sejak usia dini melalui pengalaman nyata. Semangat tersebut diwujudkan Adi Widyalaya Widya Bhakti Palangka Raya bersama ASN Bimas Hindu Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Tengah dan ASN Bimas Hindu Kementerian Agama Kota Palangka Raya melalui kegiatan Green Dharma di Pura Pitamaha Kota Palangka Raya, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut melibatkan 28 peserta didik. Para siswa membersihkan lingkungan pura mulai dari Utama Mandala hingga Nista Mandala. Dengan penuh antusias, siswa bahu-membahu menyapu dan mengumpulkan sampah untuk kemudian ditempatkan pada bak sampah. Sebagian besar sampah yang ditemukan merupakan sampah organik.
Kepala Adi Widyalaya Widya Bhakti Palangka Raya, Wayan Putu Murniati, mengatakan kegiatan Green Dharma menjadi sarana pembelajaran bagi peserta didik untuk mengenal sekaligus mempraktikkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan.
“Melalui kegiatan ini, siswa-siswi dapat belajar dan mengalami secara langsung bagaimana bekerja bersama menjaga kebersihan. Sebanyak 28 siswa sangat senang mengikuti kegiatan ini. Semoga kegiatan seperti ini dapat kami jadwalkan setiap bulan sekali,” ujar Putu.
Kepala Bidang Bimas Hindu, I Made Adnyana, yang turut hadir memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Green Dharma tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi bagian dari pelaksanaan program Green Dharma yang dicanangkan Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI, tetapi juga memiliki nilai edukatif bagi pembentukan karakter peserta didik.
“Pertama, satuan pendidikan Adi Widyalaya Widya Bhakti telah menjalankan program Green Dharma yang dicanangkan oleh Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI. Kedua, kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab sejak dini bahwa kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama,” kata Made.
Made menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi peserta didik untuk belajar bekerja sama serta membangun kebiasaan positif dalam menjaga lingkungan.
“Melalui kegiatan ini, siswa-siswi belajar menjalin kerja sama dengan sesama dalam menyelesaikan pekerjaan. Kegiatan ini juga dapat membentuk kebiasaan baik untuk menjaga lingkungan agar tetap asri,” lanjutn Made.
Lebih dari sekadar kegiatan kebersihan, Green Dharma menurut Made merupakan bentuk penerapan nilai-nilai Hindu dalam kehidupan sehari-hari. Manusia memiliki kewajiban untuk menjaga keseimbangan hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesama manusia, dan lingkungan.
“Sebagai umat manusia, kita memiliki kewajiban menjaga keseimbangan hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesama, dan lingkungan. Jika keharmonisan itu terwujud, maka kehidupan akan damai dan membawa kebahagiaan,” ungkap Made.
Made menegaskan, penguatan ekoteologi melalui kegiatan Green Dharma tidak hanya mendukung implementasi Asta Protas Kementerian Agama, tetapi juga selaras dengan ajaran Hindu tentang Tri Hita Karana. Nilai tersebut mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.
Melalui keterlibatan peserta didik secara langsung, Green Dharma diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan bersih-bersih lingkungan, tetapi menjadi proses pendidikan karakter yang menumbuhkan kesadaran bahwa merawat alam merupakan bagian dari pengamalan ajaran agama. Dengan demikian, kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh menjadi kebiasaan yang dibawa peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Kontributor: I Made Arya