Lampung Tengah (Bimas Hindu) - Keragaman agama di lingkungan sekolah menjadi ruang untuk menanamkan toleransi dan persaudaraan sejak dini. Di SDN 4 Reno Basuki, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Lampung Tengah, siswa beragama Hindu, Islam, dan Katolik mengikuti Doa Bersama Kebhinnekaan untuk mendoakan keselamatan masyarakat Indonesia di tengah berbagai bencana, Sabtu (12/9/2026).
Doa bersama itu menjadi bagian dari pembelajaran nilai kebhinnekaan di lingkungan pendidikan. Para siswa tidak hanya diajak memanjatkan doa, tetapi juga mengenal pentingnya menghormati perbedaan keyakinan, menjaga kerukunan, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Guru Pendidikan Agama Hindu SDN 4 Reno Basuki, Nyoman Sastrawan, S.Pd., yang hadir sebagai pembina siswa Hindu, mengatakan pendidikan agama memiliki peran lebih luas daripada sekadar memberikan pemahaman tentang ajaran keagamaan. Pendidikan juga menjadi ruang untuk membentuk karakter peserta didik agar mampu hidup berdampingan dan peduli terhadap kondisi orang lain.
“Melalui kegiatan doa bersama kebhinnekaan ini, anak-anak belajar untuk memanjatkan doa demi keselamatan bangsa dan masyarakat Indonesia yang sedang menghadapi berbagai bencana. Mereka juga belajar bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi kekuatan untuk membangun persaudaraan,” ujar Nyoman.
Menurutnya, siswa tetap perlu memiliki keteguhan dalam menjalankan ajaran agamanya sekaligus menghormati pemeluk agama lain. Sikap tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan sekolah yang rukun dan terbuka terhadap keberagaman.
Nilai moderasi beragama, lanjut Nyoman, perlu dikenalkan sejak usia dini melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, sikap tidak memaksakan kehendak, serta kepedulian terhadap sesama tidak cukup hanya disampaikan sebagai materi, tetapi perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Karena itu, sejak di bangku sekolah mereka perlu dibiasakan untuk hidup rukun, saling menghargai, dan bekerja sama tanpa melihat perbedaan agama, suku maupun latar belakang,” katanya.
Doa bersama juga menjadi momentum bagi para siswa untuk menunjukkan kepedulian kepada masyarakat yang sedang menghadapi musibah. Perbedaan keyakinan tidak menghalangi mereka untuk menyatukan harapan melalui doa bagi keselamatan dan ketabahan masyarakat Indonesia.
Bagi lingkungan sekolah, pembiasaan semacam ini dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter peserta didik. Kebhinnekaan tidak ditempatkan sebatas konsep, tetapi diperkenalkan melalui interaksi dan pengalaman bersama yang menumbuhkan sikap saling menghormati.
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan agama dapat berjalan beriringan dengan penguatan kerukunan. Setiap siswa tetap menjalankan keyakinannya masing-masing, sementara nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan kepedulian menjadi titik temu dalam kehidupan bersama.
Doa yang dipanjatkan para siswa menjadi ikhtiar spiritual sekaligus pesan tentang pentingnya persatuan. Dari lingkungan sekolah, semangat kebhinnekaan dibangun melalui kebiasaan sederhana: saling menghargai, hidup rukun, dan peduli ketika sesama menghadapi kesulitan.
Kontributor : ketut suwarta