Pesisir Barat (Bimas Hindu) — Merawat kelestarian warisan tradisi keagamaan serta memupuk kesadaran sejarah sastra Nusantara, edukasi pengenalan aksara Kawi dan bahasa Jawa Kuno digelar bagi puluhan anak-anak Pasraman Saraswati di Desa Adat Marang, Kecamatan Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, Minggu (13/9/2026).
Kegiatan pembinaan literasi suci yang diikuti oleh 46 siswa pasraman tersebut dipandu oleh Pembimbing Keagamaan KUA Ngambur, Aris Biantoro, berkolaborasi dengan Pembina Pasraman Saraswati, Nengah Parti.
Pengajaran aksara Kawi ini menjadi langkah penting mengingat komunitas Hindu di Desa Adat Marang bermukim di wilayah perantauan yang jauh dari pusat komunitas etnis asal, serta hidup berdampingan di tengah lingkungan masyarakat adat Lampung.
Pembimbing Keagamaan KUA Ngambur, Aris Biantoro, menegaskan bahwa keterbatasan berada di tanah perantauan tidak boleh mengikis pemahaman generasi muda terhadap identitas dan sejarah panjang Hindu Nusantara.
“Walaupun kita hidup di perantauan dan berada di lingkungan masyarakat adat Lampung, kita tetap berusaha merawat serta mengenalkan aksara Kawi kepada anak-anak. Paling tidak, generasi muda mengetahui bahwa perkembangan ajaran Hindu di Nusantara tidak terlepas dari sejarah bahasa dan aksara Kawi,” ujar Aris Biantoro.
Ia menjelaskan bahwa penguasaan aksara dan bahasa Jawa Kuno memiliki peran vital dalam menjaga keautentikan karya sastra keagamaan, seperti tembang sekar madya dan sekar agung yang hingga kini kerap dilantunkan dalam pelaksanaan upacara di pura.
“Bahasa Jawa Kuno masih sering kita dengarkan dalam pelaksanaan upacara keagamaan di pura melalui kekidungan. Jika tidak dikenalkan sejak dini, bukan tidak mungkin aksara Kawi dan bahasa Jawa Kuno semakin asing bagi generasi penerus,” tambahnya.
Melalui pendampingan pendidikan pasraman berbasis penguatan khazanah lokal ini, Kementerian Agama Kabupaten Pesisir Barat berkomitmen untuk terus membina generasi muda Hindu agar tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, berbudaya, serta teguh merawat warisan leluhur Nusantara.
Kontributor: Wayan Suryadi Desta