Kupas Makna Keikhlasan dalam Bhagawadgita, Penyuluh Agama Hindu Berikan Pencerahan Rohani di Tiyuh Tirta Makmur

Penyuluh Agama Hindu Berikan Pencerahan Rohani di Tiyuh Tirta Makmur

TULANG BAWANG BARAT (BIMAS HINDU) – Keindahan lantunan kidung suci sesungguhnya tidak hanya terletak pada kemerduan suara, melainkan pada kedalaman pemahaman akan nilai-nilai susastra yang disuarakan. Mengusung semangat untuk memperdalam hakikat kehidupan dan spiritualitas keagamaan, Penyuluh Agama Hindu memberikan pencerahan rohani melalui kegiatan pesantian yang diselenggarakan bersama kelompok Wanita Hindu Dharma Indonesia di Tiyuh Tirta Makmur, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat pada Rabu (22/07/2026).

Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh kekhusyukan ini menghadirkan Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Tulang Bawang Barat, Eko Sri Wulan, sebagai narasumber utama. Dalam pencerahannya, ia mengupas secara komprehensif makna filosofis dari susastra suci Bhagawadgita Bab delapan sloka empat, sebagai landasan bagi umat dalam memahami hubungan antara alam semesta, kekuatan ilahi, dan esensi persembahan suci.

Eko Sri Wulan menjabarkan bahwa sloka tersebut memuat tiga hakikat esensial, yakni Adhibhuta, Adhidaiva, dan Adhiyajña. Ia menjelaskan bahwa bentuk fisik tubuh, harta benda, dan kedudukan duniawi hanyalah bagian dari Adhibhuta yang pada hakikatnya bersifat fana, dapat berubah, dan pada akhirnya akan hancur. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya pembinaan rohani ketimbang kelekatan pada hal-hal yang bersifat materiil.

"Bhagawadgita mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang tampak di dunia ini bersifat sementara. Namun, kesadaran untuk selalu mengingat Tuhan dan melaksanakan yadnya dengan hati yang tulus merupakan bekal abadi yang akan menuntun kehidupan kita menuju kedamaian sejati," ujar Eko Sri Wulan di hadapan para peserta.

Kegiatan pembinaan keagamaan ini dihadiri dengan antusias oleh seluruh anggota Wanita Hindu Dharma Indonesia dari Tiyuh Tirta Makmur. Melalui pesantian yang menjadi wadah pembelajaran susastra, narasumber mengajak para perempuan Hindu untuk meresapi makna kidung yang dilantunkan agar menjadi sarana peningkatan ketakwaan dan bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

"Ketika kita memahami Bhagawadgita, maka setiap persembahyangan, setiap yadnya, bahkan setiap pekerjaan yang dilakukan dengan ketulusan tanpa mengharapkan hasil akan menjadi persembahan suci kepada Tuhan. Inilah makna Adhiyajña yang sesungguhnya," tambahnya memberikan penegasan mengenai konsep pengabdian tanpa pamrih.

Melalui pencerahan ini, kaum perempuan Hindu diharapkan semakin kokoh dalam mengimplementasikan ajaran ajaran kebenaran dalam keseharian. Pemahaman ini sangat esensial dalam membangun keharmonisan keluarga, meningkatkan kualitas persembahyangan, serta mempertegas peran sentral anggota Wanita Hindu Dharma Indonesia sebagai pilar utama pelestari tradisi dan nilai-nilai luhur agama.


Berita Daerah LAINNYA