Klaten (Bimas Hindu) – Sebanyak 45 mahasiswa STAHN Jawa Dwipa mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karawitan sebagai ruang untuk mempelajari sekaligus mempraktikkan seni musik tradisional Jawa di lingkungan perguruan tinggi.
Kegiatan yang dilaksanakan dua kali dalam sepekan, setiap Senin dan Kamis, itu menjadi bagian dari upaya kampus menjaga keberlanjutan budaya Jawa melalui keterlibatan generasi muda.
Pembina UKM Karawitan STAHN Jawa Dwipa, I Kadek Dwi Santika, mengatakan pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan generasi muda agar kesenian tradisional tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi terus dipraktikkan dan dikembangkan.
“Pelestarian budaya perlu melibatkan generasi muda. Mahasiswa tidak hanya memahami budaya Jawa secara teoritis, tetapi juga memiliki pengalaman untuk mempraktikkan dan mengembangkannya,” ujar I Kadek Dwi Santika di sela-sela latihan di Klaten, Senin (28/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa mempelajari teknik memainkan berbagai instrumen gamelan, mengenal gending-gending Jawa, serta berlatih mengiringi kegiatan persembahyangan menggunakan kidung-kidung Jawa.
Menurut I Kadek, UKM Karawitan diarahkan menjadi salah satu program unggulan karena karawitan merupakan bagian dari kekayaan budaya Jawa yang perlu mendapat ruang di kalangan generasi muda.
“UKM Karawitan kami dorong menjadi salah satu program unggulan, mengingat karawitan menjadi bagian dari kekayaan budaya Jawa yang harus dijaga. Kami berharap mahasiswa tidak hanya menikmati budaya, tetapi memiliki rasa kepedulian untuk menjaga dan mengembangkannya,” katanya.
Selain kemampuan memainkan gamelan, latihan karawitan juga memperkenalkan mahasiswa pada nilai kerja sama. Setiap instrumen memiliki fungsi dan karakter berbeda sehingga pemain harus mampu menyesuaikan diri dengan instrumen lainnya untuk membentuk satu kesatuan irama.
Pola tersebut membuat proses latihan tidak hanya berorientasi pada keterampilan bermusik, tetapi juga menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya kebersamaan, kedisiplinan dan saling melengkapi dalam sebuah kelompok.
Sebagai perguruan tinggi agama Hindu negeri di Pulau Jawa, STAHN Jawa Dwipa menempatkan karawitan sebagai salah satu ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan kebudayaan Jawa. Seni tradisi tersebut juga memiliki keterkaitan dengan kehidupan keagamaan melalui penggunaan gending dan kidung Jawa dalam kegiatan persembahyangan.
Kegiatan itu sekaligus menghidupkan semangat nguri-uri kabudayan Jawa, yakni menjaga keberadaan budaya agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Lingkungan kampus menjadi salah satu ruang yang memungkinkan proses pewarisan tersebut berlangsung melalui pengalaman langsung mahasiswa.
Dari latihan rutin yang dilakukan dua kali sepekan, karawitan tidak hanya dipelajari sebagai seni pertunjukan, tetapi juga ditempatkan sebagai bagian dari proses pembentukan kepedulian mahasiswa terhadap budaya lokal.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui pendidikan dengan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal, memainkan, dan mengembangkan kesenian tradisional tanpa melepaskan nilai-nilai yang menjadi dasar keberadaannya.
Kontributor : Toto Margiyono