Buda Wage Langkir

Apakah Kita Sudah Menjadi Manusia? Refleksi Buda Wage Langkir dalam Semangat Kemenag Berdampak

Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulang Bawang Barat, Eko Sriwulan memberikan pembinaan kepada umat Hindu pada peringatan Buda Wage Langkir di Pura Dharma Putra, Tiyuh Murni Jaya, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat

Tulang Bawang Barat (Bimas Hindu) – "Apakah kita sudah benar-benar menjadi manusia, atau hanya sekadar menjalani hidup?" Pertanyaan reflektif tersebut menjadi inti pembinaan kepada umat Hindu pada peringatan Buda Wage Langkir di Pura Dharma Putra, Tiyuh Murni Jaya, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat, Rabu malam (2/7/2026). Lebih dari sekadar tema ceramah, pertanyaan itu mengajak umat berhenti sejenak dari rutinitas untuk merenungkan kembali hakikat kelahiran sebagai manusia.

Momentum Buda Wage Langkir yang dalam tradisi Hindu dipersembahkan untuk memuja Sang Hyang Sri Nini sebagai simbol kemakmuran dimaknai lebih mendalam oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulang Bawang Barat, Eko Sriwulan. Menurutnya, kemakmuran sejati bukan hanya diukur dari kecukupan materi, tetapi juga dari kualitas moral dan spiritual manusia.

Melalui kegiatan pembinaan tersebut, Kementerian Agama terus menghadirkan Kemenag Berdampak, yakni pelayanan keagamaan yang tidak berhenti pada aspek administratif, tetapi menyentuh pembinaan karakter dan penguatan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.

"Menjadi manusia adalah sebuah anugerah sekaligus tanggung jawab besar. Kita tidak boleh hanya sekadar hidup atau bernapas, tetapi harus mampu memanusiakan diri melalui peningkatan kualitas moral, pengendalian diri (dama), dan pengabdian yang tulus kepada sesama serta Ida Sang Hyang Widhi Wasa," ujar Eko Sriwulan.

Ia menjelaskan bahwa hakikat menjadi manusia diwujudkan melalui pengamalan Tri Kaya Parisudha, yakni berpikir baik (Manacika), berkata baik (Wacika), dan berbuat baik (Kayika). Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam membentuk pribadi yang berintegritas sekaligus mampu memberikan manfaat bagi lingkungan.

Eko juga mengingatkan bahwa Buda Wage Langkir merupakan saat yang tepat untuk melakukan introspeksi diri. Sejalan dengan ajaran Sarasamuscaya Sloka 4, manusia merupakan makhluk yang dianugerahi kemampuan wiweka untuk membedakan perbuatan baik (Subha Karma) dan buruk (Asubha Karma), sehingga memiliki kesempatan untuk terus memperbaiki kualitas hidupnya.

"Kemakmuran yang kita mohonkan pada Buda Wage Langkir hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai keberlimpahan materi, tetapi juga sebagai kekayaan batin, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk terus berbuat baik. Itulah makna manusia sejati yang perlu kita bangun setiap hari," tutupnya.

Kegiatan pembinaan ini diharapkan terus berkelanjutan sebagai bagian dari komitmen Kemenag Berdampak dalam menghadirkan layanan keagamaan yang memperkuat Sradha dan Bhakti, membangun karakter umat, serta memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.


Berita Daerah LAINNYA