Menanam Benih Kebajikan: Refleksi Perjalanan Angkatan Pertama Pratama Widyalaya Sari Mekar

Pelepasan Siswa Angkatan Pertama Pratama Widyalaya (PW) Sari Mekar Tahun Ajaran 2025–2026

Bantul (BIMAS HINDU) – Menanamkan nilai kehidupan pada usia dini bukanlah soal seberapa banyak ilmu yang dihafal, melainkan seberapa dalam karakter dan keberanian tertanam di dalam jiwa. Prinsip inilah yang menjadi napas dalam acara Pelepasan Siswa Angkatan Pertama Pratama Widyalaya (PW) Sari Mekar Tahun Ajaran 2025–2026, Kamis (25/06/2026).

Bagi PW Sari Mekar, acara ini bukanlah sekadar seremoni perpisahan, melainkan sebuah refleksi atas proses pertumbuhan empat anak yang menjadi angkatan pertama lembaga pendidikan ini. Di balik pentas seni dan lantunan doa yang dibawakan oleh anak-anak, terdapat sebuah perjalanan panjang pembentukan jati diri yang dilakukan dengan penuh dedikasi dan cinta.

Kepala PW Sari Mekar, Santi Kumala Dewi, memaknai kelulusan angkatan pertama ini sebagai tonggak awal. Meskipun meniti langkah dari tahap yang paling dasar, keberhasilan anak-anak ini adalah bukti bahwa pendidikan Hindu mampu menjadi wadah yang memanusiakan anak dengan nilai-nilai kebajikan sejak dini.

Ketua Yayasan Dharma Susila, Wayan T. Artama, menegaskan bahwa nilai utama dari sebuah lembaga pendidikan Hindu terletak pada kemampuannya menjadi "rumah" pembentuk karakter. Ia memandang PW Sari Mekar harus terus bertransformasi menjadi pusat persemaian nilai, di mana setiap anak tidak hanya diajarkan untuk cerdas, tetapi juga memiliki fondasi moral yang kokoh.

"Pratama Widyalaya harus mampu memperkuat jati dirinya sebagai pusat pendidikan pembentuk karakter. Inilah nilai yang akan membedakan dan menjadi daya tarik utama bagi masyarakat, yakni bagaimana kita membangun fondasi etika pada masa emas pertumbuhan anak."

Senada dengan hal tersebut, Pengelola Pendidikan Bimas Hindu DIY, Riyanta, melihat bahwa keberanian anak-anak tampil dalam pentas seni dan kelancaran mereka dalam membawakan doa sehari-hari adalah hasil nyata dari proses pendidikan yang membebaskan kreativitas. Bagi Riyanta, pendidikan yang sesungguhnya adalah ketika anak mampu memunculkan potensi terbaik dari dalam dirinya dengan penuh percaya diri.

"Pendidikan terbaik bukan sekadar menuntut anak untuk tahu, tetapi membentuk keberanian, karakter, dan kreativitas sejak usia dini. Penampilan anak-anak ini adalah bukti bahwa PW Sari Mekar telah berhasil memberikan ruang bagi tumbuhnya keberanian dan nilai-nilai kehidupan yang akan menjadi fondasi generasi masa depan."

Momen penyerahan kembali siswa kepada orang tua menjadi simbol transisi yang menyentuh. Di sana, peran guru yang penuh kesabaran dan dedikasi bertransformasi menjadi bibit-bibit karakter yang siap dibawa pulang oleh orang tua untuk terus dikembangkan.

Apa yang terjadi di PW Sari Mekar adalah pengingat bahwa pendidikan Hindu yang sesungguhnya adalah tentang menanamkan dedikasi. Melalui ruang kelas yang dipenuhi cinta, seni yang memicu imajinasi, dan spiritualitas yang membumi, lembaga ini telah membuktikan bahwa generasi Hindu yang percaya diri dan berakhlak mulia dapat dibentuk melalui ketulusan pendidikan di usia dini.


Berita Daerah LAINNYA