Gianyar (Bimas Hindu)
— "Keberhasilan Utsawa Dharma Gita tidak hanya diukur dari prestasi yang diraih, tetapi dari sejauh mana peserta mampu memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai suci yang terkandung dalam Dharma Gita dalam kehidupan sehari-hari."
Pernyataan tersebut menjadi penekanan Kepala Bidang Urusan Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali, I Wayan Diadnyana, dalam kegiatan Pembinaan Utsawa Dharma Gita (UDG) Kabupaten Gianyar.
Menurutnya, Utsawa Dharma Gita bukan sekadar ajang perlombaan untuk menampilkan kemampuan membaca dan melagukan kitab suci Hindu. Lebih dari itu, UDG merupakan media pembinaan umat yang bertujuan menumbuhkan kecintaan terhadap sastra suci Hindu, memperkuat sradha dan bhakti, serta membentuk generasi yang mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai ajaran Hindu dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat pembinaan tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pembinaan Utsawa Dharma Gita Kabupaten Gianyar yang dirangkaikan dengan penyerahan Pedoman Utsawa Dharma Gita Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di Museum Subak Masceti, Kabupaten Gianyar, ini dihadiri Kepala Bidang Urusan Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, I Wayan Diadnyana, bersama Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum.
Pembinaan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman peserta terhadap tata pelaksanaan Utsawa Dharma Gita sekaligus memperkuat kualitas pembinaan seni membaca dan melantunkan kitab suci Hindu. Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana menyamakan persepsi peserta, pembina, dan panitia terhadap ketentuan yang tertuang dalam Pedoman Utsawa Dharma Gita Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 sehingga proses pembinaan di setiap daerah dapat berjalan lebih terarah dan berkualitas.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. I Nyoman Suarka memberikan pembekalan mengenai pentingnya memahami substansi Dharma Gita. Menurutnya, kemampuan melantunkan teks suci harus diimbangi dengan pemahaman terhadap makna filosofis yang terkandung di dalamnya sehingga nilai-nilai ajaran Hindu tidak berhenti pada aspek pelafalan, tetapi dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai bagian dari penguatan pembinaan, dilakukan pula penyerahan Pedoman Utsawa Dharma Gita Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kepada panitia dan peserta. Pedoman tersebut menjadi acuan resmi dalam pelaksanaan pembinaan maupun penyelenggaraan Utsawa Dharma Gita di tingkat kabupaten hingga provinsi.
Melalui pembinaan yang berkesinambungan, pelaksanaan Utsawa Dharma Gita diharapkan tidak hanya melahirkan peserta yang berprestasi di atas panggung, tetapi juga generasi Hindu yang memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Dharma sebagai pedoman hidup. Dengan demikian, Utsawa Dharma Gita menjadi wahana strategis dalam membangun kualitas kehidupan beragama sekaligus melestarikan warisan sastra suci Hindu bagi generasi penerus.