Menyemai Damai dari Ruang Kelas: Kisah Penyuluh Agama Hindu Boyolali Runtuhkan Sekat Perbedaan Melalui Cerita

Para siswa menerima pemaparan materi mengenai implementasi moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari. Materi ini disampaikan langsung oleh Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Boyolali, Dwi Setyawan.

Boyolali (Bimas Hindu) – Di bawah atap aula SD Negeri 2 Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, riuh tawa anak-anak mendadak senyap berganti antusiasme yang hangat. Hari itu, Jumat (19/6/2026), suasana sekolah terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada batasan atau sekat etnis dan keyakinan, yang ada hanyalah ratusan pasang mata anak-anak yang berbinar mendengar untaian cerita tentang indahnya hidup berdampingan.

Melalui program bulanan bertajuk "Jumat Rohani", sekolah ini membuktikan bahwa merajut kerukunan dan merawat kebinekaan harus dimulai dari bangku sekolah dasar, tempat di mana fondasi karakter seorang anak pertama kali dibentuk.

Kegiatan pagi itu diawali dengan pelaksanaan ibadah penunjang rohani yang khusyuk. Siswa-siswi beragama Islam, Kristen, dan Hindu bergegas menuju ruangan terpisah yang telah disiapkan sekolah, didampingi oleh guru agama masing-masing. Namun, esensi toleransi yang sesungguhnya justru terpancar sesaat setelah ritual keagamaan selesai. Bukannya menjauh, sekitar 130 siswa dari berbagai latar belakang agama tersebut justru membaur menjadi satu, duduk bersila berdampingan di aula sekolah tanpa ada jarak.

Kepala SDN 2 Jembungan, Nuning Setyawati Rahayu, mengungkapkan bahwa perbedaan keyakinan seyogianya dipandang sebagai anugerah, bukan pemisah. “Kami ingin menanamkan pemahaman bahwa perbedaan keyakinan bukanlah sebuah sekat, melainkan warna yang memperindah lingkungan sekolah. Saling menghargai harus menjadi fondasi utama mereka dalam berteman,” tutur Nuning dengan penuh ketulusan.

Puncak dari kehangatan acara hari itu diisi oleh kehadiran Dwi Setyawan, S.Ag, seorang Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Boyolali. Alih-alih menyampaikan materi doktrinal yang kaku dan berat, Dwi mengemas nilai-nilai moderasi beragama secara interaktif, aplikatif, dan menyenangkan lewat metode berkisah serta dialog santai.

Sebagai garda terdepan Kementerian Agama di masyarakat, peran Dwi tidak sekadar mengajar umat Hindu, melainkan merangkul semua elemen masyarakat guna menguatkan kohesi sosial. Di hadapan anak-anak sekolah dasar, ia menerjemahkan konsep besar "Moderasi Beragama" menjadi tindakan-tindakan kecil harian, seperti bagaimana berbagi mainan dengan teman yang berbeda agama, hingga sikap saling menghormati saat waktu ibadah tiba.

"Mengenalkan moderasi beragama pada anak-anak tingkat sekolah dasar membutuhkan pendekatan yang sederhana dan aplikatif," ujar Dwi Setyawan tersenyum. Ia mengaku bangga dan tersentuh melihat kepolosan anak-anak yang aktif bertanya mengenai cara-cara konkret menghargai perbedaan saat bermain bersama.

Apa yang disemai oleh pihak sekolah dan Penyuluh Agama Hindu di SDN 2 Jembungan ini merupakan investasi besar jangka panjang. Konsistensi kegiatan "Jumat Rohani" ini diharapkan mampu menancapkan nilai-nilai toleransi secara mendalam di sanubari para siswa.

Output yang ingin dicapai bukan sekadar nilai akademik di atas kertas, melainkan lahirnya generasi muda Indonesia yang ramah, inklusif, toleran, serta siap menjadi agen yang merawat harmoni bangsa di tengah masyarakat luas. Dari Boyolali, anak-anak ini belajar satu hal berharga: bahwa berteman baik tidak butuh iman yang seragam, melainkan hati yang saling menghargai.


Berita Daerah LAINNYA