Remaja Hindu Klaten Didorong Lebih Siap Hadapi Persoalan lewat RBKS dan Konseling

Kenali diri, kelola persoalan, tumbuh menjadi generasi yang berkarakter.

Klaten (Bimas Hindu) - Persoalan remaja tidak cukup dihadapi dengan nasihat, tetapi membutuhkan ruang dialog, pendampingan, dan kemampuan mengenali diri. Perspektif tersebut menjadi fokus sosialisasi Remaja Bina Keluarga Sakinah (RBKS) dan pembinaan remaja Hindu yang digelar di Pura Satya Dharma Putra, Desa Jiwan, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten.

Kegiatan ini diikuti remaja Hindu, penyangga pura, PHDI Desa Jiwan beserta jajaran pengurus, Penyuluh Agama Hindu yang tergabung dalam Pokjaluh Hindu Kabupaten Klaten, serta pengurus RBKS Kabupaten Klaten.

Pembinaan menghadirkan dua materi utama, yakni pengenalan RBKS dan konseling remaja. Materi RBKS disampaikan Basuki dengan menyoroti masa remaja sebagai periode penting dalam pembentukan pola pikir, sikap, dan karakter.

Menurut Basuki, proses tersebut membutuhkan lingkungan yang memberikan ruang aman bagi remaja untuk bertumbuh, berdiskusi, dan mengembangkan potensi. Pendampingan juga diperlukan agar remaja memiliki bekal dalam menghadapi perubahan dan persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

“Masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan pola pikir, sikap, dan karakter. Karena itu, remaja membutuhkan lingkungan yang mampu memberikan pendampingan, perhatian, serta ruang positif untuk berkembang,” ujar Basuki.

Materi berikutnya berupa konseling remaja yang disampaikan Popon Purnamasari. Peserta diajak melihat konseling sebagai sarana untuk memahami diri, mengelola emosi, mengurai persoalan, sekaligus menemukan pilihan penyelesaian yang sehat.

Pendekatan tersebut dinilai relevan karena persoalan remaja dapat muncul dari berbagai lingkungan, baik keluarga, pertemanan, pendidikan maupun kehidupan sosial. Kemampuan berkomunikasi dan mengambil keputusan menjadi bagian yang perlu terus dilatih.

“Konseling bukan hanya tempat menyampaikan masalah, tetapi juga ruang bagi remaja untuk mengenali dirinya, memahami perasaannya, dan menemukan cara yang lebih sehat dalam menghadapi persoalan,” kata Popon Purnamasari.

Pembinaan juga menempatkan Penyuluh Agama Hindu sebagai bagian dari ekosistem pendampingan remaja. Peran penyuluh tidak berhenti pada penyampaian materi keagamaan, tetapi berkembang pada edukasi, motivasi, komunikasi, dan pendampingan sesuai kebutuhan umat.

Kolaborasi dengan PHDI, pengurus RBKS, penyangga pura, keluarga, dan masyarakat menjadi penting untuk memastikan pendampingan tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Lingkungan terdekat remaja menjadi ruang pertama untuk mengenali perubahan perilaku, mendengar persoalan, dan memberikan dukungan.

Basuki menilai keberadaan ruang pembinaan seperti RBKS dapat menjadi jembatan antara remaja, keluarga, dan lingkungan sosial. Dengan komunikasi yang terbuka, persoalan yang muncul dapat dibicarakan lebih awal sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks.

“Pembinaan remaja perlu dilakukan secara berkelanjutan agar mereka memiliki bekal untuk menghadapi tantangan kehidupan dengan sikap bijaksana, bertanggung jawab, dan tetap memiliki pijakan nilai agama,” ujar Basuki.

Kegiatan di Pura Satya Dharma Putra tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan generasi muda membutuhkan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Penguatan nilai agama berjalan berdampingan dengan kemampuan mengelola diri, membangun komunikasi, dan mengambil keputusan.

Bagi remaja Hindu Klaten, ruang pembinaan semacam ini menjadi bagian dari proses menyiapkan generasi yang tidak hanya memahami nilai keagamaan, tetapi juga mampu menerapkannya ketika berhadapan dengan persoalan keluarga, pendidikan, pertemanan, dan kehidupan sosial.

 

Kontributor : I Made Juni Saputra


Berita Daerah LAINNYA