Selaras Asta Protas Kemenag RI, Penyuluh Karangasem Tanamkan Nilai Cinta Kemanusiaan dan Satwa Lewat Tumpek Kandang

Bimbingan bertema "Implementasi Tumpek Kandang dalam Penguatan Karakter Generasi Muda Hindu"

Karangasem (Bimas Hindu) — Mengaktualisasikan Program Prioritas Asta Protas Kemenag RI 2025–2029 dalam memperkuat nilai cinta kemanusiaan dan kelestarian lingkungan, Penyuluh Kemenag Kabupaten Karangasem mengedukasi pemuda adat Sekaa Teruna Tunas Mekar mengenai teologi pemuliaan satwa Tumpek Kandang di Banjar Adat Karanganyar, Desa Adat Nyuhtebel, Manggis, Sabtu (5/9/2026).

Kegiatan bimbingan bertema "Implementasi Tumpek Kandang dalam Penguatan Karakter Generasi Muda Hindu" ini diselenggarakan untuk membekali 24 pengurus dan anggota pemuda adat agar memahami bahwa ajaran moderasi beragama Hindu (Tri Hita Karana) tidak hanya mengatur hubungan sesama manusia, melainkan mencakup welas asih dan penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup.

Dalam kesempatan tersebut, Penata Layanan Operasional (PLO) Kecamatan Manggis, I Ketut Sudarma, menjelaskan bahwa peringatan hari suci Tumpek Kandang yang jatuh setiap enam bulan sekali pada Sanicara Kliwon Wuku Uye merupakan momentum teologis untuk menegakkan prinsip Ahimsa (pantang menyakiti/membunuh secara semena-mena).

"Implementasi hari suci Tumpek Kandang adalah dengan tidak membunuh atau menyakiti makhluk hidup lainnya. Menjaga kehidupan makhluk lain merupakan wujud Dharma tertinggi yang selaras dengan misi Kemenag RI dalam menumbuhkan rasa cinta kemanusiaan dan kasih sayang terhadap alam semesta," ujar Ketut Sudarma.

Penjelasan tersebut dipertegas oleh I Wayan Mangku yang menggarisbawahi bahwa pemuliaan Sang Hyang Rare Angon (manifestasi Tuhan sebagai pelindung satwa) melalui Tumpek Kandang bukanlah bentuk pemujaan fisik terhadap hewan, melainkan kesadaran spiritual untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

"Tidak membunuh atau menyakiti makhluk lain merupakan pengejawantahan nyata dari ajaran Ahimsa. Tumpek Kandang bukan upacara memuja hewan, melainkan wujud rasa syukur kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Rare Angon agar kehidupan di bumi tetap seimbang, harmonis, dan lestari," tegas Wayan Mangku.

Melalui bimbingan ini, Kemenag Karangasem berkomitmen menjadikan Sekaa Teruna sebagai pelopor gerakan Eco-Dharma di tingkat desa adat, guna memastikan ajaran keagamaan mampu menjadi solusi atas tantangan kelestarian lingkungan hidup dan perlindungan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.

 

Kontributor: Finxi


Berita Daerah LAINNYA