Syukur Bukan Alasan Berhenti Berusaha, Penyuluh Hindu Klungkung Angkat Pesan Bhagavad Gita

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung Ni Wayan Novitasari menyampaikan pesan Dharma melalui siaran Radio Srinadi FM

Klungkung (Bimas Hindu) Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha. Dalam ajaran Hindu, rasa syukur justru dapat menjadi kekuatan untuk menjalankan kewajiban dengan sungguh-sungguh, tulus, dan bijaksana dalam menerima setiap hasil. Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Klungkung, Ni Wayan Novitasari, melalui siaran Radio Srinadi FM, Selasa (11/8/2026).

Mengangkat tema “Syukur, Bhakti, dan Keharmonisan: Menjalani Kehidupan Sesuai Ajaran Hindu”, Novitasari mengajak pendengar melihat rasa syukur bukan sekadar ungkapan dalam doa dan persembahyangan, tetapi sebagai sikap yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.

“Penyuluhan ini membahas pentingnya menumbuhkan rasa syukur sebagai salah satu bentuk sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Rasa syukur tidak hanya diwujudkan melalui doa dan persembahyangan, tetapi juga melalui perilaku yang mencerminkan ajaran Dharma dalam kehidupan sehari-hari,” papar Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, Ni Wayan Novitasari.

Menurut Novitasari, kehidupan merupakan anugerah yang patut disyukuri. Namun, rasa syukur tidak seharusnya membuat seseorang pasif terhadap keadaan. Umat Hindu tetap dituntut menjalankan kewajiban dengan penuh kesadaran dan ketulusan serta berusaha melakukan perbuatan yang sesuai dengan Dharma.

Pesan tersebut diperkuat melalui ajaran Bhagavad Gita III.19, yang mengajarkan pentingnya melaksanakan kewajiban dengan sungguh-sungguh dan tulus tanpa terlalu terikat pada hasil.

Ajaran tersebut memberikan perspektif bahwa manusia tetap harus bekerja dan menjalankan kewajibannya, sementara hasil tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Karena itu, rasa syukur bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan menjadi sikap batin dalam menerima hasil dari setiap usaha dengan bijaksana.

Syukur yang Berbuah Keharmonisan

Selain membahas hubungan antara syukur, bhakti, dan kewajiban, penyuluhan juga mengangkat Tri Hita Karana sebagai landasan dalam membangun kehidupan yang harmonis.

Melalui konsep tersebut, umat diajak menjaga keseimbangan tiga hubungan, yakni Parahyangan, hubungan harmonis manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa; Pawongan, hubungan harmonis antarsesama manusia; serta Palemahan, hubungan harmonis manusia dengan alam lingkungan.

“Materi penyuluhan juga mengangkat ajaran Tri Hita Karana, yang mengajarkan pentingnya menjaga keharmonisan dalam tiga hubungan, yaitu Parahyangan, hubungan harmonis antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa; Pawongan, hubungan harmonis antarsesama manusia; serta Palemahan, hubungan harmonis antara manusia dengan alam lingkungan,” sambung Novitasari

Dari pembahasan tersebut, rasa syukur ditempatkan sebagai nilai yang memiliki konsekuensi dalam kehidupan. Syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak hanya diwujudkan secara vertikal melalui persembahyangan, tetapi juga melalui kepedulian, kasih sayang, sikap saling menghormati, dan kemauan membantu sesama.

Dengan demikian, keharmonisan tidak cukup dibangun melalui kata-kata. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, maupun lingkungan.

Layanan Keagamaan yang Dekat dengan Umat

Penyampaian materi melalui radio menjadi salah satu cara memperluas jangkauan layanan keagamaan. Pesan Dharma dapat hadir di tengah aktivitas masyarakat melalui media yang dekat dengan keseharian pendengar.

Kehadiran penyuluhan melalui Radio Srinadi FM menunjukkan bahwa layanan keagamaan tidak hanya berlangsung di pura, balai pertemuan, atau ruang-ruang formal. Media komunikasi juga dapat menjadi ruang untuk menyampaikan nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat secara lebih luas.

Kegiatan tersebut sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama RI, khususnya Layanan Keagamaan Berdampak, melalui penyebarluasan nilai-nilai keagamaan yang mudah diakses masyarakat. Pesan tentang kepedulian, saling menghormati, dan hidup harmonis juga selaras dengan semangat Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan.

Melalui pesan sederhana tentang syukur, penyuluhan tersebut mengajak umat melihat kembali makna menjalani kehidupan: menerima kehidupan sebagai anugerah, tetap menjalankan kewajiban dengan sungguh-sungguh, tidak larut dalam keterikatan terhadap hasil, serta menjadikan Dharma sebagai pedoman dalam membangun kehidupan yang harmonis.

Kontributor : Wisnawa


Berita Daerah LAINNYA