Boyolali (Bimas Hindu) – Umat Hindu Desa Ngaru Aru dan sekitarnya melaksanakan persembahyangan Tilem Karo yang dirangkai dengan anjangsana di kediaman Parjiyanto, Selasa (11/8/2026). Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan.
Persembahyangan menjadi momentum bagi umat untuk memperkuat sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Setelah persembahyangan, umat melanjutkan anjangsana sebagai ruang untuk mempererat persaudaraan dan kepedulian antarsesama.
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Boyolali, Sri Warini, turut mendampingi umat sekaligus menyampaikan Dharmawacana bertema “Tri Rna”. Materi tersebut mengajak umat memahami tiga kewajiban suci manusia, yakni Dewa Rna, Rsi Rna, dan Pitra Rna.
“Tri Rna mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan ini ada kewajiban yang harus dijalankan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, para Rsi dan guru, serta orang tua dan leluhur,” ujar Sri Warini.
Ia menjelaskan, Dewa Rna dapat diwujudkan melalui bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Rsi Rna dijalankan dengan belajar, menghormati guru, dan mengamalkan pengetahuan yang telah diterima. Sementara Pitra Rna diwujudkan melalui bakti kepada orang tua serta menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur.
“Tri Rna bukan hanya untuk dipahami, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan. Belajar dengan sungguh-sungguh, berbakti kepada orang tua, menghormati guru, dan menjaga nilai luhur leluhur merupakan bagian dari pengamalan Dharma,” katanya.
Rangkaian persembahyangan dan anjangsana berlangsung dalam suasana akrab. Kehadiran umat dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas keagamaan dapat menjadi ruang untuk membangun kedekatan spiritual sekaligus memperkuat hubungan sosial.
Sri Warini juga mengajak umat menjaga kebersamaan melalui kegiatan keagamaan yang dilakukan secara rutin. Menurutnya, kebersamaan menjadi bagian penting dalam menjaga kerukunan dan kehidupan umat yang harmonis.
“Persembahyangan dan anjangsana menjadi kesempatan untuk saling menguatkan. Sradha dan bhakti kepada Tuhan dapat berjalan bersama dengan kepedulian dan persaudaraan kepada sesama,” tuturnya.
Melalui Tilem Karo, umat Hindu Desa Ngaru Aru dan sekitarnya tidak hanya memperkuat kehidupan spiritual, tetapi juga kembali menghayati kewajiban kepada Tuhan, guru, orang tua, leluhur, dan sesama sebagai bagian dari pengamalan nilai Dharma.
Kontributor : I Made Juni Saputra