Palangka Raya (Bimas Hindu) Suasana khidmat menyelimuti Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Tampung Penyang Palangka Raya menjelang rangkaian Dies Natalis ke-25. Sebelum memasuki agenda utama peringatan hari jadi kampus, sivitas akademika terlebih dahulu melaksanakan Pakanan Sahur, sebuah tradisi tahunan masyarakat Dayak Kalimantan Tengah yang sarat dengan nilai spiritual sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan anugerah kepada Ranying Hatalla Langit.
Ritual yang berlangsung di depan kawasan sakral atau kramat di lingkungan kampus tersebut dihadiri Pelaksana Tugas (Plt.) Rektor IAHN Tampung Penyang Palangka Raya, jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa. Prosesi dipimpin oleh Basir Riandi, M.Pd, yang bertindak sebagai Basir dalam pelaksanaan upacara.
Pakanan Sahur merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat Dayak Hindu Kaharingan. Melalui persembahan sesajen berupa babi, ayam, ketupat, cucur, dan berbagai perlengkapan ritual lainnya, umat memanjatkan doa agar memperoleh keselamatan, kesehatan, perlindungan, serta keberkahan dalam menjalankan aktivitas kehidupan.
Salah satu prosesi yang menarik perhatian adalah pembaruan Pinggan Sahur, yakni mangkok yang berisi behas tambak berupa beras, sipa, giling pinang, duit singah/ uang yang dibungkus dalam kain sebagai bagian dari perlengkapan ritual. Pinggan Sahur yang telah dipasang selama satu tahun terlebih dahulu dibuka, kemudian diganti dengan yang baru sebelum kembali ditempatkan di pintu masuk gedung kampus. Prosesi tersebut menjadi simbol pembaruan doa dan harapan agar IAHN Tampung Penyang senantiasa memperoleh perlindungan, keberkahan, dan kemajuan dalam memasuki usia pengabdian yang ke-25.
Basir Riandi menjelaskan bahwa Pakanan Sahur telah menjadi tradisi yang rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut ajaran Hindu Kaharingan.
"Pada kesempatan ini kita melaksanakan acara yang namanya Pakanan Sahur. Rutinitas kita setiap tahun yaitu memberikan sesajen kepada Sahur sebagai penjaga, terkhususnya lingkungan kampus kita ini. Harapannya agar selalu diberikan kesehatan, anugerah, serta dilindungi dari hal-hal yang tidak diinginkan," ujar Basir.
Basir mengatakan, doa yang dipanjatkan dalam ritual tersebut tidak hanya ditujukan bagi keselamatan seluruh sivitas akademika, tetapi juga sebagai harapan agar IAHN Tampung Penyang terus berkembang menjadi perguruan tinggi Hindu yang semakin maju dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.
"Harapan dari acara ini, kita selalu minta berkat dan doa agar kampus tercinta kita bisa menjadi lebih maju lagi dan tidak kalah dari kampus-kampus lainnya," katanya.
Bagi IAHN Tampung Penyang Palangka Raya, Pakanan Sahur Lewu bukan sekadar bagian dari rangkaian seremonial Dies Natalis. Tradisi ini menjadi cerminan kuat bahwa pengembangan pendidikan tinggi berjalan selaras dengan pelestarian nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat Dayak Kalimantan Tengah. Melalui tradisi tersebut, kampus tidak hanya merawat warisan budaya Hindu Kaharingan, tetapi juga meneguhkan identitasnya sebagai perguruan tinggi yang tumbuh dari kearifan lokal dan terus berkontribusi bagi kemajuan pendidikan, kebudayaan, serta kehidupan keagamaan di Indonesia.