Meracik Perbedaan Menjadi Satu Rasa, Pesan Persatuan dalam Parade Ngelawar 2026

Meracik perbedaan menjadi satu rasa. Parade Ngelawar 2026, merawat persatuan dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Jakarta (Bimas Hindu) – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Hindu menjadikan tradisi Ngelawar sebagai ruang merawat persatuan, toleransi, kepedulian terhadap lingkungan, dan kehidupan spiritual. Pesan itu disampaikan saat menghadiri Parade Ngelawar 2026 di Pura Agung Taman Sari Halim, Jakarta Timur, Minggu (16/8/2026), dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sebanyak 19 tim perwakilan umat Hindu se-Jabodetabek mengikuti Parade Ngelawar 2026. Rangkaian kegiatan diawali dengan penanaman pohon sebagai bagian dari semangat Green Dharma, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan dan penyajian Ngelawar.

Menurut Nasaruddin, Ngelawar bukan sekadar tradisi kuliner, tetapi mengandung filosofi tentang keberagaman. Berbagai bahan dan bumbu yang memiliki karakter berbeda dapat diracik menjadi satu cita rasa. Filosofi tersebut dinilai sejalan dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

“Tidak mungkin kita bisa membuat Ngelawar kalau tidak lengkap, tidak ada unsur lain saling membawa satu sama lain. Bhinneka Tunggal Ika, rasanya satu,” ujar Nasaruddin.

Ia menilai filosofi tersebut relevan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kemerdekaan, kata Nasaruddin, perlu diisi dengan menjaga persaudaraan, menghargai perbedaan, memperkuat toleransi, dan merawat kehidupan bersama.

Selain persatuan, Menteri Agama menekankan pentingnya menjaga tradisi yang memberi ruang bagi manusia untuk melakukan refleksi diri. Di tengah perkembangan teknologi dan kehidupan generasi muda yang semakin banyak diarahkan untuk go out, ia mengingatkan pentingnya go in, yakni mengenali dan memahami diri sendiri.

“Barang siapa yang memahami hakikat dirinya, dia pasti akan mengenal Tuhan. Makin dalam Anda masuk ke dalam dirinya, semakin dekat Anda dengan Tuhan,” katanya.

Nasaruddin Umar juga mengapresiasi penanaman pohon dalam rangkaian Parade Ngelawar. Menurutnya, kegiatan keagamaan dan kebudayaan dapat sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap alam. Semangat Green Dharma menjadi bagian dari cara umat merawat lingkungan sebagai ruang kehidupan bersama.

Karena itu, ia mengajak umat Hindu menjadikan Parade Ngelawar tidak hanya sebagai pelestarian tradisi, tetapi juga momentum mempererat hubungan sosial dan memperkuat kehidupan kebangsaan.

“Jadikan momentum Parade Ngelawar sebagai wadah mempererat tali silaturahim, memperkuat toleransi, serta meneguhkan komitmen kita dalam berbangsa dan bernegara,” tegasnya.

Sementara itu, Dirjen Bimas Hindu mengatakan filosofi Ngelawar menggambarkan bahwa perbedaan dapat menyatu tanpa menghilangkan karakter masing-masing. Beragam bumbu dengan rasa yang berbeda, ketika diracik bersama, menghasilkan satu cita rasa yang dapat dinikmati bersama.

“Bumbu inilah sebagai representasi perbedaan. Ketika dia menyatu dalam bumbu, tidak ada rasa salah satu yang dominan. Pasti rasanya sama. Rasa itulah yang membuktikan bahwa perbedaan itu hakiki, tetapi perbedaan itu melahirkan satu bahasa, yaitu rasa yang enak,” ujar Prof. Duija.

Prof. I Nengah Duija menjelaskan, Ngelawar merupakan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dan tetap berkembang bersama umat Hindu di berbagai daerah, termasuk Jabodetabek. Ia menilai keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan tradisi tersebut.

“Tradisi Ngelawar ini adalah tradisi yang harus kita lestarikan sampai kapan pun karena ini adalah ciri khas kita sebagai umat Hindu,” tegasnya.

Dalam momentum kemerdekaan, Duija menyebut kebersamaan melalui Ngelawar juga menjadi wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Cara kita mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas kemerdekaan ini kita wujudkan dengan makan bersama, bekerja bersama, bergotong royong bersama dan menikmati dengan rasa yang sama,” pungkasnya.

Parade Ngelawar 2026 menjadi pertemuan antara pelestarian tradisi, semangat kemerdekaan, kepedulian lingkungan, refleksi spiritual, dan kehidupan kebangsaan. Berbagai unsur yang berbeda diracik menjadi satu rasa, sebagaimana keberagaman Indonesia yang dipersatukan dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Kontributor : I Made Juni Saputra


Berita Pusat LAINNYA