Jakarta (Bimas Hindu) - Pasraman Mustika Dharma Cijantung tidak hanya menjadi ruang pendidikan keagamaan bagi umat Hindu, tetapi juga memiliki fungsi sosial dalam mempertemukan masyarakat dan menanamkan nilai toleransi. Kehadirannya di lingkungan Kompleks Kopassus menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan bersama yang saling menghormati di tengah keberagaman.
Pesan tersebut disampaikan dalam peresmian purna pugar Pasraman Mustika Dharma di Balai Wantilan Pura Mustika Dharma Kopassus Cijantung, Jakarta Timur, Minggu (27/9/2026).
Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam video sambutannya menyampaikan bahwa pendidikan di pasraman memiliki peran dalam membentuk generasi yang memiliki ketahanan spiritual sekaligus karakter yang baik.
Menag berharap Pasraman Mustika Dharma tidak hanya menjadi tempat pembelajaran ajaran Dharma, tetapi juga turut merawat kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat.
“Semoga pasraman ini terus menjadi pelita yang menerangi jalan kebaikan dan merawat kerukunan bangsa,” ujar Menag
Panglima Kopassus dalam Video sambutannya juga menyampaikan keberadaan Pasraman Mustika Dharma memiliki arti penting bagi pembinaan kehidupan keagamaan prajurit dan keluarganya. Lebih dari itu, pasraman dapat menjadi ruang interaksi antara masyarakat dan umat beragama.
“Pasraman Mustika Dharma juga menjadi wadah untuk mempererat tali silaturahmi, serta digunakan sebagai sarana edukasi dalam membangun sikap toleransi antara masyarakat dan umat beragama lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan karakter tidak berhenti pada pembentukan pribadi, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan hidup berdampingan dengan masyarakat yang memiliki latar belakang berbeda.
Menteri Agama yang diwakili Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija, mengatakan keberadaan pura dan pasraman perlu ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem kehidupan umat. Menurutnya, tempat ibadah dapat memiliki peran lebih luas ketika umat tidak hanya datang untuk bersembahyang, tetapi juga membangun kepedulian dan memberikan kontribusi kepada lingkungan.
“Pura harus benar-benar mampu memberikan vibrasi, dan umat yang datang ke pura juga mampu memberikan kontribusi,” kata Prof. Duija.
Ia menilai pasraman dapat menjadi ruang perjumpaan lintas generasi. Selain anak-anak, orang tua juga dapat memanfaatkannya untuk berdiskusi dan memperdalam pemahaman keagamaan.
Pandangan mengenai pentingnya persatuan juga disampaikan Ketua PHDI Pusat. Ia mengajak umat Hindu menghidupkan semangat Vasudhaiva Kutumbakam, yang menempatkan seluruh manusia sebagai bagian dari satu keluarga besar.
“Melalui Vasudhaiva Kutumbakam, kita pererat persatuan dan kesatuan umat kita, bangsa kita, supaya kokoh, kuat, bersatu padu,” ujarnya.
Menurutnya, kerukunan perlu dibangun melalui tindakan nyata, salah satunya dengan memberikan pelayanan kepada masyarakat. Nilai tersebut berkaitan dengan konsep sewanam, yakni semangat melayani dan membantu sesama.
Ia juga mengingatkan pentingnya Tri Kaya Parisudha, yakni menjaga keselarasan pikiran, perkataan, dan perbuatan. Menurutnya, nilai tersebut relevan dalam membangun komunikasi yang sehat di tengah kehidupan masyarakat yang beragam.
“Baik pikiran, ucapan maupun tindakannya, karena itu yang akan dicontoh anak-anak kita,” katanya.
Tokoh umat Hindu Nyoman Swisma menambahkan bahwa keberadaan Pura Mustika Dharma dan pasraman merupakan amanah yang perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kehidupan keagamaan sekaligus memberikan manfaat bagi bangsa dan negara.
Ia mengajak umat menggunakan fasilitas tersebut secara optimal, baik sebagai tempat persembahyangan maupun sebagai ruang pendidikan bagi generasi muda.
“Tempat ini kita manfaatkan sebagai tempat persembahyangan dan sekaligus dilengkapi dengan pasraman,” ujarnya.
Keberadaan Pasraman Mustika Dharma memperlihatkan bahwa pendidikan keagamaan dapat berjalan bersama dengan pembentukan karakter sosial. Di ruang tersebut, anak-anak tidak hanya belajar memahami ajaran agama, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal nilai pelayanan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama.
Dari lingkungan Cijantung, pasraman diharapkan terus berkembang sebagai ruang pendidikan yang tidak hanya memperkuat sraddha dan bhakti umat Hindu, tetapi juga menumbuhkan sikap terbuka dan toleran dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.