Merajut Kebersamaan di Tengah Perbedaan: Rapat Koordinasi Ditjen Bimas Hindu Tekankan Pentingnya Saling Menghormati Jelang Nyepi dan Idul Fitri

Merajut Kebersamaan di Tengah Perbedaan: Rapat Koordinasi Ditjen Bimas Hindu Tekankan Pentingnya Saling Menghormati Jelang Nyepi dan Idul Fitri

Jakarta (BIMAS HINDU) – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama menggelar rapat koordinasi Buda Sanggrahana untuk membahas kesiapan menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Hari Raya Idul Fitri 1447 H yang waktunya berdekatan. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid pada Rabu (11/3/2026).

Rapat dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Bimas Hindu, Prof. I Nengah Duija, didampingi oleh Sekretaris Ditjen Bimas Hindu, Dr. Ida Made Pidada Manuaba, Direktur Pendidikan Hindu, Prof. I Ketut Sudarsana, serta Direktur Urusan Agama Hindu, Ida Bagus Ketut Drana Aribawa. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Kakanwil Provinsi Bali, pimpinan perguruan tinggi Hindu, serta para Pembimas Hindu dari seluruh Indonesia.

Dalam arahannya, Dirjen Bimas Hindu menegaskan bahwa kedekatan waktu antara dua hari besar keagamaan tersebut harus dimaknai sebagai momentum memperkuat kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpancing oleh berbagai informasi yang beredar di media sosial terkait seruan bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali dan pernyataan Menteri Agama.

Menurutnya, seruan bersama tersebut bersifat antisipatif dan normatif, bukan penetapan hari raya. Penetapan Hari Raya Idul Fitri 1447 H sendiri baru akan diputuskan melalui sidang isbat oleh pemerintah, sehingga berbagai spekulasi yang berkembang di ruang publik tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan.

“Seruan bersama itu merupakan bagian dari upaya menjaga keharmonisan di tengah masyarakat. Mekanisme penyusunannya juga melibatkan tokoh lintas agama yang tergabung dalam FKUB, sehingga semangatnya adalah menjaga kerukunan,” ujar Prof. I Nengah Duija.

Dirjen Bimas Hindu juga menekankan pentingnya memahami makna Hari Raya Nyepi secara lebih mendalam. Menurutnya, Nyepi tidak hanya dimaknai sebagai pembatasan aktivitas fisik, tetapi sebagai momentum pengendalian diri, pikiran, dan emosi.

Rangkaian ritual seperti Melasti hingga Tawur Kesanga merupakan proses penyucian diri agar umat Hindu mampu menata batin dan menjaga harmoni dengan sesama. Karena itu, ia mengingatkan agar umat tidak mudah terprovokasi oleh perdebatan di media sosial yang justru bertentangan dengan semangat Nyepi.

Sementara itu, Sekretaris Ditjen Bimas Hindu Dr. Ida Made Pidada Manuaba menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam menyambut perayaan dua hari besar keagamaan tersebut. Ia menyampaikan bahwa sejumlah daerah telah menyiapkan rumah ibadah sebagai tempat persinggahan bagi pemudik, lengkap dengan fasilitas pendukung seperti tempat istirahat, layanan kesehatan, dan konsumsi.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi wujud nyata semangat toleransi dan kepedulian antarumat beragama dalam mendukung kelancaran arus mudik Lebaran.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pendidikan Hindu Prof. I Ketut Sudarsana menyampaikan perkembangan kebijakan terkait pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi guru pendidikan agama Hindu menjelang Hari Raya Nyepi. Ia menjelaskan bahwa TPG bagi guru non-ASN dapat dicairkan sebelum Nyepi karena anggaran telah tersedia, sementara untuk guru PNS pencairannya akan dilakukan secara rapel dari bulan Januari.

Ditjen Bimas Hindu berharap pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Hari Raya Idul Fitri 1447 H dapat berlangsung dengan aman, damai, dan penuh semangat kebersamaan, sekaligus memperkuat harmoni kehidupan beragama di Indonesia.


Berita Pusat LAINNYA