Jakarta (Bimas Hindu) Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Kementerian Agama RI berlangsung dengan suasana berbeda. Tidak hanya diisi dengan kegiatan senam dan fashion show, semangat kemerdekaan juga dirayakan melalui lomba memasak nasi goreng antarsatuan kerja.
Dalam kegiatan yang digelar Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI di halaman Kantor Kementerian Agama RI, Jalan Lapangan Banteng Barat, Jakarta Pusat, Rabu (12/8/2026), Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu turut ambil bagian dengan menghadirkan kreasi nasi goreng kesuna cekuh, sajian yang lekat dengan cita rasa khas Bali.
Tim Ditjen Bimas Hindu terdiri atas Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Prof. I Nengah Duija, Sekretaris Ditjen Bimas Hindu Dr. Ida Made Pidada Manuaba, dan Staf Penelaah Teknis Kebijakan Pandе Agus Darwata.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang diselenggarakan Kementerian Agama. Berdasarkan ketentuan lomba, setiap unit eselon I mengirimkan satu tim yang terdiri atas tiga orang. Peserta diberikan waktu memasak selama 40 menit setelah aba-aba perlombaan dimulai.
Berbeda dari nasi goreng pada umumnya, tim Ditjen Bimas Hindu memilih nasi goreng kesuna cekuh sebagai kreasi yang disajikan dalam perlombaan. Kesuna berarti bawang putih, sedangkan cekuh berarti kencur. Penggunaan kencur menjadi salah satu pembeda utama sajian yang dibawa tim Ditjen Bimas Hindu karena memberikan karakter aroma dan rasa yang khas.
Menurut Prof. I Nengah Duija, pilihan bahan tersebut tidak hanya didasarkan pada cita rasa, tetapi juga membawa pesan filosofis yang bersumber dari pemaknaan unsur-unsur dalam tradisi Bali.
“Kesuna berarti bawang putih dan cekuh berarti kencur. Keduanya memiliki filosofi,” ujar Prof. I Nengah Duija.
Kesuna atau bawang putih dalam pemaknaan mitologi Bali ditempatkan pada arah timur dan dikaitkan dengan makna kesucian. Sementara kunyit, meskipun tidak menjadi bagian dari nama nasi goreng, tetap digunakan sebagai salah satu bumbu. Kunyit ditempatkan pada arah barat dengan warna kuning yang dimaknai sebagai kesuburan. Adapun cekuh atau kencur ditempatkan pada arah timur laut dengan warna ungu yang dimaknai sebagai kemakmuran.
Dengan demikian, nasi goreng kesuna cekuh yang disajikan tim Ditjen Bimas Hindu tidak sekadar menjadi hidangan lomba, tetapi sekaligus menjadi medium untuk memperkenalkan kekayaan kuliner dan pemaknaan budaya Bali dalam suasana perayaan kemerdekaan.
Usai perlombaan, Prof. I Nengah Duija mengaku puas dengan hasil masakan yang dibuat bersama timnya. Menariknya, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu tersebut kemudian mengaitkan pengalaman memasak nasi goreng dengan tugasnya dalam merumuskan dan menjalankan kebijakan di lingkungan Ditjen Bimas Hindu.
Menurutnya, terdapat irisan antara memasak dan membuat kebijakan, meskipun keduanya memiliki tingkat kesulitan yang berbeda.
“Kalau saya ditanya, membuat nasi goreng lebih sulit daripada membuat kebijakan,” ujarnya.
Prof. I Nengah Duija menjelaskan, memasak nasi goreng terutama berkaitan dengan rasa, sedangkan kebijakan berkaitan dengan kepatutan. Dalam memasak, berbagai bahan harus diramu agar menghasilkan rasa yang dapat diterima. Dalam kebijakan, berbagai kepentingan dan pertimbangan juga harus diramu agar kebijakan dapat diterima oleh masyarakat.
“Memasak nasi goreng soal rasa, sedangkan meramu kebijakan terkait dengan kepatutan. Tapi memang ada irisannya. Bagaimana bisa meramu supaya orang ‘merasa’ ketika kita mengeluarkan sebuah kebijakan, kebijakan itu bisa diterima dengan rasa,” kata Prof. I Nengah Duija.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi bahwa sebuah kebijakan tidak cukup hanya benar secara administratif maupun sesuai dengan ketentuan. Kebijakan juga perlu mempertimbangkan konteks, kebutuhan, kepatutan, serta bagaimana kebijakan tersebut dirasakan oleh masyarakat yang menjadi penerima layanan.
Lomba memasak nasi goreng menjadi salah satu ruang kebersamaan bagi jajaran Kementerian Agama dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Kreasi dari masing-masing peserta mendapat apresiasi, termasuk dari Menteri Agama RI. Penilaian lomba dilakukan oleh dewan juri, salah satunya Ibu Penasehat Dharma Wanita Kementerian Agama, Hj. Helmi Halimatul Udhmah Nasaruddin Umar.
Selain lomba memasak nasi goreng, rangkaian kegiatan juga mencakup Senam Kemerdekaan dan Lomba Fashion Show antarsatuan unit eselon I dan Pimpinan Masjid Istiqlal.
Bagi Ditjen Bimas Hindu, keikutsertaan dalam lomba tersebut menjadi kesempatan untuk membawa kekayaan budaya Hindu Nusantara ke dalam ruang kebersamaan Kementerian Agama. Nasi goreng kesuna cekuh menjadi simbol sederhana bahwa keberagaman dapat diramu menjadi satu sajian, sebagaimana kebijakan publik juga membutuhkan kemampuan meramu beragam kepentingan menjadi keputusan yang dapat diterima dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pada akhirnya, dari sepiring nasi goreng kesuna cekuh, terselip pesan yang lebih luas: kebijakan, seperti masakan, tidak hanya perlu dibuat dengan bahan yang tepat, tetapi juga harus diramu dengan rasa yang tepat agar dapat diterima oleh mereka yang menikmatinya.