Tekan Angka Perceraian, Ditjen Bimas Hindu Bekali Ratusan Pemuda Melalui Seminar Pranikah di Bogor

Seminar Pranikah bagi Remaja dan Pemuda Hindu

Bogor (Bimas Hindu) — Dalam upaya membekali generasi muda Hindu menghadapi kompleksitas kehidupan berumah tangga serta menekan tren perceraian, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Hindu menyelenggarakan Seminar Pranikah bagi Remaja dan Pemuda Hindu di Hotel Royal Amaroossa, Bogor. Kegiatan tingkat nasional ini berlangsung selama tiga hari, mulai 12/10/2026 hingga 14/10/2026.

Kasubdit Penyuluhan Hindu sekaligus Ketua Panitia, I Putu Alit Tinggal Yasa, dalam laporannya menyampaikan bahwa seminar ini dirancang secara khusus untuk membangun fondasi ketahanan keluarga umat. Ia merinci bahwa kegiatan ini diikuti oleh 112 pemuda-pemudi Hindu dari belasan provinsi.

"Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan bekal pemahaman yang komprehensif mengenai persiapan kehidupan pernikahan dan dinamika berumah tangga. Kami menanamkan nilai-nilai agama agar generasi muda kita mampu mengambil keputusan yang bijaksana, serta kelak dapat membangun keluarga yang tangguh secara spiritual, emosional, maupun sosial," papar I Putu Alit Tinggal Yasa.

Direktur Urusan Agama Hindu, Ida Bagus Ketut Drana Arimbawa, menyoroti urgensi kesiapan prakelola rumah tangga di tengah meningkatnya angka perceraian. Ia merujuk pada data Pengadilan Negeri Denpasar yang mencatat lonjakan perkara perceraian dari 977 kasus pada 2023 menjadi 1.174 kasus pada 2025, yang mayoritas dipicu oleh masalah ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Cinta saja tidak cukup dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Kesiapan iman, mental, kesehatan reproduksi, dan kemapanan ekonomi sangatlah krusial. Oleh karena itu, Bimas Hindu menghadirkan ekosistem Rumah Bina Keluarga Sukinah (RBKS), layanan E-RBKS, hingga Kelompok Usaha Keluarga Sukinah (KUKS) agar pembinaan keluarga muda kita menjadi lebih dekat, berbasis digital, dan berdaya saing," papar Ida Bagus Ketut Drana Arimbawa.

Hal senada ditegaskan oleh Dirjen Bimas Hindu, Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, saat membuka acara secara resmi. Ia menyoroti terjadinya pergeseran nilai tradisi pernikahan saat ini yang cenderung makin materialistis dan kerap membebani pasangan muda.

"Banyak pasangan baru yang sudah terlilit utang besar bahkan sebelum memulai hidup bersama akibat memaksakan gengsi kemewahan acara, seperti biaya payas agung dan dekorasi yang mencapai ratusan juta rupiah. Pasangan harus mempersiapkan diri secara mental dan spiritual untuk menyatukan jiwa (Grihastha), bukan hanya berfokus pada kemewahan fisik acara," tegas Nengah Duija.

Dirjen Bimas Hindu juga mengingatkan para peserta bahwa pernikahan adalah komitmen seumur hidup yang membutuhkan tanggung jawab penuh dari tiga dimensi, yakni penyatuan roh (atman), penyatuan jiwa (emosi/karakter), dan penyatuan fisik.

Dirjen Bimas Hindu juga memberikan pandangan kritis terkait tren penundaan pernikahan pada generasi muda. Meski saat ini banyak yang memilih menikah di usia kepala tiga atau empat demi mengejar kemapanan, ia mengingatkan adanya konsekuensi biologis dan psikologis dalam pengasuhan keturunan.

"Waktu tidak bisa diulang. Menunda pernikahan terlalu lama akan berdampak pada rentang waktu pengasuhan anak. Kesiapan energi, fisik, dan psikologis orang tua sangat menentukan kualitas anak yang dibesarkan. Ingat, keluarga yang sehat dan stabil adalah hulu dari lahirnya generasi masa depan yang kuat," pungkasnya.


Melalui seminar komprehensif ini, Ditjen Bimas Hindu berharap generasi muda Hindu mampu mengambil keputusan yang bijaksana, tidak menunda kemapanan secara berlarut-larut, serta siap melahirkan keluarga yang rukun, sehat, dan sejahtera sebagai fondasi utama menyongsong Indonesia Emas 2045.


Berita Pusat LAINNYA