Banyuwangi (Bimas Hindu) - Program BERGEMBIRA (Bergerak Bersih-Bersih Pura) kembali digelar di Kabupaten Banyuwangi sebagai wujud kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian tempat suci umat Hindu. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 13 Februari 2026, di Pura Paras Putih yang berlokasi di Desa Bansring, Kecamatan Wongsorejo, tepatnya di dalam area Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP), sekitar lima kilometer sebelah utara Pelabuhan Ketapang.
Kegiatan ini melibatkan Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Agama Hindu Kabupaten Banyuwangi serta dihadiri sejumlah tokoh umat Hindu setempat. Program BERGEMBIRA tidak hanya berorientasi pada kebersihan fisik pura, tetapi juga menjadi sarana pembinaan umat, mempererat kebersamaan, serta menguatkan semangat gotong royong dalam kehidupan beragama.
.jpeg)
Rangkaian kegiatan diawali dengan atur piuning yang dipuput oleh Romo Mangku sebagai bentuk permohonan izin dan doa sebelum pelaksanaan kerja bakti. Selanjutnya, seluruh peserta bersama-sama membersihkan area pura mulai dari halaman utama hingga lingkungan sekitar. Suasana berlangsung penuh semangat dan rasa kekeluargaan, mencerminkan implementasi nilai-nilai dharma dalam kehidupan bermasyarakat.
Di balik semangat kebersamaan tersebut, terdapat kondisi yang memprihatinkan. Pura Paras Putih yang berdiri sejak tahun 1993 kini mengalami minimnya jumlah umat yang nyungsung (mengempon). Ketut Merteyasa selaku pengurus pura menjelaskan bahwa BPPP awalnya berlokasi di Bali. Karena kebijakan pemerintah, BPPP dipindahkan ke Banyuwangi. Mengingat banyak pegawainya beragama Hindu, maka difasilitasi tempat ibadah berupa pura.
.jpeg)
“Pura ini berdiri pada tahun 1993 dengan jumlah pegawai sekitar 55 orang. Seiring waktu, jumlah tersebut menyusut drastis dan kini hanya tersisa lima orang saja. Penurunan ini terjadi karena sebagian besar umat yang dahulu bertugas di lingkungan BPPP telah memasuki masa purnatugas dan kembali ke Bali,” jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Penyelenggara Hindu Kabupaten Banyuwangi, Oksan Wibowo. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh umat Hindu di Banyuwangi untuk turut serta merawat dan menghidupkan kembali aktivitas keagamaan di Pura Paras Putih. Ia juga mengimbau lembaga keagamaan seperti Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI), serta Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Kabupaten Banyuwangi untuk berkunjung dan memberikan dukungan moral maupun spiritual.

“Kurang bijak rasanya jika kita masih memperdebatkan posisi pura ini. Pura ini sudah berdiri sejak tahun 1993. Seyogianya kita sebagai umat Hindu di Banyuwangi harus berpartisipasi aktif dalam menjaga dan merawat Pura Paras Putih,” tegasnya.
Lebih lanjut, Oksan juga menekankan pentingnya memperkenalkan dan mempublikasikan Pura Paras Putih sebagai bagian dari kekayaan spiritual Banyuwangi. Ia mengimbau umat sedharma yang hendak menyeberang ke Bali melalui Pelabuhan Ketapang agar menyempatkan diri singgah dan bersembahyang di pura tersebut.

“Semoga umat sedharma yang melakukan perjalanan ke Bali berkenan singgah di pura ini. Cukup melapor kepada petugas keamanan balai, nanti akan diarahkan ke pura,” imbuhnya.
Sebagai daerah yang dikenal dengan keberagaman budaya dan toleransi antarumat beragama, Banyuwangi memiliki potensi besar dalam penguatan harmoni spiritual. Kehadiran Pura Paras Putih di kawasan strategis jalur penyeberangan menjadi simbol eksistensi umat Hindu di Bumi Blambangan. Melalui program BERGEMBIRA, diharapkan kebersihan pura tetap terjaga, aktivitas keagamaan kembali hidup, serta keberadaan pura semakin dikenal luas sebagai bagian dari identitas religius Banyuwangi yang inklusif dan berbudaya.