Jakarta (Bimas Hindu) - Segala puji dan syukur kita panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, atas segala karunia-Nya kita dapat kembali bersua dalam siaran Mimbar Agama Hindu diRadio yang kita cintai ini. Semoga mimbar ini memberikan tuntunan, menguatkan keyakinan, dan meneguhkan semangat kita untuk selalu berjalan di jalan dharma.
Hari ini kita akan mengangkat kisah yang sangat terkenal dari epos agung Ramayana, tentang Hanoman, bhakta sejati Sri Rama, yang menjadi symbol keteguhan hati dan pengabdian tanpa pamrih. Kisah ini akan kita padukan dengan ajaran dari Manawa Dharmasastra VI.92 yang mengajarkan nilai-nilai keyakinan, pengendalian diri, dan tapa brata dalam kehidupan spiritual.
Para pendengar yang saya hormati, Di dalam kisah Ramayana, Sri Rama—inkarnasi dari Wisnu—mengemban misi untuk menegakkan dharma dan membebaskan dunia dari keangkaramurkaan Rahwana, raja Alengka. Rahwana menculik Dewi Sita, istri Sri Rama, dan membawanya ke Alengka. Dalam pencarian Dewi Sita, Rama dibantu oleh pasukan wanara dari Kerajaan Kiskenda yang dipimpin oleh Raja Sugriwa.
Di sinilah kita mengenal Hanoman, seorang panglima perang yang sekaligus bhakta sejati. Ia bukan hanya prajurit yang perkasa, tetapi juga sosok yang memiliki hati penuh cinta kasih kepada dharma. Pada suatu hari, ketika Sri Rama dan Laksmana berada di pantai selatan, mereka mencari cara untuk menyeberangi samudera menuju Alengka. Dalam siding para wanara, Raja Sugriwa berkata: "Siapakah di antara kalian yang sanggup melintasi lautan luas ini dan menemukan keberadaan Dewi Sita?" Para wanara saling berpandangan, namun tak ada yang berani menjawab.
Hingga akhirnya, Jembawan—si beruang bijaksana—berkata: "Hanomanlah yang sanggup. Ia memiliki kekuatan tanpa batas, hanya ia yang mampu terbang melintasi lautan." Hanoman pun maju dan menyembah Sri Rama: "Tuan, bila ini adalah perintahmu, maka hamba akan melaksanakan tanpa ragu. Demi dharma dan demi bhaktiku kepadamu, tidak ada yang akan menghentikan langkahku."
Hanoman kemudian melompat dari puncak gunung Mahendra, melesat Bagai anak panah menuju seberang lautan. Dalam perjalanan, ia diuji oleh tiga hal: Ujian yang pertama Gunung Mainaka yang mencoba menahannya untuk beristirahat. Hanoman menolak dengan halus, berkata: "Terima kasih wahai Gunung Mainaka, tapi tugasku adalah menemukan Dewi Sita. Aku tidak boleh berhenti sebelum tugas ini selesai." Ujian yang kedua Surasa, naga betina penguasa lautan, yang memerintahkan Hanoman masuk ke mulutnya sebagai ujian.
Hanoman menggunakan kecerdikan: ia membesar sampai tak muat, lalu mengecil hingga sekecil jarum dan keluar dari mulut Surasa, sehingga lolos tanpa kekerasan. Ujian yang ketiga Simhika, raksasa yang menarik bayangan Hanoman di laut. Hanoman menghadapinya dengan keberanian, mengalahkannya, lalu melanjutkan perjalanan. Lalu apa yang bisa kita contoh dari Keteguhan Hati dalam Bhakti dari seekor Hanoman? Para pendengar yang saya hormati, dari perjalanan ini kita melihat bahwa Hanoman selalu teguh hati (dhṛti). Ia menghadapi rintangan bukan dengan keluh kesah, tetapi dengan keyakinan penuh bahwa misi ini adalah bagian dari pengabdiannya kepada Sri Rama.
Inilah yang dimaksud bhakti dalam arti yang paling murni: melakukan tugas suci demi dharma, bukan demi keuntungan pribadi. Sloka Manawa Dharmasastra VI.92 Untuk menguatkan pemahaman kita, mari kita simak sloka dari Manawa Dharmasastra VI.92: Śraddhayā satyam āstikyā brahmacaryeṇa caiva hi Śamena ca damenaiva tapa etair nare sthitaih. Artinya: "Dengan penuh keyakinan (śraddhā), kejujuran, kesetiaan pada kebenaran, hidup suci, pengendalian diri, dan pengendalian indera, serta dengan tapa brata, manusia menjadi teguh dalam dharma."
Sloka ini seolah-olah menggambarkan Hanoman secara sempurna:
- Śraddhā dengan keyakinan tanpa ragu kepada Rama.
- Satyam dengan kesetiaan dan kejujuran dalam menjalankan misi.
- Brahmacarya dengan disiplin hidup yang selaras dengan dharma.
- Śama dan Dama dengan pengendalian pikiran dan indera dari godaan yangmenghalangi tugas.
- Tapa dengan ketekunan dan pengorbanan tanpa pamrih.
Kisah Hanoman bukan hanya cerita masa lalu, tetapi pelajaran hidup untuk kita semua contoh dan teladani dimana: Hanoman memiliki Keyakinan dalam Beribadah Seperti Hanoman yakin pada Rama, kita harus yakin bahwa setiap puja, japa, dan yadnya kita akan sampai kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
Hanoman memiliki Ketekunan dalam Rutinitas Spiritual Hanoman tak berhenti di tengah jalan. Kita pun hendaknya tidak berhenti beribadah hanya karena kesibukan atau kemalasan. Hanoman memiliki Pengabdian Tanpa Pamrih Seperti Hanoman tidak meminta imbalan, beribadah hendaknya bukan karena ingin mendapat keuntungan duniawi, tetapi sebagai persembahan tulus.
Hanoman juga memiliki Pengendalian Diri Hanoman tidak tergoda oleh istirahat atau kesenangan di tengah misi. Kita pun harus mengendalikan diri dari godaan yang membuat kita lalai pada kewajiban spiritual. Para pendengar yang berbahagia, Ketekunan Hanoman dalam menjalankan misi suci adalah cermin bagi kita semua. Dengan meneladani beliau, kita akan memiliki kekuatan untuk menjalankan ibadah secara tekun, sabar, dan penuh cinta kasih kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Marilah kita berkomitmen: setiap hari kita isi dengan puja tri sandhya, membaca kidung suci, melaksanakan yadnya, dan mengabdikan diri pada dharma, dengan hati seteguh Hanoman.
Demikian mimbar agama hindu yang dapat kami sampaikan pada Mimbar Agama Hindu kali ini. Semoga apa yang telah kita dengarkan bersama dapat menambah pengetahuan, memperkuat sraddhā dan bhakti kita kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta memotivasi kita untuk semakin tekun menjalankan dharma dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita tutup dengan doa, Sarve Bhavantu Sukhinah Semoga semua mahkluk didunia selalu berbahagia. Om Śāntiḥ, Śāntiḥ, Śāntiḥ Om Damai di hati damai di dunia damai selamanya.
Penulis : Sri Warini