Lampung Tengah (BIMAS HINDU) — Kehadiran pemerintah melalui para pembina umat di tengah situasi duka merupakan wujud nyata pengayoman dan pelayanan spiritual. Hal ini diimplementasikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Lampung Tengah, I Ketut Ginada, S.Pd., S.H., saat menghadiri prosesi Pitra Puja atas berpulangnya salah satu umat Hindu di Kampung Karang Endah, Kecamatan Terbanggi Besar, pada Sabtu (18/07/2026).
Kegiatan sakral ini diawali dengan pelaksanaan doa Pitra Puja yang dipimpin secara khidmat. Ritual tersebut adalah bentuk penghormatan dan doa suci bagi atma almarhum agar memperoleh jalan terang sesuai dengan ajaran Sanatana Dharma. Suasana penuh kekhusyukan tampak menyelimuti prosesi yang dihadiri oleh keluarga duka, kerabat, serta tokoh umat Hindu setempat.
Usai pelaksanaan ritual Pitra Puja, kegiatan dilanjutkan dengan Dharma Tula (diskusi keagamaan) bersama umat. Pada momen tersebut, I Ketut Ginada memberikan siraman rohani yang mendalam guna menguatkan mental keluarga yang ditinggalkan. Ia mengupas tuntas mengenai siklus perputaran alam semesta yang mencakup Utpeti (penciptaan atau kelahiran), Stiti (pemeliharaan atau kehidupan), dan Pralina (peleburan atau kematian).
Dalam paparannya, Ginada menjelaskan bahwa ketiga fase tersebut adalah ketetapan mutlak atau hukum alam (Rta) yang berlaku bagi seluruh ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kelahiran dan kematian bukanlah sesuatu yang bisa ditawar, melainkan bagian dari siklus kehidupan yang pasti dilalui.
"Kita harus menyadari secara utuh bahwa kehidupan dan kematian adalah Rta. Melalui yadnya Pitra Puja ini, kita berserah dan memohon agar Tuhan berkenan melebur (Pralina) segala unsur maya dan karma-mala leluhur kita, sehingga Atman dapat kembali ke alam asalnya dengan sempurna," terang I Ketut Ginada.
Beranjak dari filosofi tersebut, Ginada mengajak seluruh umat yang hadir untuk merenungi kembali hakikat keberadaan mereka di dunia. Setiap insan diharapkan mampu menerima peristiwa kematian dengan keikhlasan jiwa, tidak larut dalam kesedihan yang berlarut-larut, dan justru menjadikannya momentum untuk mempertebal śraddhā (keyakinan) dan bhakti.
Kematian, lanjutnya, harus menjadi pengingat bagi mereka yang masih hidup untuk senantiasa meningkatkan kualitas karma mulia selama menjalani kehidupan sehari-hari.
Melalui pendampingan keagamaan ini, Kemenag Lampung Tengah berharap keluarga yang sedang berduka diberikan ketabahan, kekuatan batin, dan pemahaman spiritual yang memadai. Di sisi lain, Dharma Tula ini menjadi ruang pencerahan agar umat Hindu semakin mantap menjalani kehidupan dengan bijaksana dan senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai agung Dharma.