Cibubur (BIMAS HINDU) — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku Ekoteologi Hindu: Dari Esoterik Menuju Eksoterik. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Direktur Jenderal Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija, para narasumber lintas kementerian, pimpinan unit eselon II, para penulis buku, serta ASN Ditjen Bimas Hindu, Sabtu (13/12/2025).
Dalam sambutannya, Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kontribusi seluruh pihak yang telah melahirkan buku Ekoteologi Hindu. Menurutnya, gagasan dalam buku tersebut merupakan respons penting atas berbagai musibah ekologis yang belakangan melanda Indonesia, sekaligus cerminan dari pemikiran visioner Menteri Agama dalam membangun narasi ekoteologi melalui bahasa agama.
“Bahasa agama jauh lebih efektif dalam membangun pemahaman kolektif masyarakat tentang pentingnya menjaga alam. Ekoteologi bukan hal asing dalam Hindu, karena substansinya telah melekat kuat dalam praktik keagamaan umat Hindu sejak dahulu hingga kini,” tegasnya.
Prof. Duija menjelaskan bahwa pemahaman ekoteologi Hindu secara esoterik bersumber dari norma-norma suci dalam Veda dan sastra Hindu. Tantangan saat ini adalah bagaimana nilai-nilai substansial tersebut diwujudkan secara eksoterik agar berdampak nyata, tidak hanya bagi umat Hindu, tetapi juga bagi masyarakat luas. Hal inilah yang melandasi judul buku Dari Esoterik Menuju Eksoterik.
Beliau juga menyoroti konsep ritual Hindu yang sejak awal telah mengajarkan prinsip-prinsip ekoteologi melalui empat unsur utama, yakni daun, bunga, buah, dan air. Keempat unsur tersebut menuntun umat untuk menanam pohon, menjaga sumber air, dan merawat lingkungan sekitar pura sebagai bagian tak terpisahkan dari praktik keagamaan. Konsep Tri Hita Karana dan Sad Kertih pun menjadi fondasi penting dalam membangun harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
“Dalam setiap doa Hindu, alam semesta selalu didoakan agar damai dan bersih—angkasa, pertiwi, air, angin, dan antariksa. Bahkan dalam ritual perkawinan Hindu, terdapat kewajiban menanam tanaman sebagai simbol tanggung jawab ekologis,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Pendidikan Agama Hindu dalam pengantarnya menyampaikan bahwa kegiatan bedah buku ini menjadi ruang strategis untuk memperoleh masukan dan penyempurnaan sebelum buku diterbitkan secara resmi. Ia menegaskan bahwa ekoteologi Hindu menempatkan alam semesta sebagai bagian integral dari relasi sakral antara Tuhan dan manusia, bukan sekadar objek eksploitasi.
Narasumber pertama, Tenaga Ahli Menteri Agama Prof. Dr. H. Andi Salman Maggalatung, menilai buku ini sangat relevan dengan tantangan krisis ekologi global dan arah pembangunan Indonesia yang berkelanjutan. Ia menekankan bahwa dalam perspektif Hindu, alam merupakan manifestasi kesucian Tuhan yang harus dijaga dengan cinta dan kebijaksanaan. Konsep Sad Kertih dipandang sebagai inti ekoteologi Hindu yang memadukan spiritualitas, etika, dan pelestarian lingkungan secara harmonis.
Narasumber kedua, dari Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat KEMENDIKTISAINTEK Prof. Dr. I Ketut Adnyana, mengulas ekoteologi Hindu dari sudut pandang filsafat Veda. Menurutnya, alam semesta dipahami sebagai ekspresi kesadaran spiritual yang sama dengan yang hadir dalam diri manusia. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan ekosistem berarti menjaga keseimbangan energi kosmik yang menopang seluruh eksistensi.
“Etika ekologis Hindu bukan romantisme spiritual, melainkan implementasi konkret dari dharma kosmik. Alam semesta adalah tubuh kesadaran, manusia adalah sel hidup di dalamnya,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Ditjen Bimas Hindu berharap buku Ekoteologi Hindu: Dari Esoterik Menuju Eksoterik dapat menjadi rujukan moral, spiritual, dan akademik dalam memperkuat kesadaran ekologis umat serta mendorong terwujudnya peradaban yang harmonis, berkelanjutan, dan berkeadaban.