Jakarta (Humas Hindu)– Badan Eksekutif Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Dharma Nusantara Jakarta menyelenggarakan kegiatan Malam Sastra di Pura Adhitya Jaya Rawamangun, Sabtu (6/9) pukul 22.00 WIB. Kegiatan ini digelar dalam rangkaian Pujawali Pura Adhitya Jaya dengan mengusung tema “Menemukan Jati Diri Melalui Ilmu dan Seni Sebagai Ruang Ekspresi Menuju Jalan Dharma.”
Acara ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Ir. Jero Wacik, S.E., Dr. Ida Made Pidada Manuaba, S.Ag., M.Si., dan Dra. Anak Agung Oka Puspa, M.Fil.H, dengan moderator Dr. A.A. Ketut Patera, S.E., M.Fil.H.
.jpeg)
Ketua Panitia dalam laporannya menyampaikan terima kasih kepada pengempon pura serta panitia pujawali yang telah memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk ikut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan pujawali Pura Adhitya Jaya Rawamangun. Ia menjelaskan bahwa kegiatan dimulai sejak Jumat dengan ngayah bersama, dilanjutkan pada Sabtu pagi dengan persembahyangan Hari Saraswati. Sebagai puncak kegiatan, pada malam hari pukul 22.00 Wib digelar Malam Sastra dengan menghadirkan tokoh-tokoh Hindu yang berkompeten di bidangnya.
“Malam Sastra ini kami niatkan sebagai persembahan suci sekaligus wadah penguatan intelektual dan spiritual mahasiswa Hindu. Melalui forum ini kami ingin belajar langsung dari tokoh-tokoh yang berpengalaman tentang bagaimana menapaki jalan Dharma dalam kehidupan modern,” ungkapnya.
Ketua STAH Dharma Nusantara yang diwakili oleh Wakil Ketua II, Untung Suhardi, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa Malam Sastra sudah menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali sebagai bentuk pengabdian mahasiswa Hindu.
Dalam sambutannya, ia juga menyinggung fenomena sosial yang marak terjadi belakangan ini, termasuk aksi-aksi demonstrasi dan dinamika politik di masyarakat. “Generasi muda Hindu harus mampu menyikapi fenomena sosial dengan kepala dingin. Agama dan budaya memberikan jalan yang bijak untuk melihat persoalan, sehingga tidak mudah terprovokasi, tetapi mampu memberikan solusi,” pesannya.

Dalam sesi materi, Ir. Jero Wacik menyampaikan pesan-pesan motivatif agar generasi muda Hindu mampu membangun pola pikir positif. Ia menekankan bahwa hidup harus dijalani dengan tujuan menjadi berguna bagi sesama.
“Tuhan Maha Tahu, setiap perbuatan baik dan pikiran positif yang kita lakukan akan dicatat oleh Sang Hyang Suratma. Karena itu, jauhkan diri dari tiga sifat yang menghambat kesuksesan: malas, minder, dan sombong,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Ida Made Pidada Manuaba sebagai narasumber sekaligus sebagai perwakilan Ditjen Bimas Hindu memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, forum-forum intelektual berbasis budaya dan agama Hindu harus terus digalakkan untuk memperkuat ketahanan umat. “Generasi muda Hindu harus mampu menjaga identitasnya melalui ilmu dan seni. Kegiatan Malam Sastra menjadi sarana aktualisasi diri sekaligus penguatan nilai Dharma di tengah arus globalisasi,” ujarnya.

Beliau juga menyoroti pentingnya peran generasi muda Hindu dalam menjaga eksistensi kehinduan di tengah derasnya arus globalisasi. Ia menjelaskan bahwa kehidupan merupakan proses pembelajaran yang berkesinambungan, dan dalam dunia kerja, ada lima hal yang selalu dihargai yaitu: kejujuran, kerajinan, ketekunan, kecerdasan, dan dapat diandalkan. Sebaliknya, ada karakter yang harus dihindari, yakni menunda pekerjaan, haus pujian, berlebihan dalam kesenangan, mudah tersinggung, dan iri hati.
Ia juga menyinggung makna Hari Raya Saraswati sebagai momentum pengendalian ego, yang apabila berhasil ditaklukkan, akan melahirkan karakter Hindu sejati: cerdas, terampil, jujur, dan bijaksana.
Adapun Dra. Anak Agung Oka Puspa menekankan pentingnya penguatan identitas di era globalisasi yang serba terbuka. Menurutnya, globalisasi dapat membawa dampak hilangnya jati diri apabila generasi muda tidak berlandaskan ajaran agama.
.jpeg)
“Kita harus memperkuat diri dengan Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana, dan Tat Twam Asi. Menuntut ilmu harus dilakukan dengan rendah hati: bersujud, bertanya dengan santun, dan melayani guru. Jangan pernah melawan orang tua, karena dalam sloka-sloka kita diajarkan bahwa restu orang tua adalah kunci keberhasilan,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa tantangan di era digital menuntut generasi muda untuk kritis dalam menyaring informasi, sehingga hanya nilai-nilai yang baik yang diserap.
Malam Sastra tidak hanya menghadirkan kajian ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi seni, di mana mahasiswa menampilkan karya sastra dan budaya sebagai wujud kreativitas yang bernilai Dharma. Perpaduan ilmu dan seni menjadi simbol keseimbangan dalam membangun kepribadian Hindu yang kuat, cerdas, dan berkarakter.
Kegiatan ini juga mempertegas peran mahasiswa Hindu sebagai agen perubahan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dan spiritual. Melalui forum ini, para tokoh menekankan bahwa generasi muda Hindu harus tampil sebagai pelopor dalam menjaga keharmonisan, memperkuat identitas, serta berkontribusi nyata bagi bangsa dan negara.
Dengan semangat Saraswati, Malam Sastra di Pura Adhitya Jaya Rawamangun bukan hanya menjadi ajang berkumpul dan berdiskusi, tetapi juga momentum untuk meneguhkan identitas, memperkaya wawasan, serta menguatkan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan generasi muda Hindu. Melalui ilmu dan seni, mahasiswa Hindu diharapkan mampu menyalurkan ekspresi intelektual sekaligus spiritual, sehingga melahirkan insan-insan yang bijaksana, berkarakter, dan berdaya saing tinggi di tengah arus globalisasi.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa agama dan budaya dapat berjalan beriringan sebagai sumber inspirasi dan solusi bagi tantangan zaman. Dengan terus menumbuhkan ruang-ruang dialog, kreasi, dan pengabdian, Malam Sastra diyakini mampu melahirkan generasi Hindu yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kokoh secara moral dan spiritual, serta siap berkontribusi bagi keharmonisan umat dan keutuhan bangsa Indonesia.