Dirjen Bimas Hindu Hadiri Peresmian Wantilan dan Pujawali IX Parahyangan Agung Jagatnatha Pasundan, Tekankan Pentingnya Ekoteologi Hindu

Peresmian Wantilan dan Pujawali IX Parahyangan Agung Jagatnatha Pasundan

Bekasi (Bimas Hindu) - Udara sejuk pedesaan Sukahurip dipenuhi nuansa suci dan kebersamaan saat umat Hindu Kabupaten Bekasi melaksanakan Peresmian Wantilan dan Pujawali IX Parahyangan Agung Jagatnatha Pasundan di Kampung Gelam, Desa Sukahurip, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (25/10/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, Prof. I Nengah Duija, bersama Ketua PHDI Kabupaten Bekasi, Panitia Pujawali, Pengempon Pura, serta Ida Resi Agung Nata Siliwangi Manuaba dan Ida Resi Mpu Dharma Putera Sidhi Bhawana.

Acara tersebut merupakan peresmian Wantilan Pura dan peringatan Pujawali IX, yang menjadi momentum penting bagi umat Hindu di Kabupaten Bekasi untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan, kebersamaan, serta kesadaran lingkungan melalui praktik ekoteologi Hindu.

Kegiatan ini diselenggarakan pada Sabtu, 25 Oktober 2025, bertepatan dengan Tumpek Wariga (Wuku Wariga) hari suci yang melambangkan penghormatan kepada alam semesta dan seluruh makhluk hidup.

Rangkaian acara berlangsung di Pura Parahyangan Agung Jagatnatha Pasundan, Kampung Gelam, Desa Sukahurip, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi pura besar yang menjadi pusat spiritual umat Hindu di wilayah Bekasi dan sekitarnya.

Acara ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas selesainya pembangunan Wantilan serta sebagai bentuk pelestarian tradisi Pujawali yang ke-9. Selain itu, kegiatan ini menjadi sarana pembinaan rohani umat Hindu agar senantiasa menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan sesuai prinsip Tri Hita Karana.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Pujawali menyampaikan Rasa bakti dan syukur kami panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas asung kertha wara nugraha-Nya, kami Tempek Lippo Cikarang dapat melaksanakan Pujawali IX dengan lancar. Semoga kegiatan ini menjadi pedoman dan inspirasi bagi seluruh umat Hindu di Kabupaten Bekasi.

Kegiatan diawali dengan penandatanganan prasasti peresmian Wantilan Pura oleh Dirjen Bimas Hindu, pengecekan pembangunan Pura Beji, kemudian dilanjutkan dengan dharma wacana dan persembahyangan bersama.

Dalam dharma wacana, Prof. I Nengah Duija mengangkat tema penting tentang ekoteologi Hindu  ajaran spiritual yang menekankan keseimbangan antara manusia dan alam.

“Hari ini kita melaksanakan yang namanya ekoteologi. Umat Hindu diwajibkan menanam satu pohon, karena pohon adalah bagian dari ritual kita. Pohon memiliki roh, dan di tempat suci seperti Pura ini, keberadaan pohon menjadi sumber energi spiritual,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan umat Hindu untuk terus menjaga kelestarian lingkungan di sekitar pura.

“Saya berharap di Parahyangan Agung Jagatnatha Pasundan ini, pohon-pohon ditanam lebih banyak di sekelilingnya agar yang datang ke sini dapat merasakan kedamaian dan kesehatan,” tambahnya.

Prof. I Nengah Duija kemudian menutup dharma wacana dengan kisah inspiratif perjalanan Yudistira menuju surga, yang mengajarkan nilai keteguhan, kesetiaan, dan makna sejati dari dharma.

“Kita belajar bahwa surga sejati bukanlah tempat, tetapi keadaan hati yang penuh keikhlasan dan pengabdian. Jangan pernah mengeluh dalam melaksanakan pemujaan kepada Tuhan, karena setiap kebaikan sekecil apa pun bernilai surga,” pesannya.

Kegiatan Pujawali IX dan Peresmian Wantilan ini tidak hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga menghidupkan semangat kebersamaan dan pelestarian lingkungan di tengah masyarakat Hindu Bekasi. Melalui kehadiran Dirjen Bimas Hindu, umat diharapkan semakin memahami pentingnya ekoteologi Hindu sebagai jalan hidup yang menyatukan nilai spiritual, sosial, dan ekologis.


Berita Pusat LAINNYA