Ditjen Bimas Hindu Tegaskan Komitmen Penyusunan Bab Buku Ekoteologi Nasional

Rapat pembahasan substansi isi buku Ekoteologi Nasional

Jakarta (BIMAS HINDU) – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI bersama Tim Penulisan Buku Ekoteologi Nasional menggelar rapat pembahasan substansi isi buku Ekoteologi Nasional. Rapat berlangsung di Ruang Sidang Ditjen Bimas Hindu, Selasa (23/09/2025).

Agenda rapat difokuskan pada kontribusi perspektif ekoteologi dalam Agama Hindu sebagai bagian dari penyusunan buku Ekoteologi Nasional. Rapat dipimpin oleh Ketua Tim Penulisan Buku Ekoteologi Nasional dan dihadiri Sekretaris Ditjen Bimas Hindu, kasubdit (kelembagaan, pemberdayaan umat, pendidikan tinggi), tim penyuluhan, serta anggota tim penulis.

Dalam sambutannya, Ketua Tim Penulisan Buku Ekoteologi Nasional menekankan bahwa ekoteologi merupakan perspektif lintas agama yang menitikberatkan pada tanggung jawab etis-spiritual terhadap alam. Oleh karena itu, diperlukan kontribusi dari setiap Ditjen Bimas, termasuk Bimas Hindu, agar substansi buku dapat mencerminkan kearifan masing-masing agama.

Sekretaris Ditjen Bimas Hindu dalam paparannya menekankan pentingnya nilai-nilai ekoteologi Hindu yang bersumber pada konsep Tri Hita Karana yaitu, harmoni manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Selain itu, ajaran Tat Twam Asi dan Vasudhaiva Kutumbhakam dipaparkan sebagai landasan kesadaran ekologis global.

Lebih lanjut, Sekretaris Ditjen Bimas Hindu menjelaskan praktik keagamaan Hindu yang ramah lingkungan, seperti peringatan Tumpek Uduh/Tumpek Wariga sebagai wujud penghormatan terhadap tumbuhan, serta gerakan Green Dharma Punia untuk Lingkungan yang menjadi strategi nyata Ditjen Bimas Hindu dalam menjaga kelestarian bumi.

Dalam sesi diskusi, tim penulis menekankan perlunya memuat praktik nyata umat Hindu yang telah berlangsung turun-temurun sebagai model ekoteologi. Usulan juga muncul dari akademisi agar kearifan lokal Hindu, seperti sistem subak, pengelolaan hutan, dan laut, turut dituliskan sebagai bukti nyata ekoteologi hidup dalam budaya Hindu.

Penyuluh Agama Hindu menambahkan bahwa materi ekoteologi Hindu sangat potensial dijadikan bahan literasi penyuluhan lintas agama untuk memperkuat kesadaran ekologis bersama.

Rapat menghasilkan kesepakatan bahwa kontribusi bab dari Ditjen Bimas Hindu dalam Buku Ekoteologi Nasional akan memuat lima pokok utama. Pertama, landasan filosofis yang bersumber dari ajaran Tri Hita Karana, Tat Twam Asi, dan Vasudhaiva Kutumbhakam sebagai pijakan spiritual dan etis umat Hindu dalam menjaga alam.

Kedua, ritual dan tradisi ekologis, seperti perayaan Nyepi, Tumpek Uduh, serta berbagai upacara Kerthi Segara, Wana, Danu, dan lainnya yang mencerminkan penghormatan umat Hindu terhadap alam semesta.

Ketiga, praktik sosial-budaya yang hidup di tengah masyarakat, antara lain sistem Subak, tradisi ngayah, dan adat desa pakraman yang menekankan keseimbangan serta kebersamaan dalam menjaga lingkungan.

Keempat, relevansi kontemporer, yakni kontribusi umat Hindu terhadap isu-isu global seperti perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Kelima, strategi implementasi melalui penguatan literasi ekoteologi dengan melibatkan penyuluh, lembaga pendidikan Hindu, serta pengembangan kampung moderasi beragama berbasis lingkungan.

Sebagai tindak lanjut, Ditjen Bimas Hindu menyatakan komitmennya untuk segera menyusun draft kontribusi bab ekoteologi. Hal ini mengingat draf Buku Ekoteologi Nasional sudah dijadwalkan masuk ke meja redaksi secara nasional, sehingga penyusunan konten harus rampung sesuai waktu yang ditentukan.


Berita Pusat LAINNYA